HEADLINE NEWS

Paus Fransiskus Mengajak Umat Katolik Hidup dengan “Logika Allah”

Paus Franssiskus. Foto: istimewa 

Terasvita.com - Paus Fransiskus mengajak umat Katolik sejagat untuk hidup dengan "logika Allah", yakni mengambil bagian dalam tanggung jawab untuk kesejahteraan orang lain.

Hal itu disampaikan Paus Fransiskus dalam katekese yang biasa disampaikan sebelum doa Angelus pada 2 Agustus 2020, di Plataran Basilika St. Petrus, Roma, Italia. Ia merenungkan Injil untuk Minggu, Pekan Biasa XVIII, yaitu kisah penggandaan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan 5.000 orang (Matius 14:13-21).
Paus mengutip ayat 15 dan 16 dari perikop tersebut: Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata:  Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka membeli makan di desa-desa. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!"
“Yesus ingin menggunakan situasi tersebut untuk mendidik murid-murid-Nya, baik yang dulu maupun yang sekarang, tentang logika Allah," kata paus dikutip dari kantor pers Takhta Suci.
Logika Allah yang kita lihat di sini, lanjut Paus Fransiskus, adalah mengambil tanggung jawab terhadap orang lain; logika tidak mencuci tangan; logika tidak melihat ke arah lain.
Dengan demikian, ujar penerus Paus Benediktus XVI itu, "'Biarkan mereka berjuang sendirian' seharusnya tidak masuk ke dalam kosakata kristiani." 
Paus Fransiskus menunjukkan bahwa setelah para murid memberikan kepada Yesus roti lima dan dua ikan, Yesus melakukan mukjizat yang memungkinkan setiap orang untuk makan sebanyak yang mereka inginkan.
Paus berkata: “Dengan mukjizat ini, Yesus menunjukkan kuasa-Nya; bukan dengan cara yang spektakuler tetapi sebagai tanda kasih dari kemurahan hati Allah Bapa terhadap anak-anak-Nya yang letih dan membutuhkan makanan. Dia masuk dalam kehidupan umat-Nya, Dia memahami kelelahan dan keterbatasan umat-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan siapa pun hilang, atau kalah: Dia memelihara umat-Nya dengan firman-Nya dan menyediakan makanan dalam jumlah banyak untuk dimakan.”
Berbicara dari jendela yang menghadap Lapangan Santo Petrus, Paus menunjukkan hubungan antara mukjizat penggandaan roti dan Ekaristi.
“Patut dicatat betapa dekatnya kaitan antara roti Ekaristi, makanan untuk kehidupan abadi, dan roti harian, yang diperlukan untuk kehidupan duniawi,” pungkasnya.
Paus berkata, “Sebelum menawarkan diri-Nya kepada Bapa sebagai Roti keselamatan, Yesus memastikan ada makanan bagi mereka yang mengikuti-Nya dan yang, untuk bersama-sama dengan-Nya, lupa menyediakan perbekalan. Kadang-kadang, antara yang spiritual dan material bertentangan, tetapi pada kenyataannya spiritualisme, seperti materialisme, asing bagi Alkitab. Itu bukan bahasa Alkitab.”
Paus melanjutkan: "Belas kasihan dan kelembutan yang ditunjukkan Yesus kepada orang banyak bukanlah sentimentalitas, melainkan manifestasi konkret dari cinta yang peduli pada orang-orang yang membutuhkan."
Paus mengatakan bahwa umat Katolik harus menyambut Ekaristi dengan sikap belas kasih sama seperti yang ditunjukkan Yesus saat memberi makan kepada 5.000 orang.
“Belas kasihan bukanlah soal material semata; kasih sayang sejati adalah 'patire con' (untuk menderita bersama), untuk meletakkan kesedihan orang lain pada diri kita sendiri," kata Paus.
“Mungkin baik bagi kita hari ini untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah saya merasa kasihan ketika saya membaca berita tentang perang, tentang kelaparan, tentang pandemi? Dan begitu begitu banyak hal lain...”
“Apakah saya berbelas kasih terhadap orang-orang itu? Apakah saya berbelas kasih terhadap orang-orang di dekat saya? Apakah saya mampu ikut menderita bersama mereka, atau apakah saya melihat ke arah lain, atau membiarkan 'mereka berjuang sendirian'?"
"Mari kita tidak melupakan kata 'belas kasih' ini, orang yang percaya pada kasih Bapa yang tak terbatas, berarti  berani untuk," ajak Paus berpaspor Argentina itu.
Setelah melafalkan Angelus, paus menyatakan kesedihannya atas serangan bom api terhadap sebuah katedral di Nikaragua pada 31 Juli.
Dia juga menyoroti Pengampunan Assisi, yang dirayakan pada 1-2 Agustus. Pengampunan Assisi atau Indulgensi Porziuncola adalah indulgensi penuh yang dapat diperoleh umat Katolik secara bersama.
Paus menggambarkan indulgensi itu sebagai hadiah spiritual yang diterima Santo Fransiskus Assisi dari Allah melalui perantaraan Perawan Maria.
Paus Fransiskus mengungkapkan persyaratan untuk mendapatkan indulgensi itu, yakni menerima absolusi dalam Sakramen Tobat, mengikuti  Ekaristi di tempat yang sama dengan pengakuan dosa, mengunjungi sebuah paroki atau gereja Fransiskan, mendaraskan Syahadat dan Bapa Kami, dan berdoa untuk paus.
Dia berkata: "Betapa pentingnya untuk selalu menempatkan pengampunan Tuhan, yang 'menghasilkan surga' di dalam kita dan di sekitar kita, kembali di pusat, yaitu pengampunan yang datang dari hati Tuhan yang penuh belas kasihan!"
Melihat ke arah para peziarah yang berkumpul di alun-alun, paus menyambut sekelompok dari Palosco-Lombardia, orang-orang Brasil yang memegang bendera nasional mereka, dan mereka yang berdevosi kepada Maria Imaculata.
Dia berkata bahwa dia berharap bahwa dalam beberapa hari mendatang semua orang akan dapat beristirahat, menghabiskan waktu di alam, dan menjadi segar kembali secara rohani.
“Pada saat yang sama saya berharap bahwa, dengan komitmen kerja sama dari semua pemimpin politik dan ekonomi, pekerjaan dapat dilanjutkan: keluarga dan masyarakat tidak dapat melanjutkan hidup tanpa pekerjaan. Mari kita doakan ini,” katanya.
“Ini dan akan menjadi masalah setelah pandemi: kemiskinan dan pengangguran. Solidaritas dan kreativitas sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini," tutupnya. )***
Rian Safio. Sumber: Catholic News Agency

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *