HEADLINE NEWS

Soal Ancik, Ini Tanggapan Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik

Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) RP Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM. Gambar: jpicofmindonesia.com

Terasvita– Kemelut karena keputusan lembaga SMASK St. Markus-Pateng, Manggarai Barat terhadap salah seorang murid kelas XII di sekolah itu atas nama Bonafasius Fantura Bok pada 21 Maret lalu ramai dibincangkan di media sosial (Grub FB St. Markus).
Sebagaimana dilansir floresa.co, Sabtu, 30 Mei 2020, kemelut itu terkait keputusan pihak sekolah yang mengeluarkan Ancik, sapaannya, menjelang kelulusan. Buah hati dari pasangan Dorotius Bok dan Maria Manur itu, demikian Floresa.co, dikeluarkan lantaran pihak sekolah menilainya telah melakukan pelanggaran luar biasa, yakni melawan guru (versi kepala sekolah).
Akibatnya, harapan Ancik untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus terpendam. Ketika teman-temannya menerima surat berita kelulusan, nasib Ancik tetap tidak jelas. Pihak sekolah tetap kekeh bahwa ia telah dikeluarkan dari sekolah, sementara Ancik dan keluarganya tidak punya ruang untuk mencari sekolah lain, apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah "Belajar dari Rumah" karena pandemi Covid-19.
Menanggapi kemelut tersebut, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Konferensi Waligereja Indonesia RP Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM mengatakan bahwa kasus tersebut memperlihatkan perlunya pembenahan komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga.
“Saya melihat kasus ini sebagai pertanda perlu membenahi komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga dengan pertimbangan utama dan pertama adalah demi keselamatan dan kebahagiaan peserta didik,” kata Pastor Darmin, sapaannya, kepada terasvita via Whatsapp, Senin, 1 Juni 2020.
Pertimbangan itu, lanjut doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta, memestikan proses pendampingan dan pembinaan baik itu di sekolah, di asrama, dan di keluarga harus berjalan dengan semangat edukatif, dan secara khusus mendampingi anak-anak yang sulit. Sekolah berpola asrama, tambahnya, harus benar-benar perhatian untuk membentuk karakter anak.
Sementara, menanggapi pembinaan dengan “metode pukul” terhadap siswa yang melanggar aturan oleh guru, pastor fransiskan itu mengatakan, sejauh teori dan praktik pedagogi yang ia baca dan alami, cara-cara “kekerasan” akan melahirkan manusia yang tidak punya hati nurani, pendendam, dan egois.
“Orang baik dilahirkan dan diciptakan serta dibentuk dengan cara yang baik. Kekerasan semacam itu adalah kekurangan kapabilitas pedagogi hati,” tambah pastor asal Benteng Jawa, Manggarai Timur itu.
Perihal Ancik yang dikeluarkan dari sekolah menjelang kelulusan, Pastor Darmin mengatakan, tidak perlu sampai memberikan sanksi seperti itu. Masih ada jalan dan cara lain demi masa depan anak tersebut. Namun, tambah dia (Pater Darmin-red), hal itu merupakan kewenangan pihak sekolah dan yayasan. )*** (RSF)

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *