HEADLINE NEWS

Pendidikan Setelah Wabah, Jangan Sampai Ada yang Terlupa!

Gambar:  UNICEF/UNI319836/Kanobana 

Oleh Dian B
Terasvita - Setelah semuanya terjadi, yang tersisa adalah manusia-manusia rapuh, manusia-manusia lemah, manusia-manusia yang hidup dalam ketakutan, tidur dalam ketakutan, dan mati pun dalam ketakutan. Kemajuan informasi yang dibawa oleh teknologi justru mengancam aspek terdalam dari diri manusia, yakni batinnya. Sesuatu yang barangkali tidak diyakini ada oleh ortodoksi saintifik, tetapi malah hari-hari ini berpengaruh besar dalam hidup manusia. Batin (Saraf, kata Neurosains) kita terguncang, manusia menjadi makhluk yang tidak tenang, kadang-kadang gegabah, “melihat yang lain sebagai ancaman” dan saya kira bahkan semua ilmuwan dan praktisi ICT (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) juga mengenal rasa takut.
Setiap beberapa tahun, kita dicemaskan oleh kemunculan wabah penyakit mematikan. Dengan sedikit mengabaikan data penyakit yang muncul sebelum abad-21, dua puluh tahun belakangan beberapa virus mematikan menghantam manusia. SARS, 2002/2003, Flu Burung 2005, Henipah Virus 2009, Flu Babi 2009/2010, Ebola 2014, Virus Hendra 2014, dan masih banyak virus mematikan lainnya  (bdk juga. “Ecological of Disease”, John, 14 Juli 2012, nytimes.com).
Namun, semuanya tidak heboh-heboh amat dibandingkan Covid-19, bukan karena kurang ganasnya penyakit-penyakit itu. Tetapi, karena perkembangan TIK saat itu tak secanggih dan masif seperti sekarang. Sementara sekarang, segala macam informasi ada di tangan siapa pun, di android, misalnya. Informasi itu diterima, dibuka, dibaca, diteruskan- oleh manusia yang makin mudah mengakses segalanya- tetapi tanpa “kecerdasan bati” yang memadai.
Sedikit contoh. Kemunculan H1N1 di pertengahan tahun 2009 lalu, tidak membuat orang mengambil tindakan seekstrem sekarang.  Walaupun cara penularannya sama, droplet. Cara pencegahannya sama: Menjaga sistem imun, cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, gunakan masker saat keluar rumah, jaga jarak aman. Dan kendati pun virus itu telah menginfeksi lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan sekitar 575.000 korbannya (Kompas.com). Tetapi, kita masih bisa ke sekolah, masih bisa ibadah, masih bisa mudik, dan lebaran bersama keluarga, masih dapat melakukan apa pun secara bersama.
Kita tidak dilarang ke pasar, tidak sembarangan membawa parang untuk menjaga kompleks, tidak serampangan mengambil kebijakan hingga menyuruh warga: “Jangan ke kebun”. Begitulah, Corona menjadi penyakit menghebohkan, dibandingkan jenis influenza lainnya justru karena dibantu oleh pengaruh perkembangan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi. Sebaliknya, harus diakui bahwa adanya teknologi yang canggih membuat Bangsa Global bisa saling “bertukar informasi” penting tentang penyebaran virus itu, juga cara pencegahannya, guna mengurangi risiko kematian (dibandingkan Flu Babi itu) yang diakibatkan oleh ketidaktahuan-kekurangan informasi. 
Namun, sampai di sini, masalah belum selesai. Di tangan manusia labil dan lemah, teknologi secanggih apa pun akan terlihat lebih sebagai “poti nggelak” (setan jadi-jadian) daripada sebagai “penyelamat”.  Sehingga, ketika semua orang menggebu-gebu berbicara tentang pentingnya pendidikan CIT yang mengharuskan segalanya serba online bahkan untuk masyarakat di lereng pegunungan Meratus yang tak punya akses ke teknologi, kita  mesti segera awas. Ada bahaya besar yang dibawa serta olehnya. Tentu bukan karena teknologi itu sendiri, melainkan karena di dalam diri manusia, terdapat  struktur-struktur tertentu yang membuatnya tidak hanya  menjadi serigala bagi sesamanya dan karena itu dapat berlaku diskriminatif dan destruktif, tetapi juga karena manusia “yang lagak” itu ternyata dapat juga menjadi “tikus basah”  yang ciut nyalinya bahkan di hadapan nyamuk sekali pun.
Maka, di tengah dengungan jargon “Pendidikan Rra Revolusi Industri 4.0”, yang perlu dididik pertama-tama dari manusia itu adalah kecerdasan batinnya: Emosional, sosial dan spiritual. Sesuatu yang kelihatannya kuno, tetapi selalu baru dan bergema. Sebab, untuk waktu yang sangat lama, pengetahuan dan teknologi manusia berkembang pesat, tetapi kelakuan dan ‘batin’ manusia tidak banyak berevolusi. Yang mendesak saat ini adalah perlu dikembangkannya teknologi kelakuan (meminjam istilah Skinner) yang mendidik batin (saraf). Sehingga, di hadapan berbagai macam pengalaman dan ancaman apa pun, kita bisa berlaku cool, tenang, dan tidak terganggu. Suatu sikap batin yang mampu mengambil jarak dari berbagai pengalaman, sambil dengan “sikap bijak”, tidak gegabah bertindak dan menilai apa pun yang terjadi.
Teknologi kelakuan macam itu barangkali belum sampai di tempat kita, tetapi kebijaksanaan hidup, kecakapan, dan kecerdasan batin dapat dimulai di mana saja Anda berada. Caranya, kita berjalan melalui jalan meditasi, mempelajari filsafat sebagai cara hidup, mengusahakan kerendahan hati fransiskan sebagai cara berada. Sehingga, dengan  tenang kita berlangkah bahkan tanpa menerbangkan debu sedikit pun menuju masa depan yang bahagia. Suatu keadaan batin yang diidam-idamkan bangsa manusia. Itulah tujuan segala teknologi, itulah  pendidikan sesungguhnya! 
*Penulis adalah seorang fransiskan. Sedang berkarya di Kalimantan.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *