HEADLINE NEWS

Wanita di Sumur yang Kering

Gambar: stmarks.edu.au/ 

Oleh Hend Jehadi
“Akulah Dia yang sudah berkata-kata dengan engkau.”
Terasvita - Sebuah sumur. Sumur tersebut mulai mengering. Kira-kira 12 jam lagi dia akan kering. Sementara ribuan jiwa akan datang dan membawa masing-masing dua tempayan. Hari kira-kira pukul dua belas. Wanita itu sebut saja, Sebet. Dia  sangat letih oleh perjalanan, karena itu ia duduk di pinggir sumur itu.
Seperti yang lain, di samping Sebet ada sepasang tempayan tua. Tempayan itu merupakan peninggalan ayahnya. Konon, sang ayah sering mengajaknya menimba air di sumur itu.
Pada suatu senja, sang ayah membawa Sebet ke sumur itu. Dia melihat ke dalam sumur. Dari dalam sumur terpantul dengan ceria sepasang wajah; wanita kecil dan seorang pria tua renta. Sebet pun belum lupa dengan kejadian itu, dia akan segera melempar ke dalam sumur sebuah ember kecil yang sudah diikat seutas tali. Tentu hanya satu. Untuk menimba air.
****
Siang itu, Sebet menyaksikan sesuatu yang sungguh sangat baru. Sepi. Dia diam dan tak lagi punya kata. Kedua tangannya direntangkan pada bibir sumur. Tidak ada bayangan yang terpantul.  Dia hanya melihat langit yang kering dan mengeluarkan teriakan yang mahadasyat, aku haus!! Teriakan itu semakin keras dan berkali-kali. Angin sepoi-sepoi menyapa kulitnya yang membalut tubuhnya. Menukik dan menjungkil matanya secara kejam.
Sebet yang seorang diri itu tetap duduk dan melihat ke dalam sumur. Dia membayangkan ada wajah yang bisa saja dipantulkan oleh segelas saja air dari sumur. Nahas. Dia hanya melihat rindu yang kelewat batas. Dia tetap mengayun rindu itu, meskipun dia tahu tidak akan terealisasi dan hanya menjadi potongan-potongan kerinduan.
Benar sekali. Tidak ada wajah yeng terbang pada langit-langit sumur. Sebet pun tidak mau mencarinya lagi.  Jika dicari hanya akan ditemukan kicauan burung yang sedang haus. Sumur itu sudah kering. Matanya pun jatuh.
Pada beberapa saat, ada yang berubah dan mengajak matanya. Dia melihat sepotong wajah. Wajah tersebut sudah lama menghilang dari ubun-ubunnya. Hilang bersama musim kemarau yang berdesing. Lalu biru.
Sebet sadar wajah tersebut terlampau cepat dibabat dan dihapus dari buku kehidupannya. Sebet mengingat akan sebuah catatan saat dia menyaksikan perpisahan yang sangat berbeda dan tak terduga. Dirasakan ada yang tidak persis sama. Dalam lintasan pikirannya, Sebet merasakan waktu yang seolah-olah sebelumnya tak pernah ada, dan semua terasa kembali tercipta begitu saja.
“Ibu.............! Entah. Tidak bisa dibaca, roh apa yang merasukinya. Sebet tiba-tiba teriak. Teriakannya berisi sebuah desahan jiwa yang selalu memergoki perasaan. “Aku mencitaimu, aku menyayangimu, aku mendambakanmu, aku........ ahhh. Sebenarnya, engkau adalah segalanya bagiku. Engkau adalah mahkotaku, meskipun terlampau cepat direnggut dari mahkota kehidupanku yang sempat ada.
Suaranya pelan-pelan mengecil tetapi berat. “Tuhan pasti tidak adil, sedang buta atau juga tuli. Ia tak pernah memahami perasaan kehilangan kita. Dia mungkin tidak pernah mengecap getirnya kehilangan,” suara beratnya memecahkan keheningan siang.
“Tetapi ibu. Mengapa rahimku tidak setegar rahimmu yang mengandung aku ratusan hari lamanya. Aku tidak bisa hamil. Aku mandul,” Sebet tampak sangat takut. Saat itu yang dia tahu; ia takut. Apalagi kalau dia mengingat budaya masyarakat di kampungnya. Masyarakat tersebut yang saban hari menuduh dia sebagai perempuan zina.
Sebet pun ikut terpengaruh. Dia menuduh tubuhnya sudah berdosa karena tidak bisa berprokreasi. Di bening matanya terus menggenang air mata. Bagi dia, dunia ini hanya hitam, balam tumpang tindih berganti silih secara terus-menerus.
****
Sementara itu, ketika Sebet bergulat dengan persoalan hidupnya, seorang wanita lagi datang ke sumur tersebut. Dia berjalan dengan tegap tapi gugup. Berjalan mendekati Sebet. Wanita tua itu ditemani oleh tiga tempayan. Tempayan-tempayannya besar. Sebet tidak memberitahu bahwa sumur sudah kering.
“Beri aku minum,” kata wanita itu. Sebet takut. Dia hampir tidak percaya bahwa itu manusia. Bisa saja, itu adalah setan berupa manusia, atau paling kurang orang gila. Sungguh. Tidak berbudaya. Datang langsung menyuruh orang memberikan air,” guman Sebet dalam hatinya.
“Beri aku minum,” kata perempuan itu sekali lagi. “Tidakkah engkau melonjak kegirangan ketika aku memintamu memberikan minum,’’ Sebet sengaja tak menjawab. Dia berusaha untuk diam. Namun, wanita itu bertanya lagi. Pertanyaan yang sama.
Sebet menjawabnya dengan jengkel. “Hei orang tua. Engkau membuat aku jengkel. Tidakkah engkau lihat di sumur ini tidak ada air?” Dia takut melihatnya.  Bahkan, takut membayangkan kejadian itu. Ketakutannya kembali bersama dengan munculnya wanita itu dengan tempayan-tempayannya yang berdarah.
Wanita itu menghardiknya. “Hei!! Wanita banyak lelaki! Engkau tahu aku sedang haus. Sedang kau diam saja?” “Ibu tua! Pada tempayanku tidak ada air. Sumur ini sudah kering!” balas Sebet dengan gundah.
Wanita tua itu pun duduk berhadapan dengan Sebet. “Aku sangat mengerti dirimu. Tapi, aku tahu akan datang. Kau seharusnya tahu saat aku menempatkanmu di lubang kering ini! Semua yang kaubutuhkan ada dalam dirimu,” tukas wanita itu dengan keras.
Sebet tidak meresponnya. Dia memilih memindahkan dua tempayan yang ada di sisinya. Matanya berkaca-kaca seakan-akan kalimat yang diucapkan wanita itu menukik hati dan menembus rasanya.
“Jangan coba menyangkal. Aku bisa melihat jiwamu. Kau akan semakin kuat,” tukas wanita itu dengan cepat.
“Siapakah engkau sebenanarnya, Wanita Tua? Apakah engkau penjaga sumur ini. Jangan-jangan, engkau yang mencuri air dari sumur ini?” tanya Sebet.
“Kemurahan hatimu kepada mereka, bak surga,” sambung wanita itu. Seolah-olah tidak menjawab Sebet. “Aku tahu kerinduanmu. Dunia adalah tempatmu hidup. Manusia adalah keturunanmu. Kau membutuhkan semua itu.
“Sekarang berikan aku air. Engkau akan menimba lagi dariku air kehidupan. Rahimmu tidak akan mandul lagi. Dosa-dosamu akan kutebus.
Sebet menganguk-angguk. “Jika ini benar dirimu. Tunjukkan dirimu,” jawab Sebet dengan ragu. Dia mendengar dengan mata yang sendu kata-kata bergaung dari wanita itu. Ia mulai menduga bahwa sebelumnya ada orang yang sepertinya pernah ada.
Terang wanita itu. “Benar pikiranmu. Orang seperti aku pernah ada. Aku hidup sejak lima ratus tahun yang lalu,” Wanita itu berkata dengan sangat santai. “Bahkan, lima ratus tahun semasa hidupku, aku mandul.
Sebet bingung. Dia mengingat cerita sang ayah bahwa memang ada kisah mitologi demikian. Dulu, ada perempuan demikian. Perempuan itu tidak pernah mengandung. Dia bahkan meminta suaminya nikah sirih dengan seorang budak demi mendapatkan keturunan. Namun, dia tidak berhenti percaya. Karena kepercayaanya, dia mengandung. Mengandung dari Roh Kudus.
Setelah bertemu dengan manusia ajaib itu, Sebet merenung dan pelan-pelan menggoyangkan hatinya. Cerita yang dinarasikan wanita tersebut persis sama dengan apa yang dialaminya. Dia sadar bahwa cerita tersebut tidak lain adalah cerita hidupnya. Tapi, Sebet bingung, apa yang akan menimpa hidup dan masa depannya.
Tetapi, sepulang dari sumur yang hendak kering itu, dia merasakan hal yang berbeda. Dia seperti telah mengandung sebuah kehidupan pada rahimnya. Bahkan, rahimnya melonjak kegirangan. Kegirangan yang sangat luar biasa.
Setelah itu, tepat pada bulan Mei, menurut catatan, Sebet akan segera melahirkan. Tetapi ajaib. Sebet tetap perawan. Dia pun secara diam-diam mencaritahu. Ternyata pada saat di sumur yang akan kering itu, dia meminum air kehidupan. Dia pun sadar bahwa itulah hidupnya. Matanya bangkit. )****

* Penulis adalah seorang pencinta cerpen. Banyak cerpen telah ditulisnya dan diterbitkan di beberapa media cetak. Dia berjanji hidup mati bersama secangkir kopi. Sepanjang hari bergelut di hendrikjehadi@gmail.com.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *