HEADLINE NEWS

Taman Getsemani dan Pembaruan Ketaatan Manusia

ilustrasi
Terasvita - Sejarah penyaliban Sang Guru Kehidupan dari Nazareth (baca: Yesus) tidak bisa melewatkan tempat yang satu ini, yaitu Getsemani. Bagi orang Kristen, Getsemani tidak hanya sebuah tempat dengan segala unsur biotik dan abiotik di dalamnya. Lalu, ada apa di Getsemani? Mari simak lebih dalam!
Panorama Getsemani
Getsemani secara etimologis diambil dari kata bahasa Ibrani dan Aram, yang berarti peras minyak (zaitun)Oleh karena itu, kata Getsemani itu kurang lebih menunjukkan dua hal, yaitu sebuah kebun zaitun dan sebuah alat peras minyak untuk memeras minyak  zaitun (lih. Donald A.D. Thorsen, “Gethsemane, dalam: David Noel Freedman  (ed), The Anchor Bible Dictionary, New York: Double Day, 1922, hlm. 997).
Penginjil Matius dan Markus menyebut Getsemani sebagai “bungkusan” Bukit Zaitun. Taman Getsemani terletak di seberang Sungai Kidron (Yohanes 18:1)Tempat ini persis berada di lereng Bukit Zaitun  (Matius 26:30). Dari Kota Yerusalem berada di hadapan dari kota tersebut. 
Di Taman Getsemani banyak ditumbuhi pohon-pohon zaitun, Besar kemungkinan bahwa pohon-pohon zaitun yang sekarang ada tersebut  sejak zaman Yesus di dunia; Pohon-pohon tua tersebut masih bisa berbuah (Sami Awwad, Tanah Suci dalam Gambar Berwarna, hlm. 16).
Di taman Getsemani juga terdapat sebuah gereja. Sejarah gereja tersebut banyak mengalami pasang surut. Pada tahun 379 dibangun sebuah basilika pertama di tempat di mana Yesus berdoa dan mendapatkan derita. Akan tetapi, pada tahun 614, basilika tersebut dirobohkan oleh Bangsa Persia. Gereja tersebut dibangun kembali oleh kesatria perang salib pada abad ke-12. Akan tetapi, sama seperti nasib gereja pertama di mana gereja itu kemudian dihancurkan. Penandaan pembangunan kembali gereja tersebut, yaitu pada tahun 1919-1924. Dalam pembangunan tersebut ada 16 negara yang turut berpartisipasi dalam pendanaan. Gereja tersebut diberi nama “Gereja Segala Bangsa” (Sami AwwadIbid, hlm. 14).
Getsemani dan Yesus
Oleh kebanyakan orang, Getsemani sering disebut dengan Eden baru. Ada Eden baru berarti ada Eden lama. Eden lama menunjuk pada tempat di mana manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, tinggal dalam kelimpahan. Di Eden lama juga terjadi ketidaktaatan Manusia pada Alllah. Manusia bertekuk lutut di bawah rayuan busuk si ular untuk memetik buah terlarang (bdkKejadian 3). Akibatnya manusia pertama diusir dari Taman Eden.
Getsemani sebagai Eden baru paradoks dengan Eden lama. Letak paradoks tersebut adalah pada ketidaktaatan dan ketaatan. Eden lama adalah tempat ketidaktaatan manusia yang direprensentasi oleh Adam dan Hawa. Sedangkan, Eden baru (Getsemani) adalah tempat di mana manusia yang diwakili oleh manusia Yesus (dan  juga Allah Yesus) sungguh taat pada Bapa.  “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan  kehendak-Mulah yang terjadi (Lukas 22:42).
Di Getsemani, ketaatan manusia terhadap Allah dibarui. Kehendak kemanusiaan  Yesus mengikuti kehendak keallahan-Nya. Manusia tidak berlagak sebagai "Allah" sebagaimana tawaran si ular beludak itu yang membuat Hawa kemudian Adam tidak mampu menolaknya. Yesus membarui ketidaktaatan dengan mau memikul salib hingga di puncak Kalvari. 
Getsemani sering digunakan Yesus sebagai tempat untuk berdoa, istirahat, dan berkumpul bersama murid-murid-Nya (bdk. Lukas 21:37, 22:39, dan Yohanes 18:2). Getsemani menjadi saksi bisu dari beberapa peristiwa penting saat detik-detik terakhir ketika Yesus, Sang Guru Agung, hendak diserahkan pada tangan orang Yahudi untuk disalibkan.
Pertama, Yesus bersama murid-murid-Nya, yaitu Petrus, Yohanes, dan Yakobus (Bdk. Markus14:33). Mereka pergi ke situ setelah mengadakan perjamuan terakhir. Yesus meminta murid-murid-Nya untuk berdoa dan berjaga bersama-Nya. “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam penggodaan (Lukas 22:40). Dalam momen ini tampak ketidaksetiaan manusia pada Allah. Para murid bukannya berdoa tetapi malah tidur.
Kedua, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya. “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah terjadi (Lukas 22:42). Yesus taat pada kehendak Bapa-Nya sekalipun nyawa-Nya sendiri yang menjadi taruhan.
Ketiga, Yudas menjual Yesus dengan ciuman (Bdk. Matius 26:47-48). Sungguh mengerikan dan mungkin tidak masuk akal. Seorang yang telah dididik dengan susah payah dan diformat dalam hidup injili tetapi kemudian menjadi penjahat. Dengan sebuah ciuman Yesus pun jatuh ke tangan orang-orang Yahudi.
Keempat, Petrus memotong telinga Malkhus (bdk. Yohanes18:10). Petrus bermaksud membela tetapi malah ditegur oleh Yesus: “Sarungkanlah pedangmu! (Yohanes 18:11).” Yesus mengajarkan tentang perdamaian. Berjuang demi kebenaran bukan dengan pedang.
Kelima, Yesus ditangkap (Yohanes 18:12, Lukas 22:54). Setelah dialog dengan para penatua Yahudi, akhirnya pun Yesus ditangkap. Awal kesengsaraan Yesus dimulai hingga Yesus wafat di Salib.
Getsemani bukan hanya sebuah nama tempat. Akan tetapi, tempat itu memiliki arti. Tempat yang tidak bisa dilepaskan dan dielakkan dari peristiwa Yesus historis. Bahwasanya, di tempat itulah juga terjadi keselamatan dan pembaruan ketaatan manusia pada Allah.***
Rian Safio, alumnus STF Driyarkara, Jakarta

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *