HEADLINE NEWS

Covid-19 dan Perayaan Paskah Tanpa Umat

Foto: dokumen pribadi
RD Stephanus Turibius Rahmat
Terasvita - Paus Fransiskus, melalui Vaticannews.vamengumumkan bahwa Paskah tahun ini akan dirayakan tanpa kehadiran umat. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya untuk menghindari kumpulan massa guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).
Tentu, Pekan Suci kali ini akan terasa sangat berbeda bagi umat Kristen di seluruh dunia. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang diizinkan menghadiri upacara apa pun termasuk rangkaian perayaan Pekan Suci. Umat Katolik  juga tidak lagi dapat berkumpul di Lapangan Santo Petrushanya mengikuti rangkaian perayaan Pekan Suci yang disiarkan secara langsung melalui internet atau televisi. 
Padahal, Pekan Suci biasanya merupakan salah satu momen penting bagi umat Kristiani di seluruh  dunia. Di Vatikan, misalnya, selalu dihadiri jutaan umat Katolik dari berbagai negara. Namun, pada tahun ini, wabah Covid-19 telah menyebabkan Vatikan untuk pertama kalinya akan menggelar rangkaian Misa Paskah tanpa kehadiran umat.
Wabah Covid-19 sudah tersebar hampir di 205 negara/kawasan, termasuk di Indonesia. Penyebaran virus ini di Indonesia begitu cepat dan cenderung meningkat dari hari ke hari. Atas dasar itulah, pemerintah melalui "SK Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 13 A tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Covid-19", memperpanjang masa status darurat Covid-19, yaitu selama 91 hari terhitung sejak 29 Februari sampai 29 Mei 2020.
Sejalan dengan surat keputusan tersebut, Gereja Katolik Indonesia memutuskan untuk merayakan seluruh rangkaian perayaan Paskah tahun ini tanpa kehadiran umat. Keputusan tersebut juga diambil berdasarkan Dekret dari Kongregasi Suci untuk Ibadah Ilahi dan Tata Tertib Sakramen No. Prot.153/20 bahwa “Dalam kurun waktu Covid-19, tahun ini Perayaan Pekan Suci di Gereja bersama umat yang dimulai dari Minggu Palma, 5 April  s.d Minggu Paskah, 12 April ditiadakan”.
Para uskup dan umat Kristiani se-Indonesia berkomitmen untuk menerapkan social  distancing  atau pembatasan sosial. Hal tersebut sebagai salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi Covid-19 dengan menganjurkan orang-orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Seseorang tidak diperkenankan untuk berjabatan tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita Covid-19.
Konsekuensinya, umat mengikuti perayaan Paskah secara online untuk keluarga-keluarga atau komunitas-komunitas yang mempunyai akses internet. Sedangkan, keluarga-keluarga atau komunitas-komunitas yang berada di kampung-kampung dan tidak terjangkau oleh fasilitas internet terpaksa harus merayakan ibadat Paskah secara mandiri di rumah masing-masing.
Sebuah tulisan di laman facebook Yayasan Keluarga Kudus beberapa waktu lalu menarik untuk direnungkan di saat kita, umat Kristiani, merayakan Paskah tanpa hadir secara fisik di gereja dan tanpa berjumpa secara riil dengan umat yang lain:
Vatikan sepi. Yerusalem sunyi. Tembok Ratapan dipagari. Gereja ditutup. Jemaat dirumahkan. Misa batal. Jalan Salib distop. Paskah tak pasti. Litani doa berubah. Air suci menguap. Corona datang, seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh! Ketika Corona datang, engkau dipaksa mencari Tuhan. Bukan di Basilika Santo Petrus. Bukan di dalam gereja. Bukan di mimbar kotbah. Bukan dalam baptis. Bukan pada panggilan lonceng. Bukan dalam misa Minggu. Bukan dengan jabat tangan. Melainkan, pada kesendirianmu. Pada mulutmu yang terkunci. Pada hakikat yang senyap. Pada keheningan yang bermakna. Corona mengajarimu bahwa Tuhan itu bukan (melulu) dijumpai pada keramaian. Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual. Tuhan itu ada pada jalan keputusasaanmu dengan dunia yang berpenyakit. Corona memurnikan agama bahwa tak ada yang boleh  tersisa. Kecuali Tuhan itu sendiri! Datangi, temui dalam  doa dan kenali DIA melalui perkataan-Nya di saat yang teduh.
Pandemi ini tentu mengajak seluruh orang beriman untuk lebih dekat dan akrab dengan Tuhan yang mampu mengatasi segalanya. Hanya Tuhan yang mampu menyelesaikan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Artinya, pandemi Covid-19 menunjukkan batas-batas diri manusia modern. Ketika semua kesibukan dan rutinitas manusia dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam, kebisingan dan hiruk pikuk dipaksa senyap, dan segala rutinitas keseharian diputus mata rantainya, komunio atau persekutuan dalam mengungkapkan iman kepercayaan dipaksa ditiadakan, kita, masyarakat modern, terlempar ke keterasingan yang mengerikan.
Harus diakui bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, yang selalu bergerak, tak kenal diam.  Namun, hari-hari ini, ketika Covid-19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19.
Akan tetapi, manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial. Dengan berhentinya roda kesibukan dan berkurangnya mobilitas manusia, kita diajak untuk pulang ke rumah eksistensi kita, merenungkan palung terdalam kehidupan kita. Di sana, di ruang percakapan dengan eksistensi, kita mungkin akan menemukan bahwa di samping segala bentuk idealisme kemajuan dan arogansi kemewahan yang memaksa kita untuk terus bergerak, bising, hiruk-pikuk, tenggelam dalam rutinitas dan jadwal yang serba padat, eksistensi kita sesungguhnya rapuh.
Oleh  rasa takut, kita tentu melawan Covid-19. Tetapi, oleh kecemasan eksistensial, ancaman Covid-19 membuat kita sadar akan kerapuhan eksistensi kita masing-masing. Peristiwa mewabahnya Covid-19 ini menjadi saat bagi kita, orang-orang beriman, untuk kembali ke dalam keheningan diri sendiri dan sambil belajar dari peristiwa yang mencemaskan dan menakutkan ini. Termasuk belajar untuk mengalami kenyataan yang pahit dan tidak pernah terjadi dalam sejarah hidup kita sebagai warga Gereja bahwa pada tahun ini, kita terpaksa tidak merayakan Paskah sebagai suatu persekutuan umat Allah Kristiani.
Kita harus merayakan Paskah secara live streaming (online) untuk keluarga-keluarga atau komunitas yang bisa dijangkau oleh askes internet. Perayaan online seperti ini tentu tidak menerima Komuni atau Hosti Kudus. Namun, doa Komuni Batin atau Komuni Spiritual dapat didaraskan ketika mengikuti Misa via online. Sedangkan, keluarga-keluarga atau komunitas yang berada jauh dari semua jangkauan kemajuan teknologi ini harus menerima kenyataan bahwa merayakan Paskah dalam kesendirian di keluarga atau komunitas masing-masing.
Dalam situasi ini, seperti yang diungkapkan oleh Paus Fransiskus ketika menyampaikan khotbah saat Adorasi Ekaristi di Vatikan pada Jumat, 27 Maret 2020, "Kita seperti para murid Yesus yang bertanya dengan nada penuh sanksi, 'Guru apakah Engkau tidak peduli kalau kita binasa'" (bdk. Mark. 4:38). Paus sangat berharap agar semua umat Katolik dan Kristen dari berbagai denominasi Gereja di seluruh dunia, bersatu dalam momen penting ini.
Paus Fransiskus mengatakan bahwa wabah Covid-19 ini telah menyatukan kita di dalam kemanusiaan kita bersama sebagai saudara dan saudari. Kita telah menyadari bahwa kita berada di dalam perahu yang sama. Kita semua rapuh dan bingung, tetapi pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita semua dipanggil untuk mendayung bersama.
Paus Fransiskus menggunakan kisah para murid di atas perahu yang sedang diterjang badai yang tak terduga, dan Yesus tertidur di buritan (bdk. Mark. 4:35-41). Ketika para murid memanggil Yesus, mereka sebenarnya juga mau membuktikan iman mereka bahwa Yesus pasti akan membantu. Namun, ternyata Yesus menegur para murid karena Dia tahu bahwa iman mereka masih kurang. Padahal, para murid tidak pernah berhenti percaya kepada-Nya. Bahkan, para murid datang memanggil-Nya untuk meminta bantuan. Para murid berpikir bahwa Yesus tidak peduli akan nasib hidup mereka. Padahal, Dia lebih dari siapa pun.
Dia sangat peduli dengan kita. Tuhan memanggil kita untuk beriman sekalipun kadang kita seperti para murid yang tidak terlalu percaya kalau Tuhan selalu hadir dan ikut campur tangan di dalam situasi manusia. Saat pencobaan adalah sebuah waktu untuk memilih: Bukan waktu penghakiman Anda sendiri, melainkan penghakiman kita bersama; waktu bagi kita untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu; waktu bagi kita untuk memisahkan apa yang perlu dari apa yang tidak perlu dalam hidup ini. Saat ini adalah waktu untuk mengembalikan hidup kita ke jalur yang benar, yang berkenan untuk kita sendiri, untuk Tuhan, dan untuk sesama manusia.
Marilah kita sebagai putra-putri Allah belajar menerima dan mencintai situasi pandemik Covid-I9 dengan melihat, merasakan, dan mengalami kehadiran kasih Tuhan yang hidup dan menyelamatkan. Semoga rahmat Paskah Kristus yang kita rayakan dalam kesendirian di rumah keluarga atau komunitas masing-masing memberikan hidup dan harapan yang baru bagi ziarah perjalanan iman kita. Kita menjaga kesehatan dan memelihara kehidupan bersama. Kita diajak untuk semakin mengarahkan hati kepada Tuhan dan mengandalkan Dia, Gembala yang baik, yang selalu menjaga dan melindungi kita (bdk. Mzm. 23). Kita saling mendoakan dalam perlindungan Bunda Maria, Bunda Umat Beriman agar badai dalam bentuk wabah Covid-19 ini segera berakhir.  Selamat merayakan Paskah 2020 untuk segenap umat Kristiani.***
*Penulis adalah dosen di Unika Santu Paulus, Ruteng-NTT

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *