Kisah di Lampu Merah Cengkareng: Sepasang Kekasih Tak Kukenal yang Baik Hati

Ilustrasi (Pixaby) 

Terasvita.com
– Pada Minggu sore yang hujan, 7 Maret 2021, saya meluncur ke Utan Jati, Jakarta Barat. Saya ke tempat itu untuk bermain futsal dengan beberapa saudara seperantauan di Metropolitan dari wilayah Rego, Macang Pacar, NTT.

Di punggungku, saya letakkan sebuah tas berukuran sedang, di dalamnya ada sepatu, kaus kaki, handphone, dan dompet. Tidak ada lagi selain barang-barang itu.

Kendati hujan, perjalanan itu terasa menyenangkan: tidak macet, jalanan lengang. Kecepatan Blade yang kukendarai sekitar 50-60 kilo meter per jam, tergolong di atas rata-rata untukku yang tak terlalu pandai ugal-ugalan di jalan.

Di Pesing, Jakarta Barat, hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik. Saya melepaskan jas hujan dari tubuhku. Kemudian, saya melanjutkan kembali perjalanan. Laju kendaraanku masih sama. Tak ada yang istimewa, bukan?

Setibanya di Lampu Merah Cengkareng, sekitar tiga kilo meter dari tempat tujuan saya, motorku mogok. Saya pun menepi ke bahu jalan. Saya mencoba berulangkali menghidupkan motor yang kubeli pada 3 tahun lalu, namun sia-sia.

Dengan demikian, tak ada pilihan lain selain mendorongnya ke bengkel terdekat. Kesempatan untuk menghabiskan sore di penghujung pekan dengan futsal pun pupus.

“Bang, kenapa motornya?” begitu suara yang sayup-sayup kudengar di antara reriuh bising suara kendaraan di tempat itu.

Saya menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata seorang lelaki. Perawakannya kurus, kulit putihnya dibalut dengan kemeja kotak-kotak. Ia tak sendirian. Ada seorang cewek di belakangnya. Ternyata kekasihnya.

Rupanya, mereka pasangan muda. Sang lelaki menyapa perempuan itu “mama”, dan sebaliknya perempuan itu menyapa laki-laki itu dengan sebutan “papa”. Mereka mengucapkan kata-kata itu dengan penuh mesra. Mengagumkan untukku yang masih melajang ini.

“Gak tahu juga, Bang. Tiba-tiba mogok,” balasku seadanya.

Lelaki dan kekasihnya itu menepikan motor mereka ke bahu jalan, persis di belakang motorku. Lalu, lelaki yang tak sempat kutanyakan namanya itu mengecek motorku.

“Businya dan kaburatornya banjir, Bang,” kata dia. Aku hanya mengangguk, sebab aku seorang buta bidang mekanika.

Lalu, ia dengan cekatan membetulkannya. Kekasihnya yang tampak anggun dengan jilbabnya ikut membantu memegang obeng dan beberapa peralatan lain.

Rupanya lelaki itu seorang pekerja bengkel. Selain tampak dari peralatan yang mereka bawa, tetapi juga karena ia dengan cekatan membetulkan motorku yang nyaris butut itu. Hanya sekitar tiga puluh menit kemudian, motorku kembali baik.

“Sudah, Bang. Sudah bisa jalan,” kata lelaki itu. Kekasihnya menggangguk.

“Berapa biayanya, Bang?” tanyaku.

“Gak usah, Bang. Aku hanya membantu,” jawab lelaki itu. Kekasihnya lagi-lagi ikut mengangguk dan tersenyum.

Sepasang kekasih itu lalu pamit pergi. Entah ke mana tujuan mereka, saya tak sempat menanyakan. Kepada mereka, orang baik hati itu, saya hanya bisa mengucap-tulus sepatah kata tua yang tak pernah kehilangan arti ini: Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Tiga menit saya terpesona dengan kebaikan sepasang kekasih yang tak kukenal itu. Bingung mau mengucapkan apa. Lalu, saya melanjutkan perjalanan ke tempat tujuanku. Dan, ternyata masih bisa menikmati olahraga futsal sore itu.

Selama di atas roda dan saat bermain futsal pun, pikiranku masih tersandra oleh kebaikan sepasang kekasih itu: “Mereka tak kukenal, tetapi mengapa mereka begitu baik denganku: membentulkan kendaraanku tanpa minta sepeser pun?”

Litani pertanyaan itu masih panjang: Apakah cinta yang bermekar di antara keduanya membuat mereka begitu baik dengan orang lain sepertiku? Apa kekuatan mereka, sehingga mereka begitu baik dengan orang yang mereka tak kenal sekalipun? 

Tak ada jawaban yang pasti dari semua pertanyaan itu. Hanya yang pasti adalah sepasang kekasih itu datang di saat yang tepat dan memahat kenangan berarti dalam hidupku.

Sekadar Penutup

Saya bukan orang baik. Hanya, di catatan harianku pada 11 tahun lalu, saya pernah menulis begini: “Saya ingin jadi orang baik.” Catatan itu, dalam perjalanan waktu, tak pernah sungguh-sungguh menjadi peristiwa hidup. Saya kerap alpa dan gagal untuk berbagi kebaikan kepada pengemis lapar di pinggiran jalan, pengamen di lampu merah, dan kepada teman yang membutuhkan bantuan.

Seperti kemarin, Sabtu 6 Maret 2021, seorang saudara begitu kesal denganku karena saya tak mengindahkan permintaannya membeli sebotol bir untuk sebuah acara pada hari ini (Minggu, 7 Maret 2021-red). Dan banyak lagi contoh lain bahwa betapa niat baik selalu berangkulan dengan kerapuhan insani (bdk. Tano Shirani: 2016, hlm. 9).

Sebuah ironi memang: Di sepanjang jalan hidup ini—hingga di lorong-lorong gelapnya pun—saya kerap menjumpai orang baik dan mengalami kebaikan dari banyak orang. Sepasang kekasih yang tak kukenal itu entah ke berapa, namun aku masih gagal dan gagap menjadi baik.

Musafir

Previous article
Next article

3 Comments to

  1. Wah. .... mereka sangat luar biasa 👍

    ReplyDelete
  2. Wah. .... mereka sangat luar biasa 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia, Enu. Mereka baik sekali. Di jalanan tak kurang orang baik ternyata.

      Delete

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel