HEADLINE NEWS

Yesus Kristus dalam Konteks Kemajemukan Agama di Asia

Foto: dokumen pribadi
Sdr. Vredigando Engelberto Namsa OFM
Terasvita- Dalam Perjanjian Baru (PB) ada tiga sudut pandang untuk menjelaskan misteri Yesus Kristus  (Kristologi-red). Pertama, kebangkitan Yesus dan pengalaman paskah para murid. Kedua, refleksi post-paskah dari Gereja perdana yang berawal dari kerygma apostolik, yaitu pemakluman Kristus yang bangkit serta pembacaan kembali dalam terang paskah atas Yesus historis (hidup, karya, ajaran, dan gelar-gelar yang dikenakan kepada-Nya). Ketiga, tahap kemudian yang sering dinilai sebagai tahapan paling matang dari refleksi Gereja perdana. Dalam tahap ini terdapat pengakuan dan identitas personal Yesus Kristus sebagai Logos yang pra-ada.
Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa dalam PB terdapat dua jenis Kristologi. PertamaKristologi dari bawah, yaitu berbicara tentang pengangkatan Yesus dari Nazaret menjadi Tuhan dan Kristus melalui kebangkitan-Nya. Kedua, Kristologi dari atas, yaitu berbicara tentang Logos pra-ada yang menjelma menjadi manusia dan dikenal dengan nama Yesus dari Nazaret.
Ada gerakan yang berjalan secara progresif dari “Kristologi dari bawah ke "Kristologi dari atas”. Kristologi dari atas ini dalam perjalanan waktu semakin mengutamakan konstitusi ontologis Kristus sebagai Allah-manusia daripada Yesus historis. Dan kristologi seperti ini telah dirumuskan sebagai dogma dalam konsili-konsili awal (Nicea, Konstantinopel, dan Kalsedon), mendapat prioritas dalam kekristenan dalam periode sejarah yang cukup lama.
Dewasa ini, ada gerakan kembali ke Yesus historis. Akan tetapi, dari Kristologi yang bervariasi dalam PB, timbul persoalan perihal hubungan antara Yesus historis dan Kristus iman. Rudolf Butlmann, misalnya, melihat keterpisahan yang begitu jauh antara Yesus historis dan Kristus iman. Bultmann berkeyakinan bahwa kehidupan pribadi Yesus historis tidak mungkin dapat diketahui jika sumber-sumber kekristenan tidak tertarik berbicara tentang Yesus historis kecuali secara fragmentaris dan cenderung kepada mitos (1958: hlm. 11).
Akan tetapi, Komisi Teologi Internasional memberi penjelasan bahwa Yesus historis tidak dipisahkan dari Kristus iman. Setiap Kristologi yang secara otentik Kristen, menurut Komisi Teologi Internasional, harus berpegang teguh pada kesatuan esensial antara Yesus yang pernah hidup sebagai manusia konkret di dunia dan Yesus yang telah bangkit (Antonio Olmi, La Cristologia della commissione Teologia Internazionale, 2001: hlm. 30).
Pengakuan Komisi Teologi Internasional di atas mengungkapkan kenyataan  bahwa ada perbedaan (tanpa harus memisahkan) antara Yesus historis dan Dia yang ditransformasikan melalui kebangkitan. Dengan demikian, terbuka kemungkinan untuk berbicara tentang Kristus kosmik. Dengan Kristus kosmik dimaksudkan Sang Sabda yang melampaui Yesus historis dan hadir serta melaksanakan karya penyelamatan-Nya dalam segenap ciptaan sepajang sejarah.
Akan tetapi, Kristus kosmik tidak dipisahkan dari Yesus historis, sebab sejak Sabda berinkarnasi, maka nama Kristus yang dihubungkan secara langsung dengan kemanusiaan Yesus yang terurapi dapat dihubungkan dengan Sabda yang pra-ada. Sabda yang pra-ada berinkarnasi dan bersatu dengan Yesus yang terurapi. Jadi, istilah Kristus kosmik tidak menyangkut hal yang historis tertentu melainkan meliputi seluruh dunia dan seluruh sejarah; dibedakan (tanpa dipisahkan) dari Yesus historis yang dibatasi oleh ruang dan waktu.
Sang Sabda jauh lebih besar dari Yesus sehingga masih tepat bila dikatakan bahwa segala yang dilakukan manusia Yesus adalah perbuatan manusiawi Sang Sabda. Sebaliknya, tidaklah tepat bila dikatakan bahwa apa pun yang dibuat Sang Sabda juga dibuat oleh Yesus dari Nazaret. Dalam artian ini, maka terbuka kemungkinan menghubungnkan pengalaman religius setiap masyarakat dan kebudayaan dengan misteri penyelamatan Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan universalitas karya penyelamatan Kristus dalam Gaudium et Spes 22: “Sebab Dia, Putra Allah, dalam penjelmaan-Nya dengan cara tertentu telah menyatukan diri dengan setiap orang” (KWI, 1993).
Klaim universalitas karya penyelamatan Kristus itu tidak mudah untuk diterapkan dalam konteks Asia yang majemuk. Dengan demikian, akan muncul pertanyaan: Bagaimana klaim itu diterapkan di Asia? Semetara Gereja mengimani bahwaYesus Kristus sebagai pengantara antara manusia dan Allah. Kepengantaraan-Nya itu bersifat satu-satunya dan universal. Dalam Injil Yohanes, misalnya, ditemukan sabda Yesus: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6b).
Para pendukung posisi inklusif menjelaskan cara-cara yang Allah gunakan untuk menyelamatkan manusia dalam Kristus, tanpa mengecualikan para penganut agama-agama non-Kristen. Sebagian besar teolog Asia mengakui pula karya penyelamatan Allah dalam Kristus yang melampaui batas-batas Gereja institusional. Sambil tidak jatuh dalam relativisme (yang menegasi keunikan dan keuniversalan mediasi Kristus) dengan menyejajarkan begitu saja peran Yesus Kristus dengan pendiri dan figur-figur religius agama-agama lain. Posisi mereka dapat dikatakan sejalan dengan pengakuan  Paus Yohanes Paulus II yang menyatakan: “Bentuk-bentuk mediasi yang diikutsertakan, dari bermacam-macam jenis dan tingkatan” ( Redemptoris Missio, no. 5)
Sementara itu, beberapa Teolog Asia progresif mendefenisikan kembali Yesus dalam suatu konteks yang dipenuhi para tokoh pendiri agama-agama, pengajar-pengajar hikmat dan pemberita-pemberita kebenaran. Ada juga yang menyelidiki kesamaan-kesamaan Yesus dengan pendiri atau figur dalam agama-agama Asia. 
Aloysius Pieris, misalnya, melihat pula kemiripan antara Sidharta Gautama dan Kristus yang sama-sama merupakan perantara pembebasan. Pieris mengamati bahwa dalam buddhisme dan kekristenan terdapat pengalaman-pengalaman inti yang sama-sama menyelamatkan. Bila dalam buddhisme terdapat pengalaman akan gnosis atau pengetahuan membebaskan, dalam kekristenan terdapat pengalaman kasih yang menyelamatkan (2003: hlm 80).
Kesamaan antara Sidharta Gautama dan Kristus juga diamati oleh Seiichi Yagi. Menurutnya , keduanya mendapatkan penerangan budi. Sidharta Gautama setelah merenungi hidup dan penderitaan manusia tiba pada pemahaman akan empat kebenaran mulia sebagai jalan pembebasan bagi manusia. Intinya adalah pembebasan manusia dari hal-hal yang sia-sia dan fana yang telah memenjarakan manusia. Hal yang sama terdapat ketika Yesus mengecam penafsiran yang kaku atas hukum Taurat dan mengajarkan tentang Kerajaan Allah yang membebaskan (2003: hlm. 48).
*Penulis adalah biarawan Fransiskan, tinggal di Waena-Jayapura, Papua

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *