HEADLINE NEWS

Sehimpun Puisi Sambut Paskah Suci: Karya Ewack Lehot

ilustrasi
(1)  Puasa
Puisi-puisi yang hendak saya tulis hari ini
sedang risau dan merana di atas meja belajar
Saling salah. Saling sapa
Soal siapa yang membuat saya gelisah dan malas untuk melanjutkan puisi hari ini
Saya puasa dulu menulis
Tuhan akan tiba di rumah saya Sabtu malam
Saya harus membersihkan diri terlebih dahulu.

(2) Mohon Ampun
Hening tanggal dari pembaringan.
Rumah Tuhan sepi dari kidung dan nyanyian.
Ada cahaya yang baru bermekaran dari genggaman seorang pendosa.

(3)    Di Taman Getsemani
Di taman Getsemani senja baru saja tiba
Garis-garis kuning cahayanya,
melukiskan mata yang kini sedang berlabuh di suatu pulau.
Pulau yang sepi dan pilu.
Di kaki bukit,kunang-kunang bercahaya mengalahkan bulan
Doa-doa bermekaran menimbah rahmat di bawahnya.
Dingin merarajut sepi
Angin merajut sunyi.
Di Taman Getsemani
 Ia takut akan jalan.
Jalan yang penuh gelisah dan derita.

(4) Jumat Agung
Aroma-aroma kemenyan menabur galau di setiap sudut-sudut rumah Tuhan
Salib kemenangan mengalirkan sukacita,yang di bawahnya dosa dan doa kehausan
Di luar masih hujan sayang, aroma-aroma daun-daun jatuh mengabarkan dukacita dan mohon ampun
Di dalam rumah Tuhan syadat dan antifon dikidungkan
Mari berdoan dalam jalan salib Kristus.

 (5) Ruang Tunggu
Cahaya-cahaya lampu menggantikan cahaya bulan
Sekujur jendela membasuh diri dengan debu dan sejuk
Aroma-aroma surya pecah menjadi bias-bias cahaya lilin
Hujan datang dengan puisi tentang kopi
Burung-burung gereja sedang asiknya menyanyikan puisi agung dari atas balkon
Dengan sepasang lilin dan aroma bahagia kami berlutut dan bertelut dengan kidung dan antifon
Dengan syair-syair kudus dan agung.
Mari menanti paskah Tuhan.

*Ewack Lehot, siswa kelas 11 SMA Seminari Pius XII, Kisol-NTT

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *