HEADLINE NEWS

Selendang Kenangan Mama (Puisi-puisi Sonny Kelen)

Gambar: smescoindonesia.com 

Selendang Kenangan Mama
Kadang-kadang aku bergandang
Menghabiskan beberapa cangkir fikiran tentang
Hidup yang masih kusebut sebagai sehelai selendang
Kenangan mama
Awan hitam selalu hinggap di bulu mataku
Kutatap nasibku yang tergolek rapi di genangan hujan
Pernah di sebuah pertemuan
Saat diam yang polos sengaja diciptakan
Didengarkan aku sajak ibu
Sajak benang ibu yang menjahit sehelai selendang
Berkelipan mencari senyum yang dibungkus rapi
Luka hitam benang putih
Luka sobek benang sembuh
Pada suci jadi putih
Pada luka jadi sembuh
Mama, badai yang dulu jinak di tanganmu
Kini bangkit beringgas mengoyak nyenyakku
Merobek pulas tidurku
Di selendang kenanganmu
Aku tahu, bahwa aku tak pernah mati
Di sebuah hati
Pada benangmu
Yang kini jadi benangku
Tepat di selendang kenanganmu

Selamat Ulang Tahun, Ibu
Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyai barang antik
Atau sekantong bunga yang cantik
Seperti cantik senyummu yang selalu menghiasi
Hidupku sejak menangis pertama dalam pelukanmu
Hingga kini membuatmu tertawa dalam kelelahanmu
Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyai hadiah yang menarik
Seperti kasihmu yang putih
Kala di matamu
Aku adalah bayi mengebas malu
Kembali menyusu kasih
Walaupun usap usang bajumu yang menjadi
Ibuku yang baik
Besok ulang tahunmu
Aku berimu hadiah apa?
Aku tidak mempunyi apa-apa
Hanya puisi ini
Tidak panjang yang penting panjang umurmu
Supaya kapan pun atau di mana pun
Aku masih mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu

Namamu, Ibu
Ibu
Di tamanmu berteduh seroja
Amalmu kekal memikat hatiku
Untuk terus bernaung di alasmu
Kala aku masih lugu
Pesanmu selalu bermuara di kepalaku
“Lekaslah besar anakku, menyongsonglah fajar hidupmu”
Ibu
Redakan badaiku
Biar sunyi dendamku
Seperti hari yang damai setelah
Doamu selesai pada nada amin
Ibu
Aku begitu mencintai jalan ini
Restuilah aku dengan doa merdumu
Di mana aku mengenalnya di rahimmu
Hingga saat ini
Ibu
Bila nanti waktu mempertemukan kita
Aku ingin kembali bertualang di Sorgamu
Selamanya hingga orang-orang tak lagi
Punya jemari tangan yang setia
Mengetuk pintu-pintu langit yang memisahkan kita.
*Penulis sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero, Maumere.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *