HEADLINE NEWS

Aku dan Engkau


Ilustrasi: https://www.alamy.com 
AKU DAN ENGKAU

Aku adalah seratus juta tahun penantianmu
di musim hujan, juga musim wabah, musim pandemi yang kian menyeret manusia pada diri sendiri.

Dari kepala-kepala plontos
muncul tanya yang kaos: di mana Tuhan?

Dari kepala-kepala berambut cepak
muncul jawab yang mendepak
terkurung oleh pikiranmu!

Bagai nyanyian seribu dewa
memanggil sembilan matahari
dari kesepian ribuan galaksi
engkau hadir di antara busung lapar
lambung jiwa manusia-manusia buta
yang cemar.
Engkau siapa?

Aku adalah awal dari segala yang terbit
jernih embun, fajar pertama, dan aroma tanah basah yang dengan tenang dan lembut melintasi jendela
memasuki dua lubang hidup
memenuhi paru-paru menyempurnakan degup.

Engkau adalah akhir dari segala yang terbenam
masa-masa muda yang gemilang
kapitalisme dalam telikungan pandemi yang sporadis
tumbangnya cinta pemuda desa pada gadis apartmen lantai tiga
dan rindu mamah muda pada kekhusyuan pemuda kampung yang tak pernah mencium bau anggur.

Aku dan engkau adalah igau tak berujung
racauan yang tak lebih dari judul-judul berita
picisan pemuja rating murahan yang setiap detik muncul menjadi polutan di dunia yang setiap orang bebas memamerkan
kebodohannya.

SULUH KEMERDEKAAN

Kami menanam harapan
pada merah ubi yang lama dipanen
pada merah wortel yang tiga bulan kami siram dengan keringat dan doa
pada merah tomat yang senantiasa kami jaga dari patek dan ulat
pada merah api di perapian di gubuk kecil
di bukit merah.

Pada putih awan kami berharap hujan
menurunkan keberkahan dan kesejukan
pada putih embun pagi pada jernih air kali
pada putih karung puri kami ikat suluh-suluh revolusi, untuk kemerdekaan kami sendiri
untuk kemerdekaan kami sendiri.

Jika matahari senja hendak terbenam di balik bukit
kami pulang sambil menitipkan hutan pada matahari siang
pada yang menjaga nyala matahari siang
pada yang menjaga hutan
pada yang menjaga penjaga hutan.

Kami pulang
mengucap syukur
menyertakan senyuman
dengan keringat bercucuran dan goresan-goresan di lengan
serta wajah legam.

Menyebut nama Tuhan
diam-diam.

* Karya Aris Usboko,  mahasiswa jurnalistik Univ. Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *