HEADLINE NEWS

Dua Topi untuk Satu Pesan: Sisi Lain Perjumpaan Gubernur NTT dengan Uskup Ruteng

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat (kiri) dan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (kanan) dalam pertemuan di Istana Keuskupan Ruteng, Selasa 23 Juni 2020. Foto: https://www.humasntt.web.id

Oleh: RP Johny Dohut OFM
(Koordinator Ekopastoral Fransiskan-Pagal, NTT)
Terasvita.com – Pada Selasa, 23 Juni 2020, seminggu yang lalu, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengadakan kunjungan kerja di sejumlah tempat di wilayah Manggarai Raya. Dalam Kunker tersebut, ia menjumpai masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat di sana. Salah satunya, ia bertemu dengan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat.
Ketika disambut di depan Istana Keuskupan Ruteng, mantan anggota DPR RI itu mengenakan topi songke dan selendang dengan warna dasar hitam dipadu motif tenunan dari benang berwarna-warni sehingga tampak indah. Salah satu motif yang cukup menonjol di topi itu adalah biawak raksasa, Varanus Komodoensis, yang dirangkai dari benang warna emas.
Orang nomor satu di NTT itu berdiri dengan sangat tenang dan wajah menunduk. Sesekali ia mengangkat muka ketika disapa lewat ritual penyambutan dalam budaya Manggarai tuak curu dan manuk kapu. Keuskupan Ruteng dan Unika St. Paulus Ruteng dengan senang hati menyambut kedatangan sang gubernur. Usai penyambutan dengan ayam dan tuak, Gubernur Viktor dikenakan topi dan selendang baru.
Selendang dan topi lama dengan dasar tenunan warna hitam kini berganti warna cerah. Ia diberi topi dengan paduan warna merah, pink, dan crem. Juga dikalungi dengan selendang berwarna cerah. Yang tadinya didominasi warna hitam, gelap, kini berganti dominasi warna cerah.
Hal yang paling menarik perhatian saya bukan warna cerah melainkan tulisan Omnia in Caritate pada topi itu. Itulah moto atau spirit penggembalaan uskup yang tahbiskan pada 19 Maret lalu, yakni mengenakan kasih sebagai dasar pelayanan: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” 
Dua Topi untuk Satu Pesan
Dua topi yang dipakai bergantian oleh gubernur ketika memasuki kompleks Istana Keuskupan dan Unika St. Paulus-Ruteng mengandung pesan yang sangat kuat. Pada topi yang ditanggalkan gubernur, ada tubuh komodo yang ditenun dari benang warna emas. Komodo adalah karakter dan fisik yang perkasa, tubuh yang tangguh dan kuat. Kerja untuk melayani rakyat hanya bisa dilakukan ketika orang memiliki tubuh yang kuat seperti itu. 
Ketangguhan fisik yang menopang kerja demi kebaikan bersama (bonum commune) adalah hal mulia laksana emas. Ketika hal itu dimiliki seorang pemimpin, maka ia sangat berkenan di hati rakyat bahkan Tuhan.  Ketangguhan fisik orang-orang NTT dikagumi gubernur dalam sambutannya sore itu.
“Di Jakarta sana, ke rumah sakit, orang hb 7, harus diam di tempat. Karena kalau orang hb 7, dia bersin keluar darah. Tidak ada lagi oksigen dalam darahnya. Di NTT saya temukan, hb 2 jalan-jalan, …ini menunjukkan orang NTT luar biasa. Bukan hanya pohonnya yang hebat, tapi juga orang-orangnya,” ungkapnya sambil mempromosikan produk obat ramuan berbagai tanaman obat-obatan di NTT. Minyak ramuan itu, kata politisi Patai Nasdem itu, sangat ampuh untuk menyembuhkan batuk. Ia juga berseloroh, minyak itu adalah obat untuk Covid-19. 
Namun, ketangguhan fisik tanpa kecemerlangan atau kejernihan hati dan budi yang menjiwai pelayanan akan mudah menyeret orang menjadi munafik; sikap yang sangat dibenci oleh sang gubernur sebagaimana diungkapkan dalam sambutannya. Ia membenci hipokrisi, sikap menampilkan diri seolah-olah baik dan seolah-olah pintar.
“Orang baik itu tidak usah kasih tunjuk. Kerja saja!” ungkapnya. Kemunafikan, bagi Laiskodat,  menjadi salah satu hambatan dalam membangun NTT. Ia sangat mengagumi ketulusan hati dan pelayanan kasih yang dilakukan para suster sebagai agen yang cukup diperhitungkannya dalam pembangunan masyarakat NTT. Mereka tidak banyak bicara tapi bekerja!
Demikian juga tanpa pelayanan kasih dan totalitas pengabdian demi kebaikan bersama, orang akan menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Atau katakanlah homo homini komodo. Manusia menjadi komodo yang memangsa sesamanya. Juga memangsa alam dan segala makhluk demi akumulasi kekayaan untuk diri sendiri dan kroni-kroninya. 
Menarik, gubernur menunduk ketika topi bertuliskan Omnia in Caritate itu dikenakan pada kepalanya. Topi lama tidak dibuang, tetapi diserahkan ke asistennya untuk disimpan. Topi warna hitam dengan motif komodo yang sangat menonjol ini juga tidak dipertahankan sang gubernur dengan mengatakan, “Maaf. saya sudah bertopi. Saya tidak butuh topi yang kalian berikan!”
Yang satu menggantikan yang lain, namun tetap saling melengkapi. Yang tangguh, gagah, dan hebat secara fisik perlu disempurnakan oleh spiritualitas pelayanan kasih. Menundukkan kepala, membiarkan diri untuk dikenakan topi baru adalah bahasa simbol: Bahwasanya apa pun yang akan dilakukan dengan sekuat tenaga sebagai gubernur; kebijakan pembangunan apa pun yang ditempuh; semua itu mesti dilakukan dalam kasih. Omnia in Caritate!
Tanpa cinta kasih, kebijakan pembangunan yang menekankan aspek ekonomi semata cenderung menjadi buas, ganas, memangsa alam, rakyat, dan budaya mereka. Karena itu, Uskup Ruteng, dalam presentasinya sore itu, mengusulkan paradigma pembangunan yang lebih holistik dan integral.
“Kami mengusulkan pembangunan ekonomi kawasan pantura yang integral berbasis ekologi, kultur, geografi, demografi setempat,” Ungkap Mgr. Sipri, sapaannya. Lengko Lolok dan Luwuk, lokasi tambang dan pabrik semen yang ramai ditolak saat ini dan menagig Gubernur Viktor untuk mencabut izinnya, ada di wilayah Pantai Utara wilayah Keuskupan Ruteng.
Sebagaimana dikutip banyak media, Gubernur NTT masih mau berusaha untuk tidak menghasilkan kebijakan pembangunan yang buas dan destruktif. Terhadap kebijakan tambang batu gamping dan perusahan semen, ia mau mengkajinya lagi dan menghitungnya secara cermat dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan)***
*Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di jpicofmindonesia.com. Setelah mendapat izin dari penulis, kami menerbitkan kembali di kanal ini.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *