HEADLINE NEWS

Jasa Besar “Kulit Kaye”: Memoria Anak Kampung

ilustrasi

Terasvita – Apa yang terbersit di benak Anda ketika mendengar kata “kampung”? Apakah sebuah tempat yang penuh gegap gempita? Tentu saja, tidak. Apakah tempat yang selalu mengakrabi kesunyian? Ya. Meskipun, sesekali dalam setahun, kampung menjadi gemuruh, seperti ketika upacara penti, pesta sekolah, dll.
Mari sejenak pulang ke kampung: tempat ari-ari kita dikuburkan; tempat kita bermain ria di tanah yang lapang; tempat kita  menangkap kunang-kunang di bawah purnama  yang cantik; “Tempat dulu kami bermain, mengisi hari di kerasnya kampung (kota)…,” kata Iwan Fals dalam sepenggal syair  lagu “Ujung Aspal Pondok Gede”; dst.
Yah. Kampung tentu tidak identik dengan kampungan. Bagi kami, sekurang-kurangnya penulis cerita ini, kampung menyajikan  cerita kehangatan bertetangga, solidaritas  yang utuh dan tulus dengan sesama, kesederhanaan hidup, kebersatuan dengan alam dan Sang Pencipta (bdk. Peter. C. Aman OFM, “Spiritualitas Kampung”, dalam: jpicofmindonesia.com), kekompakan;  juga keterbatasan dan kekurangan  fasilitas: kesehatan, pendidikan, informasi, dll.
Kami nggak tahu apakah kampung yang sekarang  masih sama dengan kampung yang kami alami zaman doeloe. Kemungkinan besar: berbeda. Sekarang, kampung-kampung sudah lebih maju: kendaraan roda dua dan empat  wara-wiri di kampung-kampung, anak-anak  kampung sudah banyak yang akrab dengan teknologi kekinian, dst.
Apa pun model “kampung” sekarang; cerita ini hanyalah sekelumit cerita tentang  “kampung yang doeloe”: Sekadar mengenang kembali dan juga merawat ingatan bahwa kami pernah berkanjang ria dalam kesederhanaan dan keterbatasan kampung. Atau: narasi ini (mungkin) membuka  pikiran “anak kota” bahwa begitu toh hidup di kampung, dulu, zaman tidak enak. Sekali lagi,  bukan apa-apa sih,  hanya sekadar…
Begini: dulu,  dulu sekali,  di kampung kami, di Washington  Wontong, Flores, NTT, belum ada televisi, koran, majalah. Persis, informasi dari luar sulit untuk kami jangkau.  Kampung tetangga juga sama; tidak beda jauh dengan kampung kami.
Media informasi mainstream yang ada di rumah kami, juga di beberapa rumah tetangga, hanyalah radio. Namun, alat teknologi yang ditemukan Guglielmo Marcono itu seperti hidup enggan dan mati pun tak mau. Soalnya, hidup dan mati barang itu tergantung seberapa  rajin  kami jemur batu batrei di atap rumah.
Namun demikian, apa mau dikata: nama beken di kancah persepakbolaan internasional kala itu akrab di telinga kami. Nama-nama mereka sering kali kami lafalkan dan menghiasi dinding rumah dan dinding sekolah. Bahkan, sebagian teman mengikuti gaya rambut para pemain itu. Sebut saja nama pemain yang familiar zaman itu adalah Ronaldo de Lima (Brasil), Rivaldo (Brasil), Michael Owen (Inggris), Luis Figo (Portugal), David  Beckham (Inggris), dll.
Selain nama-nama pesepak bola, artis-arti nasional, seperti Diana Pungki, Titiek Sandora, Desi Ratnasari  (sekarang politisi PAN), Rinto Harahap, Roy Martin, dll, juga akrab di telinga kami.Tak jarang nama-nama artis ini menjadi nama anak-anak yang baru lahir pada masa itu.
Lantas, tentu saja ada tanya: Dari mana nama-nama besar itu kami ketahui? Kok bisa tahu begitu, padahal televisi tidak ada, koran bola, seperti Top Skore, Super Ball pun tidak ada; majalah selebritis, apalagi? Di luar jangkauan dan bahkan jauh…
Lalu:  dari mana? Yah. Apalagi kalau bukan “benda bodoh” yang satu ini: “kulit kaye” alias kulit buku tulis. Itu saja media yang paling akurat di kampung zaman itu. Untuk konteks kami, zaman itu, kulit kaye sudahlah cukup, karena mau baemana lagi, bukan?
Kami menikmati “ sajian media" tersebut untuk memperkenalkan kepada kami tokoh-tokoh beken itu. Dan, mereka tentu saja menginspirasi kami, mungkin secara tidak langsung. Gaya rambut, nama, dan nomor punggung "menyihir" kami, anak-anak kampung, yang sedang mencari jati diri kala itu.
Media “kulit kaye” itu tentu saja terbatas. Dia menyajikan informasi  tentang tokoh-tokoh papan atas dunia sepak bola itu secara amat terbatas: nama, negara asal, nomor punggung, logo klub di kostum mereka. Itu saja. Selebihnya, khayalan atau bualan yang kami kembangkan sendiri.
Pada suatu waktu, dari seorang teman, saya mendengar cerita bahwa Ronaldo dan Rivaldo itu kakak-adik: Ronaldo sebagai kakak dan Rivaldo sebagai adik. Cerita itu kuat tertanam dipikiran saya. Kepada adik saya, yang masih polos waktu itu, saya meneruskan cerita itu apa adanya. Tidak ada perdebatan. Adik saya menelan cerita itu apa adanya pula…entah kepada siapa dia ceritakan kembali cerita itu.
Itu tentang Ronaldo dan Rivaldo. Lain lagi soal Zinedine Zidane. Zaman itu, ada buku tulis bergambar Zidane, legenda sepak bola Prancis itu. Di gambar tersebut, gambar pelatih Real Madrid itu diduplikat dan dipajang bersamaaan, lengkap dengan namanya.
Suatu siang, teman saya, sebut saja Entong dan Totong, bertengkar. Mereka berdebat tanpa menemukan titik temu. Menurut Entong, gambar  di kulit buku itu dua orang berbeda, yang satu Zinedine dan yang satu lagi Zidane. Sebaliknya, menurut Totong,   gambar itu hanya satu orang. Tidak ada yang menengahi. Begitulah, debat di antara anak kecil, ketika argumenasi sudah buntu, kepalan tangan jadi tumpuan akhir alias adu jotos...dan kami yang lain bersorak-sorai...
Akhirnya, sekian saja: begitulah jasa besar “kulit kaye” zaman itu untuk kami, anak-anak kampung; menjadi media informasi andalan yang walaupun tidak lengkap dan kerap menjadi pemicu pertengkaran. Ini cerita kami…mana cerita lho? Wontong selalu manise.?****
Keterangan:
1.     Penti:  pesta syukur panen dalam kebudayaan Manggarai NTT
2.     Pesta sekolah: sebuah kebiasaan di beberapa daerah di Manggarai untuk mendukung cita-cita seorang dalam meraih gelar sarjana melalui acara penggalangan dana.
Rian Safioanak kampung.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *