HEADLINE NEWS

Kehancuran “Ibu Bumi” Bermula dari Isi Kepala Kita

Gambar: https://mujerycampo.com 
Oleh Rian Safio 
Terasvita – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 22 April sebagai Hari Bumi (Earth Day). Dilansir dari National Geographic, cikal bakal penetapan Hari Bumi itu adalah pidato Geylord Nelson, Senator Amerika asal  Wisconsin, pada tahun 1969 perihal lingkungan. Lalu, pada 22 April 1970, 20-an juta warga di Amerika turun ke jalan menuntut kelestarian lingkungan.
Dalam rangka memaknai momen itu, gagasan yang terangkai dalam tulisan ini pun dibuat dan “dibagi-bagikan”. Semoga! Tulisan ini tidak untuk gagah-gagahan, tetapi sesungguhnya adalah sebuah panggilan nurani untuk menyuarakan kegelisahan perihal bumi, rumah kita bersama. Karena, dari waktu ke waktu, bukanlah sebuah buih verbal kalau mengatakan bumi kita di tepi jurang kebinasaan.
Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus (2015), melukiskan secara amat baik perihal kondisi bumi, rumah yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, saat ini: “Saudari ini sekarang sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasa atasnya…” (LS art.2)
Kembali ke soal kegelisahan kami. Pada kesempatan ini, untuk menyalurkan  dan menyuarakan kegelisahan  itu, kami mengemasnya dalam sebuah ulasan buku; tidak mendetail, tetapi menyajikan garis besarnya. Semoga dengan satu dan lain hal, kegelisahan-kegelisahan kita masing-masing dipertemukan dalam upaya merawat bumi, tempat semua ciptaan hidup dan saling menghidupi. Demikian pun upaya sederhana ini, semoga berjumpa di satu titik simpul yang satu dan sama dengan berbagai upaya-upaya positif lain untuk menyembuhkan dan merawat  ibu bumi ini.
Adapun buku yang kami maksud adalah “Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama  Fritjof Capra”, sebuah hasil pergumulan intelektual dan kegelisahan esksistensial Dr. Sony Keraf,  Menteri Lingkungan Hidup Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001). Sejatinya, buku tersebut merupakan kelanjutan dari dua buku sebelumnya dari alumnus STF Driyarkara itu, yakni "Etika Lingkungan Hidup"  dan "Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global". Dengan demikian, memaknai dan memahami isi buku ini tidak bisa lepas dari kedua buku itu, meskipun ketiganya tidaklah sama dan memiliki penekanan pada masing-masing kajian.
Buku setebal 224 halaman itu diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, Yogyakarta, pada 2014 silam. Terdiri atas 7 bab. Bagi kami, ulasannya sangat terstruktur dan sistematis dari sudut pandang sebagai sebuah ulasan filosofis. Untuk membacanya pun, Anda harus mengencangkan ikat pinggang dan menyediakan secangkir kopi agar tidak terlalu mengernyitkan dahi untuk memahaminya; membacanya dengan rileks, tetapi tentu saja tidak seperti membaca  sajian berita online yang penyajiannya “terbantai” demi click-bike.
Perlahan-lahan menuju ke kedalaman. Tesis utama yang melandasi pemikiran buku ini adalah kerusakan lingkungan hidup global itu karena ada yang salah dengan isi kepala kita. Dengan kata lain, degradasi lingkungan yang kita hadapi saat ini dengan beragam bentuknya bermula dari isi kepala kita yang salah atau timpang. Asumsinya adalah tindakan kita yang merusakkan alam  itu adalah manifestasi isi kepala kita atau pemahaman kita tentang alam semesta atau lingkungan hidup (hlm. 9).
Lantas, isi kepala seperti apa? Isi kepala yang dimaksud adalah cara berpikir atau paradigma mekanistis-reduksionalitis. Adapun paradigma ini sangat dipengaruhi oleh filsafat Rene Descartes dan fisika Issac Newton. Paradigma inilah yang mendiami ruang kepala  “Barat” dan bahkan memberikan corak bagi peradaban Barat modern (hlm. 61).
Dalam paradigma mekanistis-reduksionalitis, alam dilihat sebagai sesuatu yang mati, yang kering, dan dipahami dalam rumusan matematis yang dikuantifikasi dan diukur. Alam hanya dipandang sebagai objek yang keberadaannya sebagai pemuas kebutuhan Sang Ego. Alam semesta dipandang sebagai sesuatu yang lain atau sebagai mesin penghasil uang dan penyerap lapangan kerja. Tidak lebih. Alam semesta direduksi sebagai  barang ekonomis semata. Tak peduli dengan dimensi keterkaitan, ketergantungan, spiritual dari alam itu sendiri.
Cara pandang ini mungkin tak mengalami kesulitan untuk menemukan perwujudannya dalam kehidupan kita hari ini khususnya berkaitan dengan lingkungan. Donald Trump, misalnya, mencabut semua regulasi lingkungan di negeri Paman Sam warisan Pemerintahan Obama (Kompas, 30 Maret 2017). Sembari mencabut regulasi tersebut, presiden asal Partai Republikan itu menuduh isu lingkungan sebagai propaganda Cina. Ia memuji para pengusaha tambang batubara di negeri itu karena menyediakan lapangan kerja secara luas melalui operasi tambang terbuka.
Paradigma Tandingan atau Alternatif
Hemat kami, yang mengagumkan dari buku tersebut adalah paradigma tandingan atau paradigma alternatif yang ditawarkannya, yakni paradigma sistemis-organis (bab III). Paradigma sistemis-organis sebagai sebuah pukulan telak terhadap paradigma mekanistis-reduksionalitis. Dalam paradigma sistemis-organis, alam semesta tidak dipikirkan sebagai sebuah mesin yang terdiri dari objek yang beragam, melainkan sebagai sebuah kesuluruhan yang tak terpisahkan dan bersifat dinamis dengan bagian-bagian yang terkait erat satu sama lain dan dapat dipahami hanya sebagai bagian dari proses kosmis menyeluruh.
Paradigma sistemis-organis memandang hidup dan kehidupan mempunyai  struktur, yaitu sebuah sistem yang mampu meregenerasi, memproduksi, dan mengatur dirinya melalui proses dinamis dengan menyerap materi dan energi dari lingkungan dan mampu menghasilkan energi dan materi bagi kehidupan lainnya.
Konsekuensi dari paradigma ini adalah kita hidup dalam prinsip, yang oleh Capra disebut dengan “melek ekologi” atau ecoliteracy, yang berisikan prinsip-prinsip ekologis sebagai landasan membangun masyarakat yang berkelanjutan, yang tidak punah karena dominasi suatu makhluk. Dengan ecoliteracy ini, Capra mendambakan agar masyarakat modern kita-termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini- baik sistem ekonomi, sosial, politik, pendidikan bahkan kehidupan sosial kita sehari-hari,  harus ditata ulang dengan berlandaskan prinsip-prinsip ekologis yang kita ambil dari alam sebagai sebuah sistem atau jejaring kehidupan (Bab  IV).
Selain itu, model hidup yang bersumber dari paradigma sisitemis-organis yaitu gerakan bioregionalisme. Bioregionalisme ini sebenarnya mengajak kita untuk mendiami kembali tempat kita dilahirkan dan kita hidup sesuai dengan keniscayaan atau kesenangan yang disajikan oleh tempat khusus yang khas yang telah menyatu dengan hidup setiap orang sejak lahir. Kita hidup sesuai dan dengan menjaga daya dukung dan daya tampung alam sekitar sebagai sebuah keniscayaan hukum  alam, yang karena itu selalu membangun pola hidup ekonomis dan ekologis yang  harmonis, serasi, dan seimbang.
Catatan Akhir
Demikianlah sajian yang dipaparkan Dr. Sony Keraf dalam buku tersebut. Sebuah upaya yang tentu saja layak diapresiasi dan semoga akhirnya mengetuk pintu hati kita dan banyak orang, terutama para pengambil kebijakan di level lokal, nasional dan internasional, untuk memikir ulang cara berpikir kita terhadap alam semesta atau lingkungan hidup. Menata ulang “isi kepala” kita yang mungkin sudah terlanjur salah dengan memandang alam semesta sebagai sesuatu yang mati, mekanis, dan mereduksinya sebagai mesin raksasa yang menghasilkan aneka kebutuhan perut semata.
Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kita dihadapkan hanya satu pilihan, yakni menata ulang isi kepala kita atau cara berpikir kita terhadap alam semesta atau terhadap bumi. Bahwasanya, kita tidak bisa terus-terusan begini: mengeruk alam semata-mata demi kebutuhan perut segelintir orang dan ujung-ujungnya bumi kehilangan keseimbangan yang justru akhirnya balik menyerang manusia tanpa pandang bulu, baik terhadap yang berperan besar merusak bumi maupun terhadap orang-orang yang tanpa sejengkal pun terlibat merusaknya.
Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, dalam misa pontifikal yang disiarkan melalui TVRI pada Minggu 12 April 2020, mengungkapkan, virus yang mewabah hari-hari ini bisa jadi karena dosa ekologis yang kita semua lakukan. Menurut Ketua KWI itu, di antara banyak pendapat perihal sebab wabah yang merenggut ratusan ribu nyawa di seluruh dunia itu, alasan dosa ekologis merupakan alasan yang tidak begitu sulit untuk dipahami secara akal sehat. Itu berarti kepada kita diberi mandat untuk melakukan pertobatan ekologis dan itu mulai dari isi kepala kita.
Akhirnya, apa pun latar belakang keyakinan dan budaya kita, pandemi covid-19 menjadi alarm panjang yang menyadarkan kita akan ada yang salah dengan cara-cara kita memperlakukan alam ini. Seperti asumsi dari buku ini bahwa sikap kita terhadap alam adalah manifestasi pikiran kita, karena itu sudah waktunya kita memperbaiki “isi kepala” kita yang memandang alam atau bumi sebagai “mesin raksasasa” untuk menghasilkan kebutuhan perut semata. Ingat! Bukan bumi dan aneka isi di dalamnya yang bergantung pada kita, melainkan kitalah yang bergantung pada mereka. Selamat Hari Bumi 2020!!!
*Penulis adalah peminat isu lingkungan hidup.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *