HEADLINE NEWS

Untuk Kau yang Bernamakan Puisi [Puisi-puisi Indra Gamur]

Gambar: Unsplash/Lukas Robertson//https://www.idntimes.com/


Di Tubuh Malam

Sorot mata begitu tajam bag ujung pisau
Meski kutau tatapan itu tak mengandung makna
Namun...
Di tengah sunyi yang menepi
Ada ilusi yang sedang gelisah

Sudah berapa hari lamanya
Aku berpuasa dari syair dan sajak
Ada yang kosong dalam jiwa ini
Sejak-sajak itu tak lagi kutulis di branda ponselku

Di ruang tengah ingatanku
Kutemukan diriku lebih lama dari biasanya
Lebih lesu dan layu seperti mawar yang melepas dari tangkainya 
Resah rusuh seperti sebuah rindu tapi entah apa namanya.

Malam.....
Darimu aku tahu tanpa puisi
Aku mati.
Sungguh tanpa aba aba .
Kutak bisa apa-apa

Sini sayang dekapkan aku pada tubuhmu
Peluk eratlah raga yang penuh pilu 
Ada sejuta kata dan rasa  yang tumbuh subur di pundak ini
Kemarilah...
Sebab di tubuh malammu aku tersungkur bersujud.


Surabaya,   Maret   2020


Untuk Kau yang Bernamakan Puisi

Puisiku...
Ini semacam puisi bukan?
Tapi entah apa namanya?
Kita adalah sepasang kekasih 
Yang diikat oleh sastra.
Bertahun lamanya kita hidup bersama dalam imaji

Pernah dan sering kumerasa hampa
Tanpa adamu…
Ketika kauperlahan hilang
Tahukah engkau sayang...
Aku  merasa jatuh miskin dalam rumah kataku sendiri.

Puisiku ...
Untukmu separuh aku dalam sanubari syairmu
Kenanglah aku 
Apa bila kelak kita tak lagi bersamamu
Aku masih hidup di batang jantungmu puisiku.

Elus dadaku
Rasakan detak jantung
Lalu tatap mataku
Bacalah  di sana ada puisi untukmu puisiku.

Jangan suka tukaran lidah.
Itu hanya membuatmu semakin larut dalam ilusi hampa.
Cukup kecup bibirku dengan sepotong puisi.
Nanti kucelup di kopi pagiku.


Surabaya, Maret 2020


Rindu yang Menderu

Aku ingin menyapamu lebih awal 
Sebelum mentari pagi
Sebelum segalanya terjadi 
Aku ingin lebih awal menyapamu
Namun...
Ya begitulah kadang spam sapaan itu bag koran ,majalah yang sekedar dibaca lalu dipahami isinya.


Perihal sibuk...
Jujur saja kita sama sama sibuk
Aku sibuk membawamu kedalam doa dan harapan
Kau sibuk membawanya kedalam rumah diamdiam
Ah anjirrrrrrr.....
Rindu kadang sebangsat itu ....

Tuan
Jalur jalar kekagumanku ada pada bantang jantungmu
Ia senantiasa selalu diam dan berdiri kokoh.
Cukup aku yang menggetarkan batang jantungmu

Rindu yang keras di kepala.
Terus menggelegar.
Agar kelar..
Ada baiknya kita bertemu.
Aku ingin sekali mendengar suara bisik di balik 
Hiruk pikuk bisingnya kota ini.

Jangan pake kode sayang.
Daku tak peka.
Ehemmmm
Menderu ....

Surabaya, Maret 2020

*Indra Gamur- penyair muda tinggal di Surabaya. Buku Antologi puisinya berjudul "Rasanya Seperti Rindu, Tetapi Entah Apa Namanya" diterbitkan Maret ini.


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *