HEADLINE NEWS

Pilkada Serentak 2020 dan Figur yang Layak Dipilih

Gambar: https://metrobali.com 
RD Stephanus T. Rahmat
Terasvita Di tengah pandemi virus corona saat ini, wacana-wacana seputar politik tak semestinya diabaikan. Akan tetapi, tetap diberi “ruang” meskipun tak seluas ruang yang kita berikan untuk membincangkan dan bertindak untuk mengatasi virus jahanam itu.
Dengan segala kekuatan yang dimiliki bangsa ini, dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara selain soal corona tetap harus dijalankan dan diupayakan jalan keluarnya. Salah satu yang penting adalah soal politik. Dan, tahun 2020 ini, jauh-jauh hari kita sebagai bangsa mengagendakan pemilihan kepala dan wakil kepala daerah di sejumlah tempat.
Oleh karena itu, dalam rangka menyambut Pilkada yang direncanakan pada 9 Desember mendatang itu, masyarakat perlu diberi semacam panduan dalam memilih calon. Pasalnya, pilihan saat pilkada sangat menentukan kesejahteraan daerah kita lima tahun ke depan. Bila kita salah memilih pemimpin, seperti semata-mata karena alasan suku dan agama atau alasan uang, maka yang namanya kemajuan dan kesejahteraan akan terasa jauh dan seperti orang asing dalam kehidupan kita.
Hemat kami, ada sejumlah kriteria figur yang layak dipilih. Kriteria-kriteria itu tidak dimaknai terpisah, tetapi mesti satu “paket”. Masyarakat mesti mengenal dengan baik calon-calon pemimpin yang dipilih. Maka, di sini, transparansi calon dan peran media sangatlah penting agar masyarakat tidak seperti “memilih (membeli) kucing dalam karung”. Adapun kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, track record (rekam jejak) calon atau paslon. Track record seseorang mencerminkan sifat dan hal apa saja yang pernah dilakukan. Dengan mengetahui sifat baik yang ada di dalam diri calon atau paslon, maka hal tersebut dapat menjadi dasar untuk terpilih menjadi pemimpin, bukan sekadar pencitraan ketika sedang melakukan kampanye.
Kedua, menjadi teladan/contoh. Seorang pemimpin harus menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat. Pilihlah pemimpin yang memberikan keteladanan dalam hal kejujuran, keadilan, kebenaran. Pemimpin yang berakhlak mulia dan beragama, sebab pemimpin adalah keteladanan. Teladan yang dapat dijadikan contoh merupakan nilai lebih yang harus diperhatikan saat memilih seorang pemimpin. Dengan teladan yang baik, seorang pemimpin akan mendapatkan kehormatan dari orang-orang yang dipimpin. Dengan teladan dan sikap yang baik, seorang pemimpin dapat mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya untuk menjadi lebih baik. Seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Pemimpin seharusnya lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Ketiga, integritas.  Integritas adalah karakter dan perilaku etis. Ia bermain pada aspek moral dan sifatnya personal. Pemimpin sebagai figur publik harus memiliki integritas tinggi. Satunya pikiran, perkataan dan perbuatan menjadi ciri khas seorang pemimpin yang memiliki integritas. Selain itu, pemimpin yang selalu tampil bersahaja, tetapi memiliki keberanian untuk memikul tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Keempat, karitas. Inilah yang sekarang menjadi mantra popular, yaitu  pemimpin sebagai pelayan. Pemimpin memiliki sifat rendah hati dan respek kepada orang lain. Jabatan adalah amanah. Oleh karena itu, amanah tersebut harus dipertanggungjawabkan kepada konstituennya dengan cara melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Kelima, kompetensi (kapabilitas). Dalam ranah manajemen, kapabilitas merupakan gabungan dari motivasi, pengetahuan, dan ketrampilan. Orang yang memiliki kapabilitas berarti orang yang paham dan ahli akan bidang pekerjaannya. Pilihlah pemimpin yang memiliki kemampuan yang memadai dalam suatu bidang dasar yang dipimpinnya. Dengan adanya kompetensi yang memadai, maka pemimpin tersebut dipastikan mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami. Pemimpin yang memiliki kompetensi akan selalu tampil sebagai “problem solver”, dan bukan sebagai “problem maker”. Kemampuan untuk memecahkan masalah dan menyusun rencana ke depan merupakan modal dasar yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Sebab, tanpa kompetensi, pemimpin sulit untuk mengatur orang-orang di bawahnya dan langkah-langkah apa saja yang perlu untuk mewujudkan visi kepemimpinannya.
Keenam, bisa dipercaya. Pilihlah pemimpin yang mampu mengemban amanah rakyat yang mendukungnya. Saat kita memilih pemimpin yang dapat dipercaya, maka dapat dipastikan ia mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Dia memahami tugas dan fungsi sebagai pemimpin. Pemimpin seperti ini tidak akan serta merta meninggalkan tanggungjawab yang harus dijalaninya.
Ketujuh, memiliki otoritas dan mengetahui tujuan.  Sesuai dengan namanya, otoritas merupakan wewenang jabatan dengan basisnya legalitas formal. Tujuan otoritas adalah untuk menggerakkan organisasi. Di dalamnya juga termasuk alat untuk menegakkan disiplin dan peraturan. Seorang pemimpin harus tegas, tegar, dan tegak dalam menerapkan peraturan. Selain memiliki ororitas, pemimpin adalah orang yang berada pada garis terdepan untuk menentukan ke arah mana kepemimpinannya.  Jika pemimpin tidak mengetahui orientasi tugasnya, maka dia sama saja menyesatkan semua orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus mempunyai orientasi yang jelas supaya tidak kehilangan arah (disorientasi) dalam memimpin masyarakat. Oleh karena itu, pada saat memilih seorang pemimpin, kita harus yakin bahwa calon pemimpin memiliki orientasi yang jelas dan tidak mengambang. Seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi yang berorientasi atau berpihak pada kepentingan atau kebaikan semua orang.
Jika kita memilih pemimpin berdasarkan kriteria-kriteria ini, maka kita termasuk kategori pemilih yang cerdas, dan bukan pemilih yang terkontaminasi oleh politik identitas yang syarat dengan kepentingan kelompok atau etnis (primordial). Jika kita cerdas dalam memilih seorang pemimpin, maka kita akan mendapatkan pemimpin yang berkualitas baik dan memiliki kekuasaan yang sah (legitimate power) serta berkompeten pada bidangnya.
Sebaliknya, jika politik identitas masih menguat dalam proses pilkada serentak tahun 2020, maka kita sulit untuk mendapatkan pemimpin yang mampu mengayomi semua kelompok atau golongan. Semoga pada pilkada serentak tahun 2020 ini, masyarakat semakin banyak mendapat pencerahan dan penyadaran tentang hak politiknya supaya dapat memilih pemimpin berdasarkan kompetensi yang dimiliki dan bukan berdasarkan politik identitas. Marilah kita menjadi pemilih yang cerdas dalam menggunakan hak pilih supaya kita memperoleh pemimpin yang berkompetensi mumpuni serta berkarakter melayani semua orang tanpa pamrih. )***
*Penulis adalah dosen di Unika Santu Paulus, Ruteng-NTT.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *