HEADLINE NEWS

Bumi yang Kian Rapuh dan Kita yang Tidak Peduli

Gambar: https://wiken.grid.id 
Oleh Dewi Juman
Terasvita– Ini sekadar sebuah refleksi sederhana: Dari seorang yang bukan pakar lingkungan, tetapi toh hidup di bumi jua. Ikut merasakan bumi yang kian rapuh dan bahkan dengan sadar atau tidak sadar ikut merusak bumi, rumah kita bersama. Coretan sederhana ini pun barangkali terkesan seperti “buih verbal”, tetapi tak apalah. Sah-sah saja begitu.
Hari ini, problem yang menyita perhatian masyarakt dunia adalah wabah virus corona atau secara resmi disebut COVID-19. Banyak orang menyebut wabah ini sebagai pandemi karena telah menyebar ke hampir seluruh dunia. Bisa dibayangkan betapa virus ini telah menelan korban yang tidak sedikit. Data per 22 April, secara global, sudah 2.565.059 yang dikonfirmasi positif mengidap Covid-19, 686.634 orang yang sembuh, dan 177.496 orang yang meninggal.
Selain berupaya untuk mengatasi penyebarannya, bencana ini menggugat pikiran dan hati banyak orang untuk menemukan akar soalnya. Banyak ilmuwan dari berbagai bidang pengetahuan melakukan riset untuk menemukan dengan jelas penyebab virus yang menulari manusia tersebut. Selain para ilmuwan, masyarakat biasa juga tak ketinggalan suara untuk berspekulasi perihal wabah “yang ber-KTP Wuhan” itu. Spekulasi yang tentu saja jauh dari kata ilmiah dan valid itu banyak disalurkan via story WA, satus FB, dan media sosial lainya.
Hal yang paling menarik adalah segelintir orang beranggapan bahwa bumi ini sudah sangat rapuh. Bumi sudah kehilangan keseimbangan. Aksi merusak dari manusia jauh lebih dasyat daripada kemampuan bumi memulihkan dirinya. Bumi pun nyaris kehilangan karakter keibuannya untuk mengandung, melahirkan, dan merawat kehidupan. Manusia dihadapkan pada hamparan ketakutan yang akut, hingga merasa bahwa tak ada lagi hal baik yang berguna untuk tetap dibuat.
Spekulasi yang jauh dari kadar ilmiah itu barangkali tidak terlalu sulit untuk dicerna akal sehat. Karena, memang begitu adanya. Bumi kita rapuh. Sedang sakit parah. Ia sedang menjerit sakit karena segala kerusakan yang kita timpakan padanya, kata Papa Fransiskus dalam Laudato Si.
Mahatma Gandhi (tokoh revolusioner India), pernah menyitir begini: Bumi kita senantiasa cukup untuk menghidupi manusia tujuh generasi, namun tidak cukup untuk tujuh manusia yang serakah. Iya. Mahatma Gandhi benar. Kita terlalu serakah. Kita tidak pernah peduli dengan kondisi ibu bumi yang mangasupi, merahimi, dan menghidupi kita sepanjang hayat kita dikandung badan.
Pandemi covid-19 ini menjadi alarm bagi kita akan bumi yang rapuh dan yang merintih sakit karena keserakahan kita: Kita yang serakah menggunakan energi; kita yang serakah mengunakan air; kita yang tak peduli dengan sampah yang berseliweran di sungai, laut, dan darat; kita yang membuang-buang makanan; kita yang tak peduli dengan bola lampu yang terus menyala sepanjang waktu di kamar kita; dll: Masihkah kita tidak peduli?
*Penulis adalah mahasiswi Universitas Negeri Jakarta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *