HEADLINE NEWS

Pater Tetteroo OFM: Menyapa Umat dengan Senyum


Pater Tetteroo OFM berjubah coklat kehitam-hitaman berpose bersama Presiden ke-2 RI, H. Soeharto dan beberapa biarawati lainnya. Foto: dokumen penulis.
Terasvita.com - Senyum tulus selalu tersaji anggun di wajahnya. Orang-orang yang menjumpainya pun mengalami kegembiraan, merasa diterima sebagai saudara atau saudari. Itulah kesan umat di Nabire, Papua tentang Pater Tetteroo OFM, kelahiran Den Hoorn Gem, Belanda, 7 Februari 1912.
Nama kecilnya Thomas. Akrab dipanggil Tom. Ia menamatkan Gymnasium di Venray pada 1929. Setamat dari Gymnasium, Tom muda masuk biara Fransiskan di Belanda pada 7 September1929. Mengikuit tradisi sehat Gereja sebelum KV II, yaitu seorang yang masuk biara harus menggunakan nama baru, Tom memilih nama biaranya Philipus sehingga di kemudian hari dikenal dengan Pater Philipus Tetteroo OFM.
Pendidikan Pater Tetteroo OFM tidak mengalami hambatan. Ia mulai mengeluti ilmu filsafat di Venray pada 1930 sampai 1932, kemudian melanjutkan kuliah ilmu teologi di Alverna dan Weert dari tahun 1932 sampai 1936. Antara waktu tersebut, pada 1933 ia mengikrarkan kaul kekal. Lalu, setelah proses pendidikannya selesai, ia ditahbiskan menjadi imam pada 22 Maret 1936 di Weert.
Bumi Nusantara Memanggilnya
Setahun pasca ditahbiskan, ia diutus oleh pimpinannya yang dalam tradisi Fransiskan disebut minister (pelayan) ke bumi Nusantara, Indonesia. Tetteroo OFM tiba di Batavia (sekarang Jakarta) pada 24 Januari 1937.
Selang tiga bulan kemudian, Pater Tetteroo OFM menginjakkan kakinya di bumi Cenderawasih, 18 Maret 1837. Ia menjadi salah satu misionari pertama yang hendak menggarami bumi Papua dengan Injil dalam semangat Fransiskan.
Mula-mula ia bertugas di daerah Kepala Burung, yakni Babo (8 Mei 1942-22 Agustus 1945). Setelah Jepang kalah perang, para misionaris Katolik yang ditangkap dan dipenjarakan akhirnya dibebaskan. Pater Tetteroo OFM kembali lagi ke Babo pada 17 Februari 1946 sampai 17 Juli 1947.
Setelah berlibur ke Belanda sehabis bertugas di Babo, mulai 12 Juni 1948, Pater Tetteroo OFM bertugas di Keerom dengan pusat di Wembi. Pada 7 Mei 195, ia sempat ke Sydney, Australia, untuk perawatan mata. Sekembalinya dari Australia, tepatnya pada perayaan Natal tahun 1951, Pater Tetteroo OFM dipindahkan dari Wembi ke Arso.
Selama di Arso, ada dua peristiwa penting yang terjadi, yakni diadakannya Krisma pada 1952 dan mengikuti suatu konferensi Unesco di Bombay pada Desember1952. Pada 8 Oktober 1953 ia menyelesaikan tugas di Arso dan diutus ke Hollandia Binen (sekarang Abepura), menjadi sekretaris Mgr. Oscar Cremers OFM sampai 1 Maret 1955. Saat bertugas sebagai sekretaris Mgr. Cremers Cremers OFM untuk sementara waktu, yakni dari 26 Januari sampai 17 Mei 1954 ia menggantikan tugas sang gembala.
Pada 1 Maret 1955 sampai 16 Januari 1958, Pater Tetteroo OFM bertugas Hollandia Haven (sekarang Jayapura kota) sebagai pastor paroki. Sejak 20 Juli 1956, Pater Tetteroo OFM diberi kepercayaan juga untuk menjadi Vikarius Delegatus dan Provincaris. Pater Tetteroo OFM juga diminta untuk menjadi pengajar di seminari dan mengajar bahasa Jerman di SMA.
Pada 22 Juli 1958 Pater Tetteroo OFM kembali mengambil cuti tahunan ke Belanda. Setelah masa cutinya selesai, ia kembali ke Papua pada 20 April 1963. Pada tahun yang sama ia menjadi pastor untuk dok V dan Argapura. Tugas ini diembannya sampai 16 November 1967.
Dari Jayapura, Pater Tetteroo OFM dipindahkan ke Enarotali sejak 28 November 1967 sampai April 1970. Lalu, sejak 1 Oktober 1970 sampai 1 Maret ia menjadi pastor di Deyai.
Dari Deyai, Pater Tetteroo OFM mendapat tugas di beberapa tempat dalam jangka waktu yang relatif singkat, seperti Nabire (Desember 1979 -Juli 1981), Sentani (27 Juli 1981-12 Juli 1982), Moanemani (13 Juli 1982-2 Januari 1984), Mabilabol (20 Januari 1984-6 Oktober 1984), dan Abmisibil (selama dua bulan sampai selesai Natal 1984). Kemudian, ia kembali bertugas di Moanemani sampai pension pada 1987.
Purna Karya Sang Pastor Murah Senyum
Pada 24 November 1987, Pater Tetteroo OFM menikmati masa purna tugas di Nabire. Selama di sana, Pater Tetteroo OFM tetap bersedia untuk mengisi kekosongan-kekosongan pelayan dan asistensi-asistensi pada saat Natal-Paskah serta pesta-pesta gerejawi lainnya.
Senyum dan keterbukaannya yang khas masih terawat hingga tua, tak lekang oleh waktu. “Kalau Pater Tetteroo OFM keluar rumah senantiasa ditemani oleh bebek suzukinya (motor) dan ia orang yang suka menyapa umat dengan khas senyumannya,” kata seorang umat di Nabire, suatu waktu.
Pada usianya yang ke-80 dan usia imamatnya ke-55 tahun pada 7 Februari 1992, Pater Tetteroo OFM memutuskan untuk kembali ke Belanda. Ia pun berpamitan kepada umat yang pernah dilayaninya, antara lain di Deyai, Moanemani, dan Enarotali.
Pada 8 Maret 1992, Pater Tetteroo OFM mengadakan acara perpisahan bersama saudara Fransiskan di Biara Fransiskus, APO, Jayapura. Keesokannya, seraya mengucapkan pamit untuk bumi Cenderawasih, pesawat mengantarnya kembali ke haribaan tanah kelahirannya di negeri Kincir Angin, Belanda.
Ia menghabiskan sisa hidupnya di Belanda. Setelah empat belah tahun kepulangannya ke tanah kelahirannya, pada 15 Desember 2006 silam, ia dijemput saudari maut badani. Ia menyelesaikan peziarahanya selama 94 tahun di bumi dan kembali pulang ke kehidupan abadi dalam persekutuan kasih dengan Allah Tritunggal di surga, Tanah Air Abadi.
Sdr. Vredigando Engelberto Namsa OFM, biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua- tinggal di Papua.


Reverensi:
Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012.
----------, “Fransiskan Masuk Papua Jilid II”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2016.
Necrologium Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, 2020.

“Tifa Jaya”, No. 227 Desember 1992.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *