HEADLINE NEWS

Antara Orangtua dan Anak dalam Sekolah yang Bernama "Keluarga"


Gambar: istimewa
Terasvita.com - Keluarga merupakan tempat pertama dan terutama untuk mendidik anak. Keluarga berperan sebagai sekolah cinta. Keluarga sebagai locus (tempat) untuk menghidupkan cinta yang sebenarnya antara orangtua dan anak-anak. Karena itu, setiap tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Harganas pertama kali diperingati pada 1933 di Lampung. Lalu, pada 2014 diputuskan bahwa Harganas menjadi hari penting yang harus dirayakan setiap tahun dengan meriah.
Pada tahun ini, Kota Padang telah ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan Harganas. Akan tetapi, pandemi Covid-19 mengharuskan perayaan ini berlangsung secara virtual (online). Harganas tahun ini menghendaki agar keluarga berkarakter beragama, berbudaya, dan produktif. Hal ini dipandang perlu karena memang keluarga menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Orangtua harus memiliki pengetahuan yang sama bahwa keluarga akan membentuk masyarakat, bangsa, dan dunia. Jika demikian, maka keluarga harus sungguh-sungguh menjalankan peran sebagai laboratorium pembentukan diri anak sebagai cikal bakal terbentuknya komunitas masyarakat, bangsa, dan dunia. 
Dalam alur pemikiran yang sama, HIDUP TV menyelenggarakan talkshow bertajuk “Keluarga: Sekolah Cinta”. Talkshow ini mendiskusikan tentang bagaimana cara mendidik anak supaya memiliki karakter dan moralitas yang baik, apa pentingnya peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak, dan bagaimana orangtua bisa membimbing anak menemukan panggilan hidup. Semua yang terlibat dalam acara talkshow ini sepakat bahwa jika keluarga-keluarga bisa menjadi “sekolah cinta”, maka dunia kehidupan ini juga bisa menjadi penuh dengan cinta, damai, dan harmonis.
Sekolah Cinta
Setiap keluarga mempunyai tanggung jawab moral untuk mengayomi anak-anak sebagai aset dan pemilik masa depan bangsa.  Masa depan adalah milik anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang. Masa depan anak sangat ditentukan oleh bentuk pendampingan dan bimbingan yang dilaksanakan dalam keluarga. Keluarga sebagai sekolah cinta mengharuskan orangtua untuk mendidik dan mengarahkan anak dalam semangat cinta, demokratis, bukan bersifat represif atau otoriter.
Dalam pandangan Gereja Katolik, perkawinan dan keluarga adalah sebuah sekolah cinta. Istilah ini dipakai mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang berjudul “Familiaris Consortio” (Persekutuan Keluarga) sebagai sebuah khotbah apostolik pasca-sinode yang diumumkan secara resmi pada 22 November 1981.
Dalam surat apostolik tersebut ditegaskan bahwa cinta yang ada dalam diri setiap anggota keluarga ditaburkan oleh Allah Bapa sendiri. Benih cinta itu harus dijaga dan dirawat dengan baik. Keluarga sebagai tempat atau tanah di mana benih itu tumbuh harus dipupuk serta digemburkan dengan cinta yang tulus. Dengan demikian, benih itu bisa tumbuh dan berbuah banyak.  Dengan kata lain, keluarga sebagai sekolah cinta menjadi tempat persemaian bagi benih cinta antara orangtua dan anak-anak. Sebab, jika keluarga berperan sebagai sekolah cinta, maka dunia kehidupan manusia akan menjadi harmonis, penuh cinta, dan damai.
Perihal pentingnya keluarga, Kahlil Gibran, penyair kondang asal Libanon, menarasikannya dengan sangat indah dalam puisi yang berjudul “Anakmu Bukanlah Milikmu”:
Anak adalah kehidupan, mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu. Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu, karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya. Karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kaudatangi. Bahkan, dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab, kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu meleset, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. (https://rumahinspirasi.com/anakmu-bukan-anakmu/)
Menurut Kahlil Gibran, orangtua hanyalah sebuah busur, sedangkan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa berarti atau bermakna jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya. Tuhan, menurut Kahlil Gibran, mencintai anak panah (anak-anak) yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan juga mencintai busur (orangtua) yang selalu mendukung setiap kegiatan positif anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya.
Puisi ini sangat dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di telinga orangtua. Kebanyakan orangtua selalu ingin menguasai anak-anaknya sebagai miliknya yang bisa diatur sesuai keinginannya. Kenyataan seperti ini mengondisikan anak tidak dapat berkreasi dan berinovasi. Akibatnya, anak berkembang sesuai dengan keinginan orangtua, bukan berdasarkan kesempatan bertumbuh dan berkembang anak. Pola pendidikan seperti ini justru tidak membantu anak untuk bertumbuh dan berkembang baik di masa yang akan datang.
Puisi ini juga mereposisi hubungan atau relasi antara orangtua dan anak, yakni orangtua hanya memberikan arahan dan bimbingan, tetapi bukan memaksakan keinginan dan pemikiran kepada anak. Sebab, anak-anak lahir melalui orangtuanya, tapi bukan orangtuanya yang memberi anak-anak itu kehidupan. Tuhanlah yang memberikannya. Anak-anak hanya dititipkan oleh Tuhan kepada orangtuanya. Orangtua sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya, namun anak-anak bukan hak orangtua untuk menguasainya.
Orangtua boleh (bahkan wajib) memberikan kasih sayang kepada anak-anak. Akan tetapi, hal itu bukan berarti orangtua boleh memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya atas nama kasih sayang. Orangtua juga tidak layak memaksakan pikirannya, karena anak-anak (sebagai manusia yang utuh) mempunyai pemikiran sendiri. Orangtua boleh memberikan rumah untuk badan anak-anaknya, tetapi bukan sangkar untuk jiwa anak-anak. Anak-anak punya masa depan yang diimpikannya sendiri, dan orangtua tidak berhak untuk mengatur masa depan anak-anaknya itu. Bahkan sekadar niat pun tidak boleh. Mengarahkan ke jalur yang baik memang boleh, tetapi bukan mengatur masa depan anak-anaknya.
Jika hal ini dilakukan, maka sebenarnya orang tua mengembangkan dan melayani kebutuhan anak secara holistik integratif. Orangtua telah menjadikan keluarga sebagai sekolah cinta. Khalil Gibran mengajak semua keluarga (orangtua) untuk memberikan perlindungan terhadap anak, bukan kekerasan dalam pelbagai bentuknya. Kita tidak hanya bernarasi tentang perlindungan terhadap anak, tetapi harus terlibat langsung dalam gerakan “Save the Children” atau menyelamatkan anak dengan cinta.  
Salah satu cara untuk menyelamatkan anak adalah dengan menerapkan pola asuh yang positif terhadap anak. Sebab, pola asuh orangtua terhadap anaknya menjadi faktor dominan bagi tumbuh kembang seorang anak. Karakter yang dimiliki seorang anak hingga tumbuh dewasa berkaitan erat dengan pola pengasuhan orangtua dalam keluarga. Pola pengasuhan yang positif selalu memberikan fondasi yang kuat untuk bertumbuh dan berkembangnya karakter positif dalam diri anak.  
Seperti dilansir dari idntimes.com,  ada lima sikap dan karakter yang dimiliki seorang anak jika seorang anak dibesarkan dengan cinta di dalam keluarga, yakni sebagai berikut.
Percaya Diri
gambar: google
Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk memperoleh dukungan sekaligus tempat berlindung dan mengadu.  Jika demikian yang terjadi, maka seorang anak sudah pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri kapan pun dan dimana pun berada. Rasa percaya diri itu akan melekat dalam dirinya hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

Dermawan
gambar: google
Seorang anak yang dibesarkan dengan kasih sayang selalu bersedia untuk berbagi dengan orang lain. Seorang anak merasa bahwa Tuhan telah memberikan berkah luar biasa karena memiliki orang-orang yang menyayanginya. Dengan demikian, seorang anak selalu berpikir harus berbagi kebahagiaan dan apa yang dimiliki untuk orang lain, apalagi orang yang sangat membutuhkan bantuan.

Penyayang 
gambar: google
Jika seorang anak terbiasa hidup dalam suasana keluarga yang saling menyayangi antarsesama anggota keluarga, maka kebiasaan terbentuk dapat membentuk seorang anak menjadi pribadi penyayang. Suasana kasih sayang dalam keluarga yang dialami anak sejak kecil akan menjadi habitus (kebiasaan) yang menjiwai anak tersebut hingga beranjak dewasa. Tidak heran, jika seorang anak yang sangat disayangi orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi penyayang terhadap orang-orang disekitarnya.

Mudah Memaafkan
gambar: google

Seorang anak yang dipenuhi rasa cinta sejak kecil akan bertumbuh menjadi pribadi yang berjiwa besar yang senantiasa memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan.

Simpatik
gambar: google
Salah satu sikap seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang adalah selalu bisa merasakan kedukaan dan penderitaan orang lain. Anak seperti ini selalu bisa mengerti seberapa besar penderitaan orang lain dan menempatkan dirinya di kondisi orang tersebut. Seorang anak akan menjadi pribadi yang penuh perhatian dan simpatik untuk orang-orang terdekatnya yang sedang dirundung duka.
Catatan Akhir
Perayaan Harganas yang ke-27 tahun 2020 sebagai momentum penguatan keluarga sebagai sekolah cinta. Perayaan ini akan bermakna jika semua keluarga berkomitmen untuk mewujudkan sebuah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Sebab, seorang anak justru belajar dari orang-orang dekat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi sekolah cinta, tempat seorang anak mengalami cinta kasih untuk pertama kalinya. Jika seorang anak merasakan cinta itu di dalam keluarga, maka anak tersebut akan bertumbuh dan berkembang dalam cinta ketika hidup bersama yang lain.
Tentang bagaimana seorang anak belajar dari kehidupannya, Dorothy Law Nolte, sebagaimana dilansir mynameisadams.wordpress.com, merumuskannya dalam ungkapan hatinya yang berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”: 
Jika seorang anak hidup dalam suasana penuh kritik, ia belajar untuk menyalahkan.
Jika seorang anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk berkelahi. 
Jika seorang anak hidup dalam ketakutan, ia belajar untuk gelisah.
Jika seorang anak hidup dalam belas kasihan diri, ia belajar mudah memaafkan dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidup dalam ejekan, ia belajar untuk merasa malu.
Jika seorang anak hidup dalam kecemburuan, ia belajar bagaimana iri hati.
Jika seorang anak hidup dalam rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah.
Jika seorang anak hidup dalam semangat jiwa besar, ia belajar untuk percaya diri.
Jika seorang anak hidup dalam menghargai orang lain, ia belajar setia dan sabar.
Jika seorang anak hidupnya diterima apa adanya, ia belajar untuk mencintai.
Jika seorang anak hidup dalam suasana rukun, ia belajar untuk mencintai dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidupnya dimengerti, ia belajar bahwa sangat baik untuk mempunyai cita-cita.
Jika seorang anak hidup dalam suasana adil, ia belajar akan kemurahan hati.
Jika seorang anak hidup dalam kejujuran dan sportivitas, ia belajar akan kebenaran dan keadilan.
Jika seorang anak hidup dalam rasa aman, ia belajar percaya kepada dirinya dan percaya kepada orang lain.
Jika seorang anak hidup penuh persahabatan, ia belajar, bahwa dunia ini merupakan suatu tempat yang indah untuk hidup.
Jika kamu hidup dalam ketentraman, anak-anakmu akan hidup dalam ketenangan batin.
Kata-kata indah ungkapan hati Dorothy ini mengeksplisitkan suatu kenyataan bahwa pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sangat ditentukan oleh lingkungan sekitarnya (keluarga, orang-orang dekatnya, dan masyarakat). Kehadiran komponen-komponen ini sangat membantu perkembangan anak ke arah yang lebih baik. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal hadir sebagai sekolah cinta yang menjadi basis pembentukan karakter anak.
Paradigma keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak memang menuntut tanggung jawab yang besar. Penanaman nilai-nilai karakter (percaya diri, dermawan, penyayang, mudah memaafkan, simpatik, disiplin, jujur, taat, motivasi, kerja keras, tanggung jawab, solider, dll) pada diri anak harus dilakukan melalui contoh dan pembiasaan (modeling).  
Metode contoh dan pembiasaan tentu bukan tugas yang mudah bagi orangtua. Sebab, orangtua tidak hanya mensosialisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Akan tetapi, orangtua harus memberi contoh dan membiasakan diri untuk hidup dengan karakter-karakter yang baik. Pembentukan karakter dalam diri anak akan berjalan efektif, jika orangtua selalu menyadari diri sebagai pendidik (moral, karakter) bagi anak.
Peran keluarga harus lebih optimal lagi sebagai sekolah cinta bagi anak-anak. Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk mengenal dunia awal kehidupannya. Orangtua harus meletakkan dasar yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. 
Robert D. Ramsey mengajak semua keluarga (para orangtua) supaya, “Berikanlah anak-anakmu akar yang kuat untuk tumbuh dan sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari.” Selamat merayakan Hari Keluarga Nasional yang ke-27 Tahun 2020. Jadikanlah keluarga-keluarga kita sebagai sekolah cinta. ***
RD Stephanus Turibius Rahmat. Penulis adalah dosen di Universitas Katolik St. Paulus, Ruteng, NTT.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *