HEADLINE NEWS

Tidak Lebih. Kita Hanyalah Debu di Alas Kaki Pencipta

ilustrasi
Terasvita– Tidak lebih. Juga tidak kurang. Pas. Di hadapan Sang Pencipta, kita__manusia yang tampan dan pas-pasan, cantik dan “parah", kaya dan miskin, berpendidikan dan buta huruf, orang kota atau orang kampung__hanyalah debu. Ya. Debu. Di alas kaki-Nya pula.
Kisah penciptaan kita mengatakan itu. Bahwasanya, demikian diinformasikan dalam Kejadian 2:4-25, kita memang diciptakan dari debu tanah. Pencipta mengambil tanah dan meniupkan nafas pada debu tanah itu. Lalu terbentuklah manusia itu. Itu terjadi pada hari keenam. Dan Sang Pencipta melihat ciptaan-Nya itu baik adanya.
Sesederhana itu Pencipta menciptakan manusia. Hanya sedikit lebih istimewa__dan menyiratkan tanggung jawab__  Sang Pencipta menciptakan manusia seturut gambar-Nya. Itu saja. Selebihnya, manusia tetaplah debu di alas kaki Sang Pencipta.
Namun, yang jadi soal itu di sini: manusia tidak menyadari diri kalau ia terbuat dari tanah. Lupa atau sengaja lupa. Tidak sadar atau sengaja tidak sadar. Tidak tahu dan sengaja tidak tahu. Pokoknya libas. Sikat habis. Dia begitu pongah dan tamak.
Kepongahan dan ketamakan itu menyata atau “men-daging” dalam akumulasi harta yang berlebihan, eksploitasi alam, ketidakadilan, pemiskinan, kekerasan (pembunuhan, terorisme, dll), bencana alam dan kemanusiaan, dan aneka ancaman nyata terhadap manusia dan ciptaan lainnya (bdk. Gita Sang Surya, Mei – Juni 2011).
Selain itu: Ini. Manusia tidak tahu dan tidak mau memikul tanggung jawabnya. Ia sengaja diciptakan lebih istimewa dari ciptaan lain, yaitu seturut gambar dan rupa Sang Pencipta (imago Dei). Tetapi, yah itu. Ia masih saja lupa. Padahal Tuhan Allah su bilang, ehh kau jangan bertempur, tetapi masih saja kau bertempur…
Tanggung jawab manusia sebagai imago Dei adalah ia dituntut untuk berada dalam kondisi baik, benar, adil, dan teratur. Kondisi itu, kata mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam pesan perdamaian tahun 1990, adalah prasyarat terjadinya harmoni kehidupan dan hidup di bumi (Gita Sang Surya, ibid). Tanpa itu, hidup dan kehidupan di bumi kaco balo hancur berantakan sebagaimana wajah dunia yang terluka kini dan (di sini?).
Benar saja toh. Sekarang tidak sulit untuk menjumpai manusia satu memangsa yang lain dalam peristiwa perang, genosida, penjualan dan perdagangan orang, pembunuhan, dll. Juga dalam kejahatan ekologis: pertambangan terbuka, pembalakan liar, dll.
Lalu, apa? Kita mau apa dan apa yang kita mau? Ada baiknya, di masa retret agung ini, saya, Anda, dia, kita, dan mereka merenungkan puisi “HANYA DEBULAH AKU” karya Sulaiman Otor OFM (2012): Aku debu//Debulah aku//Biarlah debu kembali ke debu//Abu kembali ke abu//Hanya debu debu debu debu debulah aku//Hanya debulah debulah debulah debulah debulah//…//Hanya debulah aku//Debulah aku hanya debulah aku debulah aku hanya debulah aku debulah//Hanya debulah aku//Hanya debulah aku//Hanya debulah aku//Hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya//…//Hanya debulah aku//Aku hanya debu//Debu//Debu (lih. http://www.lontarpos.com). Ia. Kita hanyalah debu di alas kaki Sang Pencipta. Selamat menjalani masa puasa yang diawali dengan menerima abu debu pada Rabu, pekan yang lalu.
Rian Safio - debu di alas kaki Pencipta yang berjuang menjadi manusia dan semakin manusiawi.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *