HEADLINE NEWS

Bukit “Empo Sanga” dari Kacamata Seorang Perantau

Beberapa pengunjung lokal sedang berpose di puncak Bukit Batu Empo Sanga (Foto: Abril OFM)

Terasvita – Empo Sanga. Nama itu melegenda di seantero Wontong. Sering dilavalkan, diceritakan, dan diabadikan dalam dongeng-dongeng malam pengantar tidur. Orang-orang yang datang ke sana pun pasti akan menjumpai nama itu. Lantas, apa itu Empo SangaEmpo Sanga adalah nama sebuah batu raksasa atau sebuah bukit batu di sebelah barat Kampung Wontong, Desa Wontong, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Salah satu versi menuturkan, kata empo berarti burung elang raksasa dan kata sanga berarti menerkam mangsa lalu dimakan. Persis, di Bukit Empo Sanga itu ada tempat burung elang memakan mangsanya. Di situ, ada banyak sisa tulang bekas makanan burung elang raksasa itu. Versi lain menyebutkan, kata empo dalam bahasa Manggarai berarti nenek moyang atau leluhur. Sementara kata sanga berarti sebuah bukit yang berbentuk tanduk kerbau. Tidak jelas, apakah versi ini merujuk pada batu raksasa itu.

Mari kita tidak larut dalam debat soal arti nama itu. Yang pasti bahwa dari Bukit Batu Empo Sanga, mata para pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah: Hamparan sawah, rerimbunan pohon-pohon kemiri, panorama gunung-gemunung, kampung-kampung yang diselimuti kabut pada pagi hari atau sore hari, dll. Tambahan pula, persis di hadapan bukit tersebut ada sebuah danau. Orang-orang di Kampung Wontong menyebutnya “Hano Ndoeng”. Sayangnya, danau tersebut tidak dikonservasi sehingga pada musim kemarau airnya semakin berkurang.

Yang menarik adalah sekitar belasan tahun lalu, Empo Sanga  hanya dikenal oleh warga sekitar Wontong, Tehang, Leong, Pongkal, Rado, Baru, Lewat, dll. Namun, sekarang, seiring dengan kemajuan teknologi informasi, Empo Sanga semakin dikenal luas. Beberapa channel youtube amatiran mendokumentasikannya. Selain itu, media nasional kompas.com pernah menyajikan berita seputar bukit batu ini. Banyak pula akun facebook yang coba mem-booming-kan panorama yang disajikan oleh Empo Sanga.

Dan, pada jarak yang entah, saat nama itu pelan-pelan dikenal luas, sebagai anak manusia yang dahulu sering bermain-main di sekitar bukit batu tersebut, kami ikut berbangga. Kami punya kenangan yang indah tentangnya: kenangan mencari kayu bakar, riang (menjaga kebun dari babi hutan, babi landak, kera, dll) membekas di ingatan. Kalau boleh jujur, saat ini, ada rasa bangga yang bercampur rindu tentang bukit batu tersebut. Bangga karena sudah semakin dikenal luas dan juga rindu karena punya kenangan manis di sana.

Dalam perasaan yang bercampur aduk itulah, jari-jemari ini menari-nari di atas papan keyboard notebook tua yang kami beli beberapa tahun lalu ini. Kami ingin menulis tentangnya. Dengan demikian, “apa-apa yang ditulis ini” bukanlah hasil riset yang mendalam; sekadar berbagi dari apa yang bisa kami amati dari kejauhan sebagai seorang perantau yang berusaha untuk tidak lupa dengan “tana mbate dise ame, beo serong dise empo” (Tanah warisan leluhur- red).

Bahwasanya, Empo Sanga yang sudah dikenal luas dan dilirik oleh Asosiasi PerusahanPerjalanan Wisata Indonesia (Asita) Cabang Manggarai Barat (bdk. Kompas.com, 24/1/2019) sebagai salah satu aset wisata Manggarai Barat meniscayakan akan banyak orang yang datang baik lokal maupun mancanegara yang ke sana. Entah sebagai pelancong. Entah sebagai pendaki gunung. Entah untuk keperluan riset. Atau sekadar melirik nana-nana (pemuda-red) dan enu-enu (pemudi-red) di kampung di sekitar tempat tersebut dengan modus berwisata. Hehehehe.

Oleh karena itu, tulisan sederhana ini mencoba menelaah fakta Empo Sanga yang sudah diorbitkan menjadi destinasi wisata dan sudah dikenal luas itu dari dua sudut pandang atau “kacamata” seorang perantau: Bukan orang yang terlibat penuh dan yang hari-hari menjumpai situasi riil di tempat tersebut. Kami hanya punya “modal” kenangan” dan juga menjumpai banyak tempat dan managemen wisata di tanah perantauan. Adapun dua sudut pandang atau “kacamata” itu, yakni kacamata peluang dan kacamata tantangan.

Satu: Kacamata peluang. Dari segi peluang ada beberapa yang bisa dimunculkan dari keberadaan bukit batu tersebut. Adapun peluang-peluang itu antara lain sebagai berikut.

Pertama, peluang sektor ekonomi. Empo Sanga sebagai sebuah destinasi wisata harusnya meransang perekonomian masyarakat sekitar. Produk-produk khas masyarakat akhirnya mendapatkan pasar, seperti tuak, gula merah, kerajinan tangan mama-mama, dll. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Wontong mutlak perlu memberdayakan sektor ekonomi tersebut. Selain itu, keberadaan Empo Sanga bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa melalui retribusi bagi wisatawan asing yang masuk. Pemerintah Desa Wontong juga perlu merevitalisasi Hano-Danau Ndoeng yang berada di dekat Bukit Batu Empo Sanga menjadi tambak ikan air tawar dan menjadikannya tempat wisata mancing terutama bagi masyarakat sekitar.

Kedua, peluang sektor pendidikan. Tak jauh dari bukit batu tersebut, ada sebuah SMA dan SMP Negeri. Dengan digenjotnya Empo Sanga menjadi tempat wisata, maka anak-anak di dua sekolah tersebut bisa mempraktikkan kemampuan bahasa Inggris mereka dengan turis-turis asing. Mereka juga bisa mengundang turis-turis asing itu ke sekolah mereka. Dengan demikian, mereka terlatih untuk berbahasa Inggris, yang hari ini menjadi “modal” yang berarti dalam dunia kerja di mana pun. Tentu saja, di sini mensyaratkan kemampuan lobi dari pihak sekolah.

Ketiga, peluang sektor budaya. Wisata alam Empo Sanga bisa diduetkan dengan wisata budaya. Oleh karena itu, adalah sebuah keharusan bagi pemerintah desa setempat untuk merevitalisasi budaya. Selain untuk kepentingan menghibur para wisatawan juga agar budaya itu tidak hilang, tetapi juga agar budaya warisan nenek moyang terus diwariskan kepada generasi muda. Oleh karena itu, adalah sebuah keharusan bagi Pemerintah Desa Wontong dan juga desa-desa tetangga untuk membentuk kelompok sanggar budaya dan merevitalisasi kampung-kampung tua dengan aneka peninggalannya.

Dua: kacamata tantangan. Menjadikan Empo Sanga sebagai sebuah destinasi wisata tidaklah instan. Perlu ada upaya yang sistematis, masif, terencana, dan terukur. Menurut hemat kami, tantangan yang dihadapi dalam menggenjot BukitEmpo Sanga sebagai destinasi wisata (lokal) adalah sebagai berikut.

Pertama, kebersihan. Wisata identik dengan kebersihan. Karena orang yang mau berwisata akan merasa kerasan kalau tempat-tempat yang dikunjungi itu bersih. Bagaimana orang merasa kerasan kalau yang dijumpainya adalah sampah-sampah. Oleh karena itu, hemat kami, Pemerintah Desa Wontong perlu menggarap serius soal sampah ini: Menyediakan tempat sampah di berbagia sudut, menjaga kebersihan jalan, setiap rumah wajib punya toilet permanen, dll. Yang lebih utama adalah membangun budaya bersih dan budaya sampah dalam diri masyarakat secara personal maupun komunal. Hal itu bisa melalui sosialisasi dan pelatihan pengolahan sampah, perlombaan lingkungan yang paling bersih, dll.

Kedua, air. Salah satu masalah besar di desa-desa sekitar Empo Sanga itu adalah air bersih. Banyak sumber-sumber air yang tidak memadai lagi debitnya. Dugaan kami, karena di banyak kawasan resapan air seperti Puar (hutan-red) Empo Sanga, Puar Menjala, Puar Mburut, dll terjadi penebangan hutan secara besar-besaran pada awal tahun 2000-an. Saatnya, menurut hemat kami, untuk merawat kembali kawasan-kawasan resapan air tersebut. Upaya ini penting untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat dengan pemerintah desa sebagai leader-nya.

Akhirnya, menangkap aneka peluang sekaligus mengatasi tantangan-tantangan itu, kami melihat Desa Wontong sebagai wilayah admistratif di mana Bukit Empo Sanga itu berada memiliki modal sosial yang tinggi untuk menyambutnya. Warga desa tersebut punya keramahan terhadap tamu yang datang mengunjungi. Warga sekitar juga mudah digerakkan untuk bergotong-royong memajukan sektor tersebut. Hal ini tentu saja mengandaikan pemerintah desa setempat mau melirik dengan serius sektor tersebut dan ada sosok yang kuat dan konsisten untuk mengorkestrasi program tersebut.

Rian Safio, perantau!

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *