HEADLINE NEWS

Bukan DIA! Sesungguhnya Kita yang Pergi

Foto: dokumen pribadi
Oleh: Efendy Marut OFM
Terasvita- Yesus terpaku-diam di salib. Ia kini sendiri. Para murid-Nya lari. Orang-orang yang dahulu pernah disembuhkan-Nya perlahan menyingkir-pergi, lalu membiarkan DIA merintih. Para pengagum khotbah-Nya tak lagi menaruh takzim, malah memandang DIA layaknya seorang asing dan buangan. Kerumunan yang pernah menyoraki-Nya dengan diiringi daun palma menuju gerbang Yerusalem, juga meninggalkan sepi-membiarkan sunyi hadir bagi-Nya. Mereka menghilang tanpa meninggalkan pesan, selain rasa takut dan kebingungan akut. Yesus berserah kepada Bapa-Nya sembari menahan perih-menanggung dosa segenap manusia yang kadang tak sadar-diri. Dunia sunyi dan Yesus, dalam kesenyapan Golgota, menyerahkan nyawa-Nya. “Ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku”.
Kita adalah orang yang meninggalkan Yesus. Yang sesungguhnya pergi adalah kita, bukan DIA. Barangkali laku jahat kita kian hari tertimbun di kedalaman dada, lalu dicurahkan dalam aneka bentuk; riuh hujatan di media sosial, sorak hinaan di segala lini kehidupan, umbaran kedengkian, warta-gosip yang sulit terbendung, dan sebagainya. Kita juga, barangkali kerap mengingkari kasih Tuhan yang sebenarnya terasa wajib untuk dibagikan ke yang lain. Seperti seorang Lewi yang melintas di jalanan dan melihat seorang yang sekarat, lalu tak dikasih hati, malah berpaling, kemudian pergi tanpa berbuat apa-apa. Kasih Tuhan atasnya tampaknya sia-sia. Tak berbuah dan bahkan dibiarkan membeku.
Lebih sering juga kita mencintai laku tercela seperti menghakimi. Di hadapan pendosa lainnya, kita memilih menjadi orang-orang Farisi yang hendak melempar batu kepada perempuan yang kedapatan berzinah. Sikap ampun tampaknya tak berdaya di hadapan kecenderungan menghakimi dan mengumbar kesalahan sesama-mewartakan dosa orang, tanpa sedikit memberi ruang pengampunan. Apa salahnya kita lebih baik memilih menjadi Simon dari Kirene. Meski letih karena pekerjaannya yang menguras banyak tenaga, ia tetap rela dan penuh ikhlas membantu Yesus. Peluh keringat Simon adalah gambaran  tentang cinta, perjuangan, komitmen dan pengorbanan.  Kala itu, Simon sadar bebannya tak seberapa dibandingkan yang dialami Yesus. Atau bila tak mampu, mengapa kita tak mau memilih menjadi Veronika yang cekatan menghalau kerumunan, bergerak maju dan menyeka wajah Yesus yang penuh peluh? Veronika menawarkan kasih, yang barangkali tak semua dari kita mampu dan bersedia melakukannya. Kepada siapa pun yang berani bertindak kasih, Yesus toh akan meninggalkan kenangan gambaran wajah-Nya, seperti yang didapat Veronika kala itu. Laku-kasih Veronika menampar wajah kebanyakan orang yang barangkali tengah memendam dengki dan menyimpan amarah dalam dada mereka. Ya, kasih mengalahkan semuanya. Bukankah kasih adalah hukum utama kita?
Di atas segalanya, kita tahu pasti bahwa Yesus pergi untuk kembali. Ia mati untuk menyatakan kasih-menyelamatkan kita. Dari kita, IA tak banyak berharap, selain bahwa kita mau berlaku kasih terhadap yang lain, sesama manusia dan alam ciptaan. Bukankah kita wajib mengasihi yang lain lantaran Tuhan sudah terlebih dahulu mencintai kita? Ya, itulah sesungguhnya. Dari pihak kita akan selalu dituntut sikap setia pada komitmen. Pada seorang sosok suci seperti Bunda Maria kita patut belajar perihal apa dan bagaimana berlaku cinta, lalu setia. Meskipun, barangkali Maria menyimpan semua kepiluan karena derita Anaknya, ia tetap tampil tegar dan setia mendampingi. Ia menyertai Anaknya itu dalam jalan penderitaan. Hati Maria adalah hati seorang ibu yang kendatipun perih bak disayat sembilu, namun tetap mencintai dan setia mendampingi. Kita akan teringat betapa seorang ibu menjerit kesakitan tatkala melahirkan kita, terkuras tenaganya di saat menopang, memangku, dan mengajari banyak hal saat kita kecil. Itulah definisi cinta dan pengorbanan.
Lalu, adakah kita juga membiarkan Yesus menderita lantaran laku-jahat kita, keegoisan, kemunafikan, sikap masa bodoh, keangkuhan, kemalasan kita? Yesus pergi namun meninggalkan bahagia keselamatan. Ia pergi, lalu menitipkan kasih-Nya, menanamkan cinta-Nya di dunia untuk kita. Ke manakah cinta-Nya layak ditaburkan, selain disemai di dalam diri kita, lalu ditebarkan untuk yang lain, sesama, dan alam ciptaan? Selamat merenung...
Penulis adalah anggota persaudaraan fransiskan Provinsi St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia. Saat ini, ia diutus menyelesaikan studi pascasarjana di STF Driyarkara, Jakarta. 

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *