HEADLINE NEWS

Tuhan dan Aku di Sebuah Patahan Waktu


ilustrasi
TerasvitaKita hidup dalam patahan-patahan waktu. Kita beranjak dari patahan yang satu ke patahan yang lain, sejak terbentuk dalam rahim ibu hingga kembali pulang ke rahim ibu bumi ketika maut badani datang menjemput.

Ini kisah di satu sore, belasan tahun silam. Persis di tahun 2009. Hanya lupa hari, tanggal, dan bulannya. Kisah monumental dari seorang manusia yang terus mencari dan menyusuri lorong hidupnya.

Begini: Sore itu, hujan di kota panas itu mulai reda, menyisakan rintik-rintik. Tubuh yang ambruk dihantam sakit dan penyakit sudah sepekan terbaring lemah di sebuah poliklinik. Sore itu mulai membaik. Selang infus sudah boleh dilepas dari tangan.

Dari seorang perawat di poliklinik itu, saya mendapat kabar kalau dalam hitungan jam saya akan diizinkan pulang ke asrama. Senang tentu saja. Karena, saya  bisa kembali berkumpul bersama teman-teman. Selain itu, (terutama) tagihan poliklinik tidak semakin membengkak.

Tubuh yang berangsur membaik itu tidak cukup membuat saya merasa senang “yang mati punya”. Saya sudah jenuh dengan situasi poliklinik itu. Sepi. Tak ada teman yang mengunjungi. Tak ada gawai untuk sekadar berselancar di dunia maya. Yang ada hanya tembok putih dan kain-kain sprei putih. Kosong.

“Rezeki anak soleh yang tidak dicintai oleh ‘si soleha’ memang tidak ke mana-mana”. Dalam sepi yang akut tetiba kepala poliklinik itu, seorang biarawati SMSJ, datang ke ruang inapku. Ia menyapaku seadanya. Sedikit saja basa-basi.

Kepada biarawati asal Manado itu, saya meminta koran untuk menawarkan rasa jenuh dan sepi yang akut itu. Tak berselang lama, biarawati itu kembali ke ruang inapku itu dan membawa sebuah buku dan sebuah koran lokal: “Pos Kupang”.

Senang yang “bukan main” ketika saya mendapatkan dua bahan bacaan itu. Setidaknya, senja yang terbantai sepi itu berlalu. Saya pun mulai melahap bahan bacaan itu. Pos Kupang diabaikan, saya lebih jatuh cinta dengan buku itu.

“Fransiskus: Nabi Masa Kini” demikian judul buku itu. Saya membacanya dari halaman judul sampai di halaman daftar pustaka. Penuh perhatian. Sejak di halaman awal, saya sudah jatuh cinta dengan buku itu: diksi dan terutama kisah tentang tokoh utama di buku yang bersampul putih itu.

Berapa  persentase yang  terserap dari keseluruhan kisah di buku itu, saya tidak tahu persis. Mungkin tidak terlalu penting dan tidak mendesak. Apalagi, toh tidak ada ujian setelah itu. Tidak ada hukuman kalau saya tidak mengingat isinya. Sekalipun seluruh isi buku itu tidak ada satu pun yang membekas di ingatanku.

Akan tetapi, yang saya alami tidak demikian. Potongan kisah di buku itu membekas di ingatanku. Ada detak jantung yang berbeda  dengan kisah tokoh di buku itu. “Ia seorang kaya, tetapi kemudian dia meninggalkan kekayaan itu lalu memilih menjadi orang miskin dalam arti yang sempit dan dalam arti yang luas.” Begitu buku itu mengisahkan sosok bernama Fransiskus.

Tambahan pula, Fransiskus amat sayang dengan binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan. Hidupnya ceria. Pengikutnya banyak. Pakaiannya berwarna coklat dan sederhana. Dia punya sahabat yang baik bernama Klara. Dia mencintai Tuhan secara lebih sempurna. Dll.

Entah. Di mana irisan dengan pengalaman hidup saya dengan kisah-kisah itu, saya juga tidak tahu. Yang pasti, saya tertarik dengan kisahnya. Semacam ada suara yang menggema kuat dalam hati saya: "Mari,  ikutlah aku!"

Jujur saja, saya jatuh cinta dengan cara hidup yang dirintis Fransiskus. Benihnya ditabur mulai dari sana: dari buku usang itu, di beberapa halamannya ada banyak coretan dan banyak lembar yang sudah terlepas dari jepitan.

Catatan Akhir: Bukan Sebuah Kebetulan

Saya toh merasa itu bukan sebuah kebetulan. Sebagaimana peristiwa-peristiwa lain dalam hidup saya; tidak mudah bagi saya untuk begitu saja menerimanya sebagai kebetulan. Pun peristiwa  yang terjadi atas kebebasan orang lain yang tidak begitu mudah saya jangkau untuk menolak atau menerimanya, saya selalu berusaha menerima  bahwa ada maksud baik Tuhan di baliknya. 

Peristiwa di sore yang hujan dan saya yang terbantai sepi itu, saya menerimanya sebagai peristiwa iman.  Di dalamnya lebih banyak Allah yang berperan daripada kebebasan saya. Pasalnya,  di kemudian hari, saya tidak mengalami kebuntuan untuk  memilih jalan mana untuk melanjutkan perjalanan saya dalam rangka mendekatkan diri dengan Yang Ilahi.

Dalam perjalanan waktu, saya akhirnya memilih menapaki jalan yang dirintis Fransiskus. Namun, berhenti di tengah jalan, setelah 4 tahun mengikutinya. Tetapi, perjalanan empat tahun  itu, tapak demi tapak,  sangat memukau bagi saya. Dan, saya banyak diubah oleh warisan spiritualitasnya; yang saya temukan dari lautan sumber tertulis tentangnya dan juga yang dihidupi oleh pengikut-pengikutnya yang lain.

Cara pandang saya terhadap Bapa, harta, takhta, wanita, dan alam ciptaan juga amat dipengaruhi oleh tokoh ini. Setidaknya sampai saat ini. Mudah-mudahan esok dan nanti masih tetap sama. Atau, kalaupun tidak, setidaknya ada bekas-bekasnya "dikit",  demikian kata teman angkatan saya yang masih setia dengan panggilannya, di suatu waktu. 

(bersambung)

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *