HEADLINE NEWS

Pengembangan Anak secara Holistik-Integratif

ilustrasi
Oleh RD Stephanus Turibius Rahmat
Terasvita - Robert D. Ramsey pernah berujar, “Berikanlah anak-anak kita akar yang kuat untuk tumbuh dan sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari.” Pernyataan Ramsey ini mau mengafirmasi perihal pentingnya pendidikan anak dalam trisentra pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat). Ketiga lingkungan pendidikan ini menjadi basis dalam mendidik dan membentuk kepribadiaan anak. Dalam arti inilah, pendidikan merupakan investasi terpenting yang dilakukan orangtua untuk membentuk masa depan anak; menjadi jembatan penghubung anak dengan masa depannya; dan salah satu pembentuk fondasi bagi bertumbuh dan berkembangnya seorang anak untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks inilah, Program Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus-Ruteng selalu menyelenggarakan perlombaan antar-PAUD (TK/RA) se-Kabupaten Manggarai. Kegiatan perlombaan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang berlangsung pada setiap tanggal 23 Juli. Panitia menyelenggarakan aneka perlombaan untuk kategori anak usia dini, para guru PAUD, dan para mahasiswa. Selama perlombaan ini, para peserta (anak usia dini dan para guru) terlibat dalam perlombaan mewarnai, menjiplak, mendongeng, meronce, tari kreasi bertema, senam si buyung, bercerita menggunakan media, menciptakan gerak dan lagu. Sedangkan, para mahasiswa berlomba menulis karya tulis ilmiah berupa PKM-GT dan PKM-AI. Kegiatan perlombaan ini mengusung tema “Pendidikan Holistik Integratif di PAUD".
Adapun kegiatan perlombaan ini bertujuan menyadarkan para pendidik, orangtua, dan masyarakat akan pentingnya pendidikan yang menyeluruh dan terpadu bagi anak. Sebab, realitas menunjukkan ketiga elemen itu kurang memperhatikan pendidikan anak secara holistik integratif. Para pendidik dan orangtua cenderung mendidik anak hanya sebatas menyediakan kebutuhan fisiologis dan finansial. Padahal, keterlibatan pendidik dalam mendidik anak tidak hanya terbatas pada aspek tersebut. Para pendidik belum memperhatikan kebutuhan anak secara holistik integratif. 
Kenyataan ini menunjukkan bahwa para pendidik belum mengerti atau memahami secara komprehensif tentang konsep pendidikan holistik integratif bagi anak usia dini. Akibatnya, para pendidik kurang mengenal bentuk-bentuk keterlibatan dalam pendidikan yang bersifat holistik integratif terhadap anak. Padahal, para pendidik seharusnya mampu memenuhi kebutuhan anak secara holistik integratif (menyeluruh dan terpadu), seperti peningkatan kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, kesejahteraan, dan rangsangan pendidikan yang dilakukan secara simultan, sistematis, menyeluruh, terintegrasi, dan berkesinambungan.
Pendidikan holistik-integratif bagi anak usia dini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegratif. Dengan model pendidikan seperti ini, maka kebutuhan dasar anak terpenuhi sesuai dengan tahapan perkembangan dan kebutuhan spesifiknya. Kebutuhan dasar anak yang dimaksud adalah stimulasi pendidikan (asah), kebutuhan gizi dan kesehatan atau fisis biomedis (asuh), dan kebutuhan akan kasih sayang, kesejahteraan, dan perlindungan (asih).
PAUD Holistik-Integratif (PAUD HI)
Badan Pusat Statistik Indonesia memaparkan data tentang jumlah penduduk Indonesia pada 2020, yakni diperkirakan berjumlah 271.066.000 jiwa (Kompas.com, 2020). Populasi penduduk Indonesia ini tergolong besar dan bahkan menempati urutan nomor 4 di duniaMeskipun demikian, jumlah ini didominasi oleh usia produktif sehingga angka ketergantungan justru cenderung menurun. Pada 2016 angka ketergantungan itu sebesar 48,4%. Angka ini jauh lebih rendah dibanding pada 1971 yang mencapai 86,6%.
Berdasarkan laporan Bappenas dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, jumlah penduduk Indonesia pada 2020 bakal mencapai 271 juta jiwa atau bertambah 10 juta dari jumlah penduduk pada tahun sebelumnya. Sementara berdasarkan kelompok usia, jumlah penduduk usia produktif (15-65 tahun) mencapai 185,22 juta jiwa atau sekitar 68,7% dari total populasi. Sementara kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) sebanyak 66,05 juta jiwa atau 24,5%, dan kelompok usia sudah tidak produktif (di atas 65 tahun) sebanyak 18,06 juta jiwa atau 6,7% dari total populasi. Sehingga angka ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 45%. Artinya, Indonesia masih berada dalam era bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding jumlah penduduk tidak produktif (https://databoks.katadata.co.id/). 
Berdasarkan Hasil Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2018 oleh BPS ditemukan bahwa 30,1% populasi penduduk di Indonesia adalah anak dengan 39,1 juta jiwa merupakan anak perempuan dan 40,4 juta jiwa adalah anak laki-laki (Profil Anak Indonesia 2019). Berdasarkan data ini, muncul pertanyaan bahwa apakah anak-anak dengan jumlah populasinya 30,1% dari penduduk Indonesia ini bisa menjadi usia bonus, usia produktif di kemudian hari ataukah justru menjadi potensi kehancuran? Di sinilah, trisentra pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) harus berperan aktif untuk membentuk anak-anak menjadi generasi yang memiliki bonus atau sesuatu yang lebih, produktif, kreatif, dan inovatif.
Pengembangan anak usia dini secara holistik integratif sangat strategis untuk membentuk anak yang produktif, kreatif, dan inovatif di masa depan. Pendidikan yang berkarakter holistik integratif bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. 
Secara harfiah, holistik berhubungan dengan sistem keseluruhan sebagai suatu kesatuan lebih daripada sekadar kumpulan bagian (www.KamusBahasaIndonesia.org). Sementara itu, integral dimaknai sebagai tidak terpisahkan atau terpadu, sedangkan integrasi adalah berpadu atau bergabung supaya menjadi satu kesatuan.  Dengan demikian, pengembangan anak usia dini holistik integratif adalah pengembangan anak yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkaitan secara simultan dan sistimatis. Kualitas sumber daya manusia telah menjadi indikator utama dalam mengukur serta menggambarkan kemajuan suatu bangsa. Atas dasar itu, bangsa Indonesia telah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai isu, program, dan strategi pembangunan utama.
Penelitian yang terkait anak usia dini menunjukkan bahwa menyiapkan sumber daya manusia berkualitas harus diawali sejak usia dini, bahkan sejak masa konsepsi dalam kandungan. Pemenuhan kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan anak secara holistik integratif sangat menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan kematangan sosial di tahap berikutnya serta sebagai persiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya (school readiness). Hal ini sejalan dengan amanat UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Anak Usia Dini yang menegaskan bahwa PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Pasal 1, Butir 14).
Studi kebijakan pengembangan anak usia dini holistik integratiyang dilakukan oleh Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan (2006:3) menyatakan bahwa pengembangan anak usia dini secara komprehensif (holistik) mencakup kesehatan dasar, gizi, dan pengembangan emosi serta intelektual anak perlu dilakukan secara baik karena amat menentukan perjalanan hidup di kemudian hari. Sebab, masa usia dini merupakan masa kritis tumbuh kembang anak yang akan menentukan perkembangan anak pada tahapan selanjutnya.
Seluruh dimensi pengembangan anak saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lainnya. Untuk itu, anak membutuhkan stimulasi holistik (menyeluruh) yang meliputi stimulasi pendidikan, kesehatan dan gizi, dan psikososial. Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) menjelaskan bahwa pengembangan anak usia dini holistik integratif adalah upaya pengembangan anak yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Program pendidikan ini bertujuan untuk mengoordinasikan semua layanan anak usia dini (sejak janin s/d 6 tahun) agar secara simultan kebutuhan dasar anak terpenuhi sesuai dengan tahap perkembangan dan kebutuhan spesifiknya. Layanan stimulasi holistik mencakup layanan atau stimulasi pendidikan (asih), kesehatan dan gizi-fisis biomedis (asuh), perawatan, pengasuhan, kasih sayang, perlindungan dan kesejahteraan (asih).
Layanan ini menjadi kebijakan pengembangan anak usia dini dengan melibatkan pihak terkait seperti instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, tokoh masyarakat, guru, dan orangtua. Pemenuhan hak tumbuh kembang anak usia dini akan terwujud jika dilakukan secara simultan, sistematis, menyeluruh, terintegrasi, dan berkesinambungan upaya peningkatan kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, kesejahteraan dan rangsangan pendidikan.
Satuan PAUD dalam kerja sama lintas sektor dengan pihak-pihak terkait memiliki peranan yang sangat strategis dalam upaya pemenuhan kebutuhan anak tersebutPAUD HI dilakukan secara sistematis dan diterapkan secara sistemik di Satuan PAUD (TK/KB/TPA/SPS) untuk mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak. Dengan demikian, anak bertumbuh dan berkembang secara optimal dan menjadi anak yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di masa depan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak merupakan ‘masa emas’ (golden period) atau ‘jendela kesempatan’ (window opportunity) dalam meletakkan dasar-dasar tumbuh kembang seorang anak. Kualitas tumbuh kembang anak pada masa ini akan menentukan kualitas kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, kemampuan belajar, dan perilaku sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, golden period ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pada periode ini, para orangtua, pendidik, dan pengasuh dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak perlu melakukan dua (2), yakni  (amememenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang optimal; (bmelakukan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) anak. 
Perpres RI Nomor 60 Tahun 2013 menegaskan bahwa pendidikan holistik integratif dapat berjalan efektif dan produktif dalam setiap satuan PAUD jika memenuhi beberapa prinsip berikut, yakni (1) pelayanan yang menyeluruh dan terintegrasi. Satuan PAUD sebagai wadah pemberian layanan pemenuhan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak yang mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan dan kesejahteraan anak oleh berbagai pihak dan pemangku kebijakan; (2) pelayanan yang berkesinambungan yakni layanan dilakukan pada seluruh layanan PAUD yang dilakukan secara berkelanjutan sejak lahir hingga usia 6 tahun.; (3) pelayanan yang non diskriminasi yakni layanan yang dilaksanakan oleh berbagai pihak dan pemangku kebijakan diberikan kepada seluruh anak yang ada di satuan PAUD secara adil tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, status sosial ekonomi, kondisi tumbuh kembang anak (berkebutuhan khusus), suku, agama, ras, antar golongan (SARA); (4) pelayanan yang tersedia, dapat dijangkau dan terjangkau, serta diterima oleh kelompok masyarakat yakni lokasi layanan PAUD HI diupayakan dekat dengan tempat tinggal masyarakat dan terjangkau dari aspek biaya; (5) partisipasi masyarakat, yakni melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program PAUD HI sehingga rasa memiliki program dari oleh masyarakat menjadi lebih kuat; (6) berbasis budaya yang konstruktif yakni pemberian layanan pendidikan, kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan anak dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal dan memperhatikan nilai budaya setempat yang sejalan dengan prinsip lauanan PAUD HI; (7) tata kelola yang baik yakni pengelolaan program dilakukan secara efektif, efisien, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pendidikan anak yang berkarakter holistik integratif sangat penting untuk membentuk dan mengembangkan pelbagai aspek perkembangan seorang anak seperti aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Program pendidikan seperti ini membuat seorang anak mengalami perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Atas dasar itulah, maka pemerintah mengharuskan supaya pendidikan itu harus sudah mulai ditanamkan sejak usia dini. Kesadaran ini mendorong pemerintah untuk mengembangkan suatu model pendidikan yang holistik integratif bagi anak usia dini. 
Cita-cita pemerintah ini hanya akan terwujud jika terjalin baik kemitraan antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan itu, pendidikan yang berdimensi holistik integratif bagi anak usia dini dapat terwujud dengan baik. Perpres RI Nomor 60 Tahun 2013 tentang PAUD HI sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjamin terpenuhinya hak tumbuh kembang anak usia dini dalam hal pendidikan, kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, serta perlindungan dan kesejahteraan anak. 
Pelaksanaan pendidikan holistik integratif bagi anak dilakukan secara simultan, sistematis, menyeluruh, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Hal ini perlu dilakukan untuk mendorong lahirnya anak sebagai generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di masa depanSebab, orangtua, pendidik, dan masyarakat dipanggil untuk mendidik dan mengarahkan anak supaya memiliki kesiapan menghadapi dan menghidupi  masa depan yang lebih baik.
Selamat merayakan Hari Anak Nasional Tahun 2020. Semoga para pendidik mampu memberi anak-anak kita akar yang kuat untuk tumbuh dan sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari serta menjadi generasi emas Indonesia.
RD Stephanus Turibius Rahmat, Dosen PG PAUD Unika Santu Paulus-Ruteng.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *