HEADLINE NEWS

Beringin Tua dan Mata Air di Talang Perindu

Ilustrasi

Terasvita - Aku tak pernah diajak diskusi untuk lahir di mana dan dari pasangan siapa. Juga tidak pernah ditanya lahir dari keluarga kaya atau miskin. Yah…aku, juga kamu, memang begitu… Semacam terlempar begitu saja dan ada ketaatan total di sana.
Dari proses yang tanpa melibatkan aku untuk memilih itu, aku pun dilahirkan di sebuah  desa yang  terletak di kaki gunung, nun jauh sana.  Aku dilahirkan dari pasangan yang sederhana, keseharian mereka adalah bertani dan berladang. Aku bangga…
Di bawah kaki gunung itu, aku menghabis masa kecilku…Bermain dengan riang gembira di tanah yang lapang; terkadang  di halaman rumah karena banyak pohon pisang dan bambu untuk tempat bersembunyi. Sawah dan kebun pun menjadi tempat bermainku bersama anak-anak desa di kampung tua itu.
Permain-permainan sederhana yang biasa kami lakukan bersama, seperti menangkap belalang, bermain lumpur, berlari-lari di pematang sawah, menghiasi masa kecilku. Dan, aku turut berkembang dari hal-hal sederhana itu
Ketika semua sawah telah ditanami, pada waktu matahari terbit dan terbenam terlihat sungguh sangat indah.  Warna hijau dari ujung  yang satu ke ujung yang lain. Apalagi dilihat dari atas gunung.
Ya... keidahan bentangan sawah.   Satu hal yang  membuatku kagum adalah  semua padi itu hidup dari satu  mata air yang sangat mungil. Di dekat mata air itu ada sebuah pohon  beringin yang konon katanya sudah hidup ratusan tahun.
Terkadang kami bermain di bawah pohon beringin itu. Kami jarang membawa air minum. Ketika haus kami minum dari mata air itu tanpa dimasak terlebih dahulu. Meskipun begitu kami tidak pernah sakit perut. Rasanya juga sangat  dingin  dan segar.
Ketika musim panen tiba, aku  juga ayah dan ibuku bergembira. Demikian pula warga kampung yang lain. Aku menyaksikan ayahku dan juga tua-tua adat di desaku membawa sesajian di bawah pohon beringin di dekat mata air itu.  
Aku penasaran. Kepada ayah, aku mencari jawaban, apa yang mereka ucapkan di bawah pohon beringin itu. Ayah tak pernah  sulit untuk memberi jawaban, “ Ya, doa syukur, karena kita bisa diberi air, padi-padi tumbuh, dan kita tidak kekurangan,” begitu kata ayah di suatu waktu, sehabis adzan.
Di tempat yang menjadi langganan orang sekampungku setiap tahunnya itu, semua membawa hasil panen masing -masing  dalam bentuk beras kemudian dimasak bersama dan dimakan bersama -sama sebagai tanda terima kasih. Pohon beringin tetap dirawat.
Apabila ada ranting  yang patah maka semua dibersihkan. Mata air itu pun selalu bersih. Semua itu dikerjakan bersama-sama. Sering kali saya mendengar ada yang berbicara dengan air dan pohon beringin itu.
Menurut kepercayaan orang-orang di kampungku, termasuk kedua orang tuaku,  kehidupan warga kampung itu dari dulu  diberikan oleh pohon beringin dan mata air itu.
Seiring waktu,  pohon beringin tumbuh besar, burung-burung membangun sarang di dahannya. Sementara itu, mata air terus mangairi sawah, memberi kesegaran. Musim terus berganti, ada musim panen dan musim menanam. Selalu terpancar wajah-wajah penuh syukur dari semua petani. Tidak pernah gagal panen.
Suatu waktu, aku menamatkan sekolah menengah. Lalu, atas saran ayah terutama karena keinginanku, aku mememutuskan melanjutkan sekolah di kota. Jauh dari kampung.
Sekian tahun bartarung dengan kerasnya kota, sekadar menambah wawasan dan kecakapan yang tak kutemui di kampungku. Kujumpai banyak hal baru. Namun, keindahanan kampung tak pernah tergantikan. Kampung dengan segala kenangannya memanggilku pulang. Aku pun pulang.
Ketika sampai di kampung, yang pertama kali kucari adalah pohon beringin yang mudah dilihat dari jauh. Tetapi,  aku tidak menemukan pohon itu lagi. Hanya akar-akar yang mulai kering. Pohon itu telah ditebang.  Air di dekatnya pun ikut kering. Sawah-sawah pun tak terairi.
Orang-orang di kampungku mengeluh karena  sering gagal panen. Mulai ada musibah kelaparan. Ada wajah sedih dari orang-orang yang wajah-wajah mereka tidak asing kujumpai. Tidak ada lagi yang dibawa untuk persembahan  syukur  di bawah pohon beringin itu, seperti dulu, yah dulu.
Melihat keadaan demikian, maka beberapa tua-tua adat berkumpul bersama dan bersepakat untuk menanam pohon lagi di dekat mata air itu. Ketika pohon beringin itu ditanam, aku melihat ayah berbicara dengan pohon itu.
Aku bertanya penasaran padanya, “Kok pohonnya diajak berbicara, toh tidak akan dijawab?” Kali ini, ayah tak mau buru memberikan jawaban, seolah-olah membiarkan waktu yang menjawanya. Entah.
Tahun demi tahun, pohon beringin itu kembali bertumbuh dengan  cepat dan subur. Mata air itu pun perlahan-lahan ada dan mulai mengalir ke sawah-sawah. Harapan hidup diwujudkan lagi bersama dengan terus merawat pohon beringin dan mata air  itu. Pohon  beringin, pohon kehidupan dan mata air,  mata air kehidupan.
Terpujilah Engkau Tuhanku karena saudariku ibu pertiwi, yang telah mengasuh dan menyuap kami, terpujilah Engkau Tuhanku karena saudaraku air yang memberi kesegaran dan kehidupan.****
Sr. M Paskalia SFS

Keterangan: Kain tais : kain tenun

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *