HEADLINE NEWS

Pekerja Seks Terlunta-lunta Selama Pandemi Covid-19

Sumber ilustrasi: Pixabay

Terasvita - Ini kisah di Amerika Serikat. Negeri adidaya. Negeri dengan perekonomian maju. Negeri dengan pertahanan terkuat dunia. Negeri yang punya pengaruh terhadap negara-negara di seluruh dunia. Negeri bergelimang uang…Dan negeri yang ‘kalah’ juga di hadapan Covid-19. Bahkan, negeri Paman Sam itu tercatat sebagai negara yang paling banyak jumlah angka kematian karena covid-19. The New YorkTime, media ternama di Amerika dan di kancah internasional, menampilkan nama-nama korban jiwa Covid-19 yang jumlahnya sudah hampir seratus ribu sebagai headline pada edisi 25 Mei, beberapa hari lalu.
Kisah ini tentang mereka yang secara sosial disebut dengan tuna susila: para pekerja seks. Kisah kegetiran mereka selama pandemi covid-19: hidup yang terlunta-lunta di tengah isi dompet semakin menipis bahkan kosong. Kisah ini ditulis oleh Alexis Okeowo, staff di The New Yorker. Pada 21 Mei 2020, tulisan perihal nasib mereka yang kerap dicap ‘tidak bermoral’ itu diterbitkan di The New Yorker. Atas nama ketertarikan, kami mengalihbahasakan kisah itu ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian kami menerbitkannya ‘di ini ruang’: Terasvita. Namun, kami mengakui tulisan ini tidak dalam artian terjemahan yang ketat. Di sana-sini kami menggunakan kata yang familiar dan ada yang tidak kami masukan dan ada pula yang kami tambahkan dari sumber lain.

Kisahnya begini: Hari demi haritempat-tempat hiburan malam di pusat Kota Manhattan-USA mulai tumbuh. Namun, tidak seramai dulu, sebelum pandemi Covid-19 merebak. Beberapa saja pelanggan yang mencicipi minuman keras premium dan steak di pesta-pesta mewahbeberapa  juga yang duduk di tepi panggung yang terang; dan hanya sedikit orang yang “nyawer” untuk penari yang tampil atau di duduk pangkuan mereka. “Rasanya aneh. Ada rasa putus asa,” ujar Nico, seorang penari di sebuah Bar.

Pada akhir Maret lalu, sebagian besar Bar di New York ditutup. Akibatnya, banyak orang yang kehilangan pekerjaan termasuk mereka yang mencari nafkah di sektor industri seks. Mereka hidup terlunta-lunta. Yang lebih menyedihkan bagi mereka (pekerja seks-red) adalah mereka didiskriminasi dan mendapat stigma negatif. Stigma-strigma politik dan sosial itu membatasi pengakuan hak-hak dasar mereka sebagai pekerja. “Pekerjan ini tidak ada ikatan apa-apa. Pihak Bar tidak akan mengurus kami. Kami dibiarkan berjuang sendiri, tambah Nico.

Pandemi global saat ini membuka mata banyak orang akan rapuhnya keberadaan pekerja berupah rendah dan pekerja manggung di Amerika Serikat. Pengalaman pekerja seks yang diklaim paling stabil dan independen pun tidak berbedaAdora, yang bekerja sebagai penari telanjang, mengatakan bahwa sangat penting menetapkan batas dengan pelanggannya. Seks tidak seperti komoditas lain: Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut erat kaitannya dengan moralitas dan kesenangan serta kekuasaan. Sementara, bagi banyak orang, ini terkait dengan hal yang sama, tetapi juga bisa bersifat transaksional dan bukan sentimental - suatu layanan.

Maya, seorang pekerja seks dan imigran ilegal dari Honduras, menceburkan diri secara penuh dalam dunia tersebut  ketika Donald Trump membubarkan program Deferred Action for Childhood Arrival (DACA). Maya adalah salah satu penerima bantuan tersebut. "Saya ingin memastikan bahwa jika saya kehilangan hak untuk bekerja, saya masih memperoleh penghasilan dan dapat bertahan," katanya. Pekerjaan tersebut juga yang memungkinkan dia bisa membayar biaya pembaruan Daca. Pasalnya, orang yang tidak berdokumen atau imigran ilegal yang ditemukan dalam dunia pelacuran, yang diklasifikasikan sebagai pelanggaran ringan di negara bagian New York, dapat ditangkap.

Dari sekitar 12 pekerja seks yang diajak bicara, sebagian besar mengharapkan kedermawanan pelanggan masa lalu dan bantuan dari komunitas mereka. Seorang janda muda, yang bekerja sebagai pendamping dan tampil pornografi di internet di California, mengatakan bahwa sebagian besar wanita yang ia kenal di industri tersebut berusaha menghidupi keluarga mereka sendiri. "Mereka tumbuh dalam kemiskinan, dan mereka ingin memastikan anak-anak mereka tidak memiliki gaya hidup yang sama," katanya.

Lily, seorang penari di sebuah klub tari telanjang di Manhattan dan aktris, mengatakan, dirinya memutuskan untuk masuk dalam indsutri terebut setelah ia bosan karena hanya mendapatkan sedikit penghasilan di restoran. Dia menikmati tarian dan finansial dari pekerjaan itu. "Orang-orang berpikir bahwa pekerjaan ini tidak pantas untuk dihargai," katanya. Sementara itu, Tea Antimony, seorang pekerja seks di Brooklyn, mengatakan, stigma tentang pekerjaan seks mencerminkan prasangka sosial. "Kami lagi-lagi melihat bagaimana ras, kelas, dan status imigrasi bersinggungan dalam hal pekerjaan yang didefinisikan sebagai sah," katanya. "Pekerjaan seks, seperti kerja feminin lainnya, didefinisikan sebagai tidak sah.

Untuk diketahui, para penari membayar biaya rumah sejumlah ratusan dolar untuk tampil di atas panggung di klub-klub yang menampilkan mereka dalam keadaan telanjang. Idealnya mereka dapat menghasilkan cukup uangNamun, klub-klub tersebut mendiskriminasi wanita yang mereka  anggap tidak cukup langsing atau terhadap wanita Afro-Amerika yang memakai gaya rambut kepang. Beberapa Bar gagal melindungi para penari dari pelanggan yang melanggar batas yang ditentukan. Perlindungan bagi penari, yang sebagian besar adalah perempuan, tidak ada dalam profesi  tersebut di mana pemilik bisnis seringkali adalah laki-laki.

“Saya sudah berada di industri ini cukup lama untuk melihat kapan kapalnya diguncang. Anda akan kehilangan pekerjaan begitu cepat,” ujar Leilah, yang bekerja sebagai penari telanjang. "Semua orang di klub takut akan kekuatan orang-orang yang bekerja di sana,ujarnya. Dia percaya bahwa sebuah klub yang memecatnya karena secara terbuka mengkritik industri itu. "Wanita menjadi takut karena mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan," kata Lily. "Dan kepada siapa kamu berpaling?" tanyanya.

OnlyFans, sebuah situs pornografi yang dimulai pada 2016, di mana para pekerja seks itu bisa mendapatkan uang dengan menjual gambar atau video porno, tidak banyak membantu mereka. Mereka justru dicekik oleh undang-undang yang melarang situs-situs berkonten perdagangan seks. Di masa pandemi ini, situs-situs tersebut tampaknya diberdayakan dan diuangkan secara diam-diam. Tetapi, bagi sebagian besar pekerja seks di OnlyFans, platform ini tidak hanya menyunat dua puluh persen dari pendapatan mereka, tetapi juga membutuhkan sejumlah besar tenaga kerja untuk menarik dan membuat pengikut tetap bahagia dan untung.

"Saya harus melakukan banyak pekerjaan untuk menetapkan batas apa yang akan dan tidak akan saya lakukan," kata Adora, yang juga bekerja sebagai penari telanjang, tentang cara dia menangani pelanggan. Ketika dia bekerja di klub tari telanjang, dia bisa pergi ke ruang dansa dengan pelanggan dan memutuskan apakah dan bagaimana mereka bisa menyentuhnya, tergantung pada seberapa banyak mereka memberi tip. Staf di klub dapat membantunya dengan pelanggan yang agresif. Sekarang, jika klien daring menginginkan video aksi seks, ia harus memutuskan syarat-syarat jenis transaksi baru dan memastikan bahwa pembayaran sesuai dengan pekerjaan itu.

Emma, ​​seorang imigran Brasil yang bekerja di sebuah klub tari telanjang di Brooklyn, mengatakan, dia bersemangat untuk bergabung dengan pertunjukan strip kolektif virtual, di mana pemirsa harus menyumbang untuk menonton dan didorong untuk memberi tip. "Meskipun,  telah bergeser secara online, tetapi tetap melelahkan," ujarnya.
"Saya mengagumi gadis-gadis yang terus bekerja online, karena sulit untuk menangani semua tekanan finansial dan emosional yang kita alami ini, dan kemudian masih memberi banyak hal kepada orang lain,"tambah Emma. "Saya suka pengalaman itu, tetapi pekerjaan seks menguras banyak tenaga karena Anda memegang ruang untuk orang lain," ujarnya.

Pekerjaan seks online lebih aman dalam hal terhindar virus corona. Namun, mereka yang melakukannya berisiko lebih tinggi untuk dirusak dan dilecehkan, dan didiskriminasi oleh bank dan pemroses pembayaran. "Terlepas dari berapa banyak uang yang Anda hasilkan, karena kami adalah kaum yang dikriminalisasi, semuanya dapat diambil dari kami dalam sekejap, dan kami benar-benar tidak memiliki jalur hukum," ujar Molly Simmons, seorang pekerja seks.

Ketika karantina mulai berlaku di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, konsumsi global pornografi internet meningkat. Situs web porno melaporkan adanya peningkatan lalu lintas pencarian dan  para pekerja seks melihat di fanpage yang sudah populer adanya peningkatan pelanggan baru. Sebagai contoh: Pornhub, sebuah situs dewasa terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat mengalami peningkatan sebesar 18% jumlah pengunjung selama pandemi Covid-19 (lih. Tribunews.com).

Simmons, pemilik sebuah hiburan malam, mengatakan bahwa banyak pekerja seks sudah terbiasa dengan “hidup dalam krisis sepanjang waktu, di mana hidup mereka melulu krisis.” Beberapa mengatakan karena mereka telah lama berhenti mengharapkan dukungan dari pemerintah atau majikan mereka, mereka hanya memiliki diri mereka sendiri dan rekan sejawat. )***


Alih bahasa: Dewi J.
Editor: Rian Safio

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *