HEADLINE NEWS

Antara Cuci Tangan Kita dan Cuci Tangan Pilatus

Foto: dokumen pribadi
Sdr. Mikael Gabra Santrio OFM
Terasvita - Banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi wabah yang beberapa pekan  terakhir ini kita sudah dibuat gagap, takut, khawatir, dan panik olehnya, yakni pandemi covid-19. Salah satu dari upaya-upaya itu adalah mencuci tangan secara rutin.
Kesungguhan kita mencuci tangan secara rutin (juga anjuran-anjuran  lain dari WHO dan pemerintaha) adalah bukti bahwa kita mencintai kehidupan kita masing-masing. Juga,  lebih dari hal itu, yakni kita melaksanakan mandat Allah untuk merawat kehidupan yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepada masing-masing kita.
Dalam tulisan sederhana ini, kami berikhtiar untuk melihat dan membagikan refleksi seputar "cuci tangan": Antara cuci tangan yang kita lakukan secara rutin hari-hari ini dan cuci tangan yang dilakukan Pilatus, Gubernur Romawi, pada 2000-an tahun lalu.  
Menurut hemat kami, “cuci tangan”, yang akrab di telinga dan rutin kita lakukan hari-hari ini, bermakna ganda. Di satu sisi tindakan mencuci tangan memiliki makna spiritual (makna positif) dalam kehidupan kita; dan, di sisi lain, mencuci tangan merupakan sebuah sikap atau tindakan simbolis untuk mengungkapkan sikap tidak bertanggung jawab, tidak peduli, sikap tidak mau tahu dengan yang lain (makna negatif).
Yang pertama, soal makna spiritual (positif) mencuci tangan. Apa kira-kira makna spiritual di balik tindakan mencuci tangan? Secara sederhana, kita mencuci tangan supaya tangan kita bersih dari kotoran dan segala kuman serta bakteri yang dapat menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.
Dalam kerangka iman kristiani, kita mencuci tangan  untuk menjaga tubuh kita yang adalah Bait Roh Kudus. Oleh karena itu, sebagaimana kita yakini bahwa Allah mendiami diri kita- semestinyalah kita menjaga, menghargai, dan memperlakukan tubuh kita dengan baik.
Ketika kita menerima Tubuh Kristus, praktisnya, kebanyakan dari kita menerimanya (Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi) dengan kedua tangan kita. Tangan kita menjadi media yang baik untuk menerima sesuatu yang sifatnya kudus dan suci.  
Dalam tradisi orang Yahudi yang melakukan ritual pencucian tangan dan kaki  yang bermula dari ketentuan Taurat yang dicatat sejak ± 3500 tahun yang lalu dalam tulisan-tulisan Musa (Kitab Taurat).
Dalam Perjanjian Lama juga dinyatakan bahwa umat Israel perlu melakukan ritual mencuci tangan sebelum berdoa, “…haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati…” (bdk. Kel 30:21). Dengan demikian, jelaslah bahwa tindakan mencuci tangan bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, melainkan juga memiliki makna spiritual.
Selain itu, dalam kehidupan sosial, ketika kita memberi atau menerima barang atau hadiah dari seseorang, pastilah kita menerima atau memberinya dengan tangan kita. Ketika tangan kita dalam keadaan kotor, kita merasa canggung, segan, ragu-ragu untuk menerima dan memberi sesuatu dari dan kepada yang lain.
Yang kedua, makna negatif dari mencuci tangan, yaitu sebuah sikap yang menganggap diri tidak bersalah, lari dari tanggung jawab, tidak peduli dengan sesama. Kita menemukan contoh unggulnya dalam diri Pontius Pilatus.  Pilatus melakukan ritual mencuci tangan dalam upayanya untuk lepas dari kesalahan dan kenajisan yang berhubungan dengan pembunuhan yang akan terjadi pada Yesus Kristus dalam suatu sidang pengadilan yang dipimpinnya. Ia tak mau mengambil risiko bertanggung jawab atas kematian Yesus sekaligus juga takut kehilangan kepercayaan dari imam-imam Yahudi.
Pertanyaan untuk kita: Di tengah situasi wabah Covid-19, apakah kita harus “mencuci tangan” dari kehidupan kita? Tentu, kita tidak seperti Pilatus yang cepat-cepat mencuci tangan terhadap situasi yang dihadapinya. Sebab, kita bukanlah Gereja Pilatus. Kita adalah Gereja Yesus Kristus yang senantiasa setia, tidak lari dari tanggung jawab dalam kehidupan kita, sesulit apa pun itu.
Yesus Kristus telah menunjukkan kesetiaan-Nya dalam menghadapi penderitaan sampai wafat di kayu salib. Karena itu, kita harus mencuci tangan sebagai upaya menjaga kesehatan tubuh jasmani kita, namun tidak boleh “mencuci tangan” dari realita kehidupan kita masing-masing yang berlapis-lapis peliknya.
Dari Cuci Tangan ke Cuci Hati
Sebentar lagi kita merayakan Paskah; kita mengenangkan sengsara, wafat, dan kebangkian Yesus Kristus. Paskah ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk memurnikan diri kita luar dan dalam: Dari cuci tangan ke cuci hati.
Apakah mungkin mencuci hati? Jawabannya iya. Tentu, di sini cuci hati bukan dalam pengertian harfiah. Mencuci hati bagi kita orang Katolik, yaitu berupaya untuk membersihkan diri kita tidak hanya jasmaniah (tubuh, fisik), tetapi juga rohaniah (hati).
Mencuci hati di tengah wabah virus corona berarti memberikan pengharapan bagi yang lain, berhenti menebarkan berita bohong, peduli terhadap sesama, solider dengan yang lain, mengikuti arahan dari pemerintah, tetap jaga jarak, dan jangan lupa mencuci tangan.
Inilah cara kita untuk membersihkan diri kita dari serangan berbagai jenis penyakit yang menghantui kita. Jangan lupa cuci tangan dan hati. Namun, jangan cuci tangan dari peliknya situasi kehidupan saat ini. Wassalam.)***
*Penulis adalah anggota Ordo Fransiskan Provinsi St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia. Saat ini sedang menyelesaikan studi pascasarjana di STF Driyarkara, Jakarta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *