Berita
Dr. Darmin Mbula OFM
Headline
MNPK
Nasional
SMASK ST. Markus-Pateng
Soal Ancik, Ini Tanggapan Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik
Monday, June 1, 2020
0
![]() |
Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) RP Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM. Gambar: jpicofmindonesia.com |
Terasvita– Kemelut karena keputusan lembaga SMASK St. Markus-Pateng, Manggarai Barat
terhadap salah seorang murid kelas XII di sekolah itu atas nama Bonafasius
Fantura Bok pada 21 Maret lalu ramai dibincangkan di media sosial (Grub FB St.
Markus).
Sebagaimana
dilansir floresa.co, Sabtu, 30 Mei 2020, kemelut itu terkait keputusan
pihak sekolah yang mengeluarkan Ancik, sapaannya, menjelang kelulusan. Buah
hati dari pasangan Dorotius Bok dan Maria Manur itu, demikian Floresa.co, dikeluarkan lantaran pihak sekolah menilainya telah melakukan pelanggaran luar biasa, yakni
melawan guru (versi kepala sekolah).
Akibatnya,
harapan Ancik untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus terpendam. Ketika
teman-temannya menerima surat berita kelulusan, nasib Ancik tetap tidak jelas.
Pihak sekolah tetap kekeh bahwa ia telah dikeluarkan dari sekolah, sementara
Ancik dan keluarganya tidak punya ruang untuk mencari sekolah lain, apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah "Belajar dari Rumah" karena pandemi Covid-19.
Menanggapi
kemelut tersebut, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Konferensi
Waligereja Indonesia RP Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM mengatakan bahwa kasus
tersebut memperlihatkan perlunya pembenahan komunikasi antara pihak sekolah dan
keluarga.
“Saya
melihat kasus ini sebagai pertanda perlu membenahi komunikasi yang baik antara
sekolah dan keluarga dengan pertimbangan utama dan pertama adalah demi
keselamatan dan kebahagiaan peserta didik,” kata Pastor Darmin, sapaannya,
kepada terasvita via Whatsapp, Senin, 1 Juni 2020.
Pertimbangan itu, lanjut doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta, memestikan proses
pendampingan dan pembinaan baik itu di sekolah, di asrama, dan di keluarga
harus berjalan dengan semangat edukatif, dan secara khusus mendampingi
anak-anak yang sulit. Sekolah berpola asrama, tambahnya, harus benar-benar perhatian untuk membentuk karakter anak.
Sementara, menanggapi pembinaan dengan “metode pukul” terhadap siswa yang melanggar aturan oleh guru, pastor
fransiskan itu mengatakan, sejauh teori dan praktik pedagogi yang ia baca dan
alami, cara-cara “kekerasan” akan melahirkan manusia yang tidak punya hati
nurani, pendendam, dan egois.
“Orang baik dilahirkan dan diciptakan serta
dibentuk dengan cara yang baik. Kekerasan semacam itu adalah kekurangan
kapabilitas pedagogi hati,” tambah pastor asal Benteng Jawa, Manggarai Timur
itu.
Perihal
Ancik yang dikeluarkan dari sekolah menjelang kelulusan, Pastor Darmin
mengatakan, tidak perlu sampai memberikan sanksi seperti itu. Masih ada jalan
dan cara lain demi masa depan anak tersebut. Namun, tambah dia (Pater
Darmin-red), hal itu merupakan kewenangan pihak sekolah dan yayasan. )*** (RSF)
Previous article
Next article
Leave Comments
Post a Comment