Selamat Jalan, Tuang Peter OFM! Kesaksian Hidupmu Amat Mengagumkan

Peter C. Aman OFM. Foto: Ist. 

Terasvita.com - “Para saudara, mohon doa untuk Pater Peter Aman yang baru saja dilarikan ke RS Panti Rapih, karena sesak napas yang cukup akut.” demikian pesan yang diteruskan Saudara Fendy Marut OFM kepada saya, dari grup internal mereka, tepat pukul 21.27 WIB, Selasa 15 Desember.

“Doakan untuk beliau,” tambah Fendy, seorang mahasiswa sekaligus saudara setarekat Tuang Peter.

“Ok e, Bro,” balasku, “semoga Tuang Peter cepat pulih”. Tak lama kemudian, sekitar pukul. 21.48 WIB, saya kembali mendapat pesan dari Fendy. 

“Tuang Peter sudah meninggal,” kata Fendy dengan emoticon sedih.

Saya langsung menghempaskan tubuh ke kasur yang terletak di samping meja belajarku. Pikiran dan perasaan saya bercampur aduk. Hanya bisa mengirim emoticon menangis untuk balas pesan Fendy. Bingung mau omong apa.

Iya. Sulit untuk mengikhlaskan Tuang Peter pergi. Dia orang baik dan hebat. Perhatian dan cintanya amat luar biasa. Keteladanan hidupnya sebagai seorang fransiskan amat otentik. Dia seorang gembala umat, dosen, pejuang keadilan, pejuang perdamaian, dan pejuang keutuhan ciptaan.

Yang sering ia ungkapkan dalam pertemuan-pertemuan JPIC (Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhanan Ciptaan OFM Indonesia), adalah “JPIC itu DNA kita.” Iya. Tuang Peter menghidupi ucapannya itu.

Secara pribadi, saya mengenal Tuang Peter sejak tahun 2012. Mula-mula dari Taufan, majalah intern OFM Indonesia, kemudian perjumpaan intens ketika di Depok. Saat menjalani novisiat. Tuang Peter mengajar mata kuliah Islamologi.

Perjumpaan semakin intens lagi ketika saya kuliah di Jakarta. Di kampus sebagai mahasiswa beliau. Juga saya aktif di Gita Sang Surya, majalah animasi milik JPIC OFM Indonesia, di mana Tuang Peter sebagai pemimpin redaksi sekaligus Direktur JPIC OFM Indonesia.

Pun ketika saya keluar dari OFM pada 2016 silam. Saya tetap sering ke kantor Tuang Peter di Galur, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Sekadar untuk datang makan bahkan. Tuang Peter dan saudara-saudara di sana selalu welcome.

Di akhir masa kuliah saya di STF Driyarkara, saya memintanya menjadi pembimbing skripsi. Dia menyanggupi dengan senang hati. Selama itu pula, dia selalu memberi motivasi. Tidak pernah membuat ribet. Bahkan, dia yang selalu mengingatkan saya untuk konsultasi soal kemajuan skripsi saya. Semuanya pun berjalan lancar. Hingga saya menyelesaikannya tepat waktu dan hasil yang memuaskan.

Lalu, ketika September 2018, saya mulai bekerja sebagai staf di JPIC OFM, kebersamaan dengan Tuang Peter pun semakin sering. Di meja makan. Di ruang kerjanya sambil menikmati Lemonchelo_minuman khas Italia. Di kantor. Dalam pertemuan-pertemuan. Di pantai saat rekreasi bersama. Dan lain-lain.

Dalam urusan pekerjaan, Tuang Peter orang yang sangat konsisten dan disiplin. Sebagai pengurus Gita Sang Surya, saya tidak mengalami kewalahan. Tuang Peter selalu memberi support. Ia memudahkan saya dalam menghubungi narasumber dengan jaringannya yang begitu luas. Naskah Editorial dan Inspirasi, dua kolom yang ia asuh, selalu diberi tepat waktu.

Di meja makan, Tuang Peter selalu hadir dengan cerita-cerita bernas. Satu dua tiga kali dengan cerita-cerita jenaka. Dia juga tidak pernah mengeluh dengan menu-menu yang tersedia. Setelah makan pun, dia selalu ikut membereskan ruang makan.

Dalam beberapa kesempatan, saya beruntung sekali hanya makan berdua dengan Tuang Peter. Sambil mencicipi makanan, banyak hal yang ia ceritakan. Mulai dari mengurus pengungsi di Tim-Tim. Kuliah Di Roma. Kasus pembunuhan petani di Colol. Mengadvokasi tambang di NTT. Lalu, nyerempet ke cerita-cerita politik di Tanah Air.

Masih banyak cerita tentang Tuang Peter. Kendati dia tidak lagi bisa dijangkau oleh tatapan mata, namun segala tentangnya mengekal dalam kenangan. Akan selalu diceritakan. Kapan saja. Dan di mana saja.

“Tuang Peter. Ite ata diá keta. Do keta diá dite. De di’a ngger le ranga de Jari Dedek. Nuk laku di’a, toing, agu wintuk dite,” itu sepatah kalimat yang saya rangkai dengan terbata-bata di laman FB saya, semalam, dua jam setelah kabar kepergian Tuang Peter.

Selamat Jalan, Tuang Peter, Maestro Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan. Bahagia di sana. Dan di sini masih tertatih-tatih mengikhlaskan dikau pergi untuk selamanya. Masih akan ada catatan tentang kesaksian hidupmu yang mengagumkan.

Rian Safiomurid yang engkau tinggalkan.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel