The Power of Menulis Catatan Harian di Seminari

Gambar: ist.


Terasvita.com Suatu waktu, sehabis makan malam di sebuah warung nasi goreng di pinggir Jl. Jembatan Serong, Jakarta Pusat, saya menerima pesan dari seorang teman Facebook, perempuan dengan rambut sebahu—sejauh yang tampak pada foto profilnya. Perlu dicatat: Kami hanya sebatas teman FB.

“Saya suka, Kk. Eh salah, saya suka baca tulisannya Kk di Terasvita, maksudnya.” Begitu bunyi pesannya. Ada emoticon love pula. Banyak sekali.

Saya tersenyum geli membacanya, kendati tidak untuk membuat hidung saya “mengembang”, toh sudah dari “pabriknya” memang mancung. “Terima kasih,” balasku seadanya, tanpa emoticon.

Tidak hanya sekali begitu. Pernah pula, sehabis mem-posting sebuah buku yang baru selesai saya baca dengan caption yang agak panjang di Facebook, saya mendapat kalimat senada; bukan di medsos, melainkan di tempat saya bekerja—Penerbit OBOR.

“Bagus yang Kraeng tulis itu di Facebook. Enak dibaca dan pesannya mudah dicerna.” Kira-kira begitu kalimat yang diucapkan dengan suara yang jelas dari mulut Bang Elnoy, pemred penerbit milik Konferensi Waligereja Indonesia itu.

Kali ini, saya harus bangga, Pembaca. Bagaimana tidak, apresiasi itu muncul dari seorang atasan. Anda pernah mengalaminya, bukan? Akan tetapi, rasa bangga itu bukan karena iming-iming akan hal-hal fana dari keberadaannya sebagai atasan, melainkan karena saya tahu bahwa Bang Elnoy memiliki kecakapan menulis yang luar biasa. Saya banyak belajar darinya.

Well, itu cerita kedua. Saya masih ingin menceritakan satu lagi. Waktunya berdekatan dengan cerita pertama. Juga medianya sama persis: Facebook. Tetapi, bukan dari sekadar seorang teman di medsos, melainkan dari seorang sahabat rohani: perempuan Katolik berkerudung.

“Nara, saya sering baca tulisanmu. Bagus sekali, selalu membuat saya membacanya hingga akhir. Apa sich rahasianya sampai bisa begitu?” Begitu pesannya, tanpa emoticon love, tetapi emoticon jempol yang jumlahnya nyaris menyamai jumlah suku bangsa pilihan.

Pembaca yang budiman, kalau yang pertama dan kedua itu menggoda saya untuk menepuk dada dan atau mengangkat dagu tinggi-tinggi, maka yang ketiga ini tidak demikian. Saya justru dibawa pada sebuah pergumulan: “Ia yah… Dari mana semua ini? Sebab, aku tak pandai menulis, apalagi untuk diberi gelar penulis.”

Dear Pembaca, katakan itu benar—kendati saya tidak begitu yakin—saya tahu itu tidaklah muncul tiba-tiba, ujug-ujug ada atau “terlempar” begitu saja-meminjam istilah filsuf kontemporer Jerman, Martin Heideger.

Tidak, Pembaca. Itu ada dasarnya. Lalu, dalam pergumulan mencari jawaban atas pertanyaan perempuan asal Sumatra Selatan itulah, saya seperti mengalami momen spiritual, yaitu saya terbawa pada akar terdalam dari apa yang paling saya senangi di samping mengolah si kulit bundar, yakni menulis.

Dalam momen spiritual itulah, saya menyusuri jalan pulang, yaitu ke almamater tercinta, Seminari Yohanes Paulus II, Labuan Bajo, NTT. Di sana ada tradisi menulis catatan harian—akar terdalam dari semua ini: Kemampuan untuk menjahit kata, yang oleh beberapa teman saya itu dinilai menarik untuk dibaca.

Begini, saya bersama 79 orang teman seangkatan tiba di tempat Dewi Saraswati itu pada Juli 2008. Kami dari beragam latar belakang: ada dari yang dari kota dan lebih banyak yang dari kampung; ada yang anak pegawai dan ada yang anak petani desa seperti saya. Di sana melebur di bawah atap yang sama.

Usai satu minggu menjalani masa orientasi, kami lalu masuk dalam pembinaan yang serius. Satu per satu guru-guru masuk ke kelas dan mengajar kami sesuai mata pelajaran yang diampu masing-masing. Salah satu guru yang diceritakan angkatan terdahulu sebagai guru killer adalah TJ. 

Konon, Pak TJ tak segan-segan memberi nilai E. Namun—beruntung—dia juga punya anak cewek kembar yang seumuran dengan kami. Keterangan terakhir ini menjadi good news untuk beberapa calon “don juan” di angkatan kami. Mau disebut? Janganlah yah…

Kemudian, pada sebuah pertemuan mingguan—biasanya tiap malam minggu—dua pembina kelas kami, Romo Emanuel Haru dan (Fr.) Romo Frans Nala, masuk ke kelas. Mereka memang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi kami secara khusus. Apa-apa yang terjadi atas kami ber-delapan puluh itu, kira-kira mereka berdualah yang pertama kali ditanya atau dimintai keterangan.

Tidak hanya itu sebenarnya, tetapi juga suara mereka berdualah yang paling menentukan nasib kami di akhir semester: bertahan atau dicedok. Karena begini, kendati panggilan yang kami jalani itu memang pertama-tama inisiatif Allah, tetapi juga Allah bekerja sama dengan manusia untuk memisahkan mana gandum dan mana ilalang (bdk. Matius 13:24-30).

Back to cerita pertemuan mingguan pertama itu. Salah satu yang diminta dari kami dalam pertemuan itu—tidak ada tawar-menawar—adalah membuat catatan harian.

“Adik-adik, setiap hari kalian harus menulis buku harian dan akhir bulan dikumpulkan,” kata Romo Eman, sapaannya. Frater Frans yang duduk di sampingnya mengangguk tanda mereka satu suara.

“Ole… ape kole buku harian hitu ge?” tanya FK, teman dudukku, dengan logat Kolang, daerah asalnya.

“Kita tulis kita punya pengalaman sehari-hari dari pagi sampai malam,” kataku menjelaskan.

“Ohh… padahal itu doang,” balas FK.

Pembaca, namanya tugas tidak selalu dengan hati riang gembira diterima. Kadang menjengkelkan bila terlalu banyak. Apalagi saat usia kami yang masih ingin lebih banyak bermain atau bersenang-senang daripada berpeluh-peluh menyiapkan masa depan yang lebih cerah seperti itu. Kalau boleh memilih, saya akan memilih berlama-lama di lapangan bola sepak bersama teman-teman, daripada duduk menulis pengalaman harian seperti yang diminta itu.

“Anda ke sini bukan untuk menjadi pemain bola, tetapi untuk menjadi imam; kalau menjadi pemain bola bukan di sini tempatnya.” Kira-kira begitu jawaban yang saya terima kalau waktu itu saya menyatakan keberatan dengan tugas tersebut.

Atau mungkin jawaban yang lebih halus: “Yah… ada saatnya main bola, toh itu penting; tetapi ada saatnya pula menulis buku harian; ini lebih penting untuk masa depan Anda.”

Intinya, saya harus patuh dengan tugas tersebut. Sebenarnya, ada kegusaran-kegusaran kecil dalam hati. Riak-riak pembakangan pun mengemuka, misalnya, dalam bentuk menulis sesukanya atau sekadar karena tuntutan; menulis tanpa kesungguhan dan kedalaman.

Waktu pun terus berjalan. Padatnya aktivitas di seminari dan juga keusilan-keusialan beberapa teman seangkatan seakan-akan menarikku dari “pusara” rasa rindu akan rumah. Doa, belajar, kerja, makan, tidur, olahhraga, rekreasi, menulis buku harian, dll adalah aneka rutinitas yang terjadwal dengan baik setiap hari.

Saya menulis buku harian saya. Pada hari-hari awal, nyaris saya tidak bisa menulis apa-apa. Selalu mengalami kebuntuan untuk membahasakan dalam tulisan apa-apa yang saya alami. Maklumlah, saya hanyalah anak kampung dari ujung utara Manggarai Barat. Bahasa Indonesia belum lancar, karena di kampung tidak ada akses terhadap bahan bacaan. Bukankah prasyarat menulis adalah membaca? Buku yang kami baca ya “buku alam”, selebihnya kami dapat informasi, misalnya tentang artis dan pemain bola, dari sampul buku tulis.

Lalu tibalah saatnya kami mengumpulkan catatan hari itu kepada dua pembina kelas itu. Saya melihat teman-teman saya tanpa ragu mengumpulkan apa yang mereka tulis tentang aktivitas mereka sehari-hari. Saya cukup yakin, tidak ada yang menulis peristiwa “lompat pagar cari nasi goreng malam-malam di seputaran Labuan Bajo.”

Soal itu, begini: untuk menghindari hal-hal yang berujung cedok di akhir semester, anak-anak seusiaku kala itu tidak harus belajar di Cambridge Univercity sana, tempat sekolah para penemu besar dunia, untuk menemukan cara-cara jitu menghindari mata elang para pembina. Pahamlah yah…

Pembaca yang budiman, sebenarnya yang mengagumkan dari tradisi menulis buku harian itu bukanlah bagaimana kami merefleksikan peristiwa harian masing-masing—karena dengan dibaca oleh pembina, maka banyak yang menjadi sekadar permainan kata-kata—melainkan ketika buku harian itu dikembalikan usai dibaca oleh Romo Eman dan Frater Frans.

Apa sebenarnya terjadi? Begitu pertanyaan Anda bukan? Begini, di dalam buku harian kami itu—ketika dikembalikan—tidak sedikit menemukan kalimat-kalimat ini: “L*e, mana subjek kalimat ini?”; “L*e, bedakan imbuhan dan kata depan”; “Mata olo hau…. Molor koe tulis,” dan banyak lagi.

Kami membaca tulisan-tulisan itu dengan penuh tawa; merecehkan apa yang sebenarnya serius untuk kami perbaiki. Tetapi, bagi saya, coretan dan kalimat-kalimat yang kami dapatkan menunjukkan bahwa dua Pembina kelas kami itu sungguh-sungguh guru. Mereka setia dan betah membaca tulisan kami yang tidak jelas subjek dan predikatnya, belum lagi huruf beberapa teman termasuk penulis cerita ini, yang seperti cakar ayam.

Ada sebuah kisah menarik. Seorang teman angkatan kami, TA—inisialnya, memulai kalimat di buku hariannya selalu menggunakan frase “setelah itu”: “Hari ini saya bangun. Setelah itu, saya mencuci muka. Setelah itu, saya pergi ke kapel. Setelah itu, saya sarapan. Setelah itu, saya masuk ke kelas… dst” sampai selesai aktivitasnya pada malam hari. Ketika buku hariannya dikembalikan, dia mendapat kata sakti ini: L*e…. Lalu, ada garis silang dari awal sampai akhir. Kami yang lain ikut menertawakannya…menyedihkan sich. Tetapi, begitulah kami…

Pembaca, kata-kata yang tampak tak ramah untuk kaum moralis itu, kami tanggapi sebagai guyonan edukatifkurang lebih begitu bahasa kerennya. Bagi kami, sekurang-kurangnya penulis cerita ini, melihat bahwa begitulah cara Romo Eman mengingatkan kami yang masih kacau-balau dalam menulis. Ketekunannya memeriksa catatan harian kami itu patut diajungi jempol. Dia punya mata elang melihat detail-detail kecil dari kesalahan bahasa tulisan kami sekaligus punya hati yang lapang untuk mengoreksinya. Bukankah itu ciri-ciri seorang guru sejati, Pembaca?

Well, saya kurang tahu bagaimana tanggapan TA usai membaca koreksian dari Romo Eman dan membuatnya ditertawai oleh satu angkatan; apakah itu menjadi semacam titik balik untuk menekuni bagaimana menulis yang baik? TA dan sejarahnya sendiri yang bisa menjawabnya secara pasti.

Akan tetapi, bagi saya, catatan-catatan kecil dari Romo berambut kriwil itu dalam buku harian saya membantu untuk memahami bagaimana menulis kalimat yang baik dan benar; melecuti semangat untuk mendalami bahasa Indonesia dasar.

Terutama juga, setelah kami mengetahui kesalahan kami dalam buku harian itu, kami mendapat asupan untuk diperbaiki melalui pelajaran bahasa Indonesia yang kami dapatkan dari Frater Frans. Dengan keluasan dan kedalaman pengetahuannya, ia setia mengajar tentang tanda baca, frase, kalimat, paragraf, dll. Selain itu, iklim di seminari sangat mendukung untuk bertumbuh mekarnya semangat dan kecakapan menulis.

Begitu saja, Pembaca. Dulu, berangkali tidak terlalu disadari maanfaatnya, tetapi kemudian ketika di dunia kerja, beribu-ribu terima kasih untuk tradisi sederhana itu; kesanggupan menjahit kata yang ada pada kami, kalau ditanya asal-usulnya, tidak bisa lain selain dari tradisi sederhana ini—yang dalam perjalanan waktu dibentur sana-sini, sehingga terbentuklah apa yang terus kami upaya berkembang dan berbuah: menulis.

Hal ini sekiranya juga diamini beberapa teman angkatan kami, seperti Har Yansen SVD, Joan Udu, Albertus Dino, Eugen Sardono SMM, Rudi Haryatno, dll. Selepas dari Semyopal II pada 2012 silam, nama mereka wara-wiri di koran dan media online baik nasional maupun lokal, seperti Kompas, Media Indonesia, Flores Pos, Pos Kupang, dll.***

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di Luxsemyopal.com. Untuk kepentingan dokumen pribadi dan menjangkau pembaca yang lebih luas, kami menerbitkannya kembali di media ini.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel