HEADLINE NEWS

Horor Kematian atau Biasa Saja, Kah?


Gambar:  (chef-1.bbci.co.uk) 
Oleh Dian B.
Terasvita - Orang sekelas Dr. Otto Gusti Madung menulis, “Entah Anda saleh atau kafir juga belum menjadi jaminan aman dari serangan virus mematikan ini. Bahkan, inflasi  kesalehan dengan mengabaikan panduan akal sehat dalam menghadapi pandemi corona tak mustahil berujung pada tragedi kematian” (mediaindonesia.com). Jadi, apa yang ditakutkan dari: Horor Virus Corona?
Bukan sakit-penyakitnya, melainkan kematian. Merenungkan kematian untuk saat-saat seperti ini bukan pekerjaan mudah, malah dianggap sebagai “tak berguna”, dan tentu saja lebih baik membantu orang untuk selamat dari kematian akibat Covid-19 daripada menyodorkan “khotbah” apa makna kematian. Ia, kematian itu, harus dikubur jauh-jauh, dibuang, dihilangkan, dikalahkan atau kalau tak sampai, lebih baik dilupakan. Tulisan ini bukan saran praktis bagaimana menghindari diri dari corona, karena sudah terlalu menumpuk tulisan tentang itu, sampai kadang-kadang meluber dan menciptakan horor yang lebih mengerikan dari ancaman Covid-19 sendiri.
Anda boleh cari: Di suatu daerah di pulau dekat Flores hampir setiap gang dijaga oleh pemuda atau pemudi yang menyelek (membawa) parang di pinggang. Kata mereka, “Untuk mencegah orang masuk kampung”. Seperti juga di tempat lain lagi, jenazah para korban Covid-19 ditolak, yang sakit terancam dimusuhi, yang pulang dari zona merah “dijauhkan”, yang sehat menyendiri, yang merasa diri waras-rasional - hidup dengan panduan akal budi - menuduh yang lain sebagai bodoh dan dungu jika suka berjalan ke luar rumah bahkan untuk “mereka yang susah payah mencari penghidupan: buruh”. Memang tepatlah apa yang ditakutkan oleh kebanyakan orang. Mengutip Harrari, “Covid berubah dari Virus Corona jenis baru menjadi basis diskriminasi terhadap yang lain”: diskriminasi agama, politik, pendidikan, budaya,  ekonomi, ras, teknologi, dst. Begitulah, corona menciptakan berbagai macam ketakutan. Anda boleh menambahkan lainnya.
Nah, daripada saling menuduh dan mencaci maki, mari kita “merenungkan” akibat yang dibawa serta oleh Covid-19: Kematian. Tulisan ini adalah ajakan agar siapa pun yang membaca mau bersikap “wajar” dan realistis di hadapan Horor Covid-19 ini. Sebelum sampai ke sana, kita perlu bertanya: “Kenapa kematian itu begitu menakutkan?” Ada macam-macam alasan sebagai jawaban. Saya tunjukan dua hal saja. Satu, kematian bagi orang yang pesimistis begitu mengerikan karena membuat segala usaha, pekerjaan, hiruk-pikuk yang dibuat di dunia berakhir sia-sia. Atau dengan bahasa sehari-hari kita sering berkata, “Tak ada yang dapat kamu bawa saat mati”: bukan tv, hp, rumah, uang, pekerjaan, harga diri, kesuksesan, dll. Kematianmu adalah kematian sendiri. Saat ini, wabah corona memperkuat itu, bahkan kalau kamu-kita- mati, keluarga terdekat pun tak akan menemani. Kamu akan ditangisi dari jauh, hanya akan ada tangisan virtual, “menangis live streaming”. Begitulah, di tangan kaum pesimistis, betapa mengerikan kematian itu, suatu fakta yang membuat hidup seakan-akan tak bermakna.
Dua. Alasan orang takut mati, terutama juga karena ia tidak mau relasi kasih sayang yang masih dialami terputus. Ia takut bahwa hubungan dengan orang yang disayangi tercabut. Dan bila terjadi, itu pasti sangat menyakitkan. Dikatakan dengan terus terang, begini: ‘Saya takut mati, karena anak-anak saya masih kecil, siapa yang akan memelihara mereka kalau saya mati? Saya takut mati karena saya belum banyak berbuat baik dan belum membalas jasa orangtua. Saya takut mati, karena saya memiliki banyak kesalahan yang belum dimaafkan dan diampuni”. Lagi, kematian itu, memutus dengan tiba-tiba “rasa kasih-sayang”.
Akan tetapi, justru di situlah letak makna kematian, kalau direnungkan. Ingatan akan kematian diri terutama kematian kolektif (banyak orang lain lagi) membuat kita sadar bahwa kita sebaik-baiknya menjalankan hidup ini dengan baik dan benar. Makan dengan baik dan benar, tidur dengan baik dan benar, minum dengan baik dan benar, mandi dengan baik dan benar, cuci tangan dengan baik dan benar, seks dengan baik dan benar, kerja dengan baik dan benar, olah raga dengan baik dan benar, berelasi dengan keluarga secara baik dan benar, berhubungan dengan orang secara baik dan benar, hidup di alam-lingkungan  secara baik dan benar, segalanya dilakukan dengan baik dan benar. Sehingga kita, orang lain, dan alam semesta mengalami kebahagiaan dan “kasih sayang”. Lagi pula, saat mati kita tak akan membawa apa-apa: Karena itu, jangan sombong dan lagak selama di dunia. Nah, kalau begitu itu, hidup merupakan sesuatu yang bermakna, mengagumkan, dan tidak sia-sia.
Sambil tentu saja kita sadar bahwa kematian adalah peristiwa yang pasti terjadi untuk setiap makhluk hidup: Bahwa sejak ia hidup, ia sudah terlalu tua untuk mati (Heidegger), bahwa kita  memang bisa mati, titik! Tentang ini, saya akan mengutip tulisan berikut: “... Dan manusia sudah sewajarnya pasti mati. Hanya soal antrean saja, siapa yang lebih dahulu mati. Dia, kita, kamu, atau anakmu. Jadi, kalau manusia berkodrat bisa mati, aku pun bisa mati… (Setyo Wibowo, 2019:92-93).
Maka, sebaik-baiknya untuk saat ini dan seterusnya, jangan berlebihan memberi penilaian, persepsi, anggapan, dan representasi tentang orang lain, tentang peristiwa-peristiwa, pengalaman-pengalaman, juga terutama tentang kematian. Sambil tentu saja, kita diharapkan “berjuang dalam batas-batas yang wajar”. Dan perlu menerima kematian sebagai bagian dari hidup sambil terbuka pada makna yang dibawanya serta dan berharap bahwa kematian toh tak akan membuat  hidup menjadi absurd dan  sia-sia. Lagi pula, bagi orang beriman: “Kematian bukan akhir segalanya”. Atheis dan agnostik, materialis dan positivis  boleh ketawa. Tetapi, jangan berlebihan!
*Penulis adalah seorang fransiskan, tinggal di Kalimantan.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *