HEADLINE NEWS

Buku "Hidup Itu Panggilan" (Karya Pater Gusti Nggame OFM)

Gambar: https://ariestyajeany.wordpress.com/
Terasvita - Pada hakikatnya hidup manusia adalah sebuah panggilan kepada kepenuhan insani dan rahoniah. Manusia dipanggil untuk berada dalam persekutuan dengan Allah mulai dari sini dan kini (hic et nunc) yang mencapai kepenuhannya dalam surga abadi. Alasannya, terutama dalam kerangka iman Kristiani, hidup manusia diterima sebagai sebuah pemberian, bukan terlempar begitu saja atau peristiwa kebetulan semata.
Namun demikian, di zaman modern hidup manusia menjadi kering. Materialisme, indvidualisme, dan sekularisme meracuni cara pandang dan cara berada manusia-manusia modern yang kurang memberikan tempat terhadap dimensi transendetal dari hidup itu sendiri. Akibatnya, hidup seolah-olah sebuah hitung-hitungan ekonomis; seberapa banyak harta yang dikumpulkan dan seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Buku “Hidup Itu Penggilan” mencoba menekan laju dan memaksa manusia untuk berhenti sejenak untuk mengembalikan cara pandang terhadap hidup pada aras yang benar dalam horizon kristiani. Di dalamnya terbagi di dalam tiga spektrum besar yang antara satu dengan yang lain saling terkait dan bermuara pada upaya mempromosikan budaya panggilan.
Dalam spektrum pertama, penulis menyajikan serta menganalisis konteks zaman ini dalam kaitan upaya mengembangkan budaya panggilan. Menurut penulis, zaman ini ditandai dengan masyarakat kompleks, yakni masyarkat yang ikatan kolektif semakin memudar dan masyarakat yang heterogen. Selain itu, semakin suburnya pluralisme, subjektivisme, dan materialime.
Sepektrum kedua, penulis menyajikan soal konsep panggilan. Disadari bahwa tidak semua memiliki pemahaman yang memadai tentang panggilan. Bahkan, Gereja sendiri memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan, yakni mengubah cara pandang umat yang melihat panggilan hanya pada panggilan religius atau rohaniwan. Ada dua konsep panggilan yang disajikan penulis,yakni psikologis dan teologis. Konsep psikologis berkenan dengan panggilan sebagai kerinduan manusia untuk menjadi diri sendiri dan mentransendensi diri. Dan konsep teologis berkenan dengan relasi dialogis manusia yang dipanggil dan Allah yang memanggil.
Spektrum ketiga, penulis menyajikan upaya mempromosikan budaya panggilan berdasarkan analisis atas konteks zaman yang dikonfrontasikan dengan konsep panggilan itu sendiri. Dalam kacamata penulis, mengembangkan budaya panggilan membutuhkan mentalitas, sensibilitas, praktis yang memadai. Menganimasi keluarga sebagai ladang subur bertumbuhnya panggilan adalah sebuah kemendesakan. Selain keluarga, beragam kegiatan Gereja lainnya seperti kegiatan OMK,  pelajaran-pelajaran di sekolah-sekolah Katolik, dll, perlu digarap untuk mengembangkan kesadaran banyak orang akan hidup sebagai panggilan pada kekudusan.
Akhirnya, buku ini sangat kaya akan gagasan tentang hidup sebagai panggilan. Analisis yang tajam dan penyajian lugas menjadi kelebihan buku ini. Orang-orang Katolik semestinya membaca buku ini. Di dalamnya akan ditemukan makna hakiki hidup manusia itu sendiri sebagai sebuah panggilan. Teristimewa bagi mereka yang bergerak di komisi promosi panggilan, buku ini memberi dasar sekaligus strategi yang memadai dan relevan untuk membawa semakin banyak orang pada jalan panggilan untuk bersekutu dengan Allah, Penciptanya (bdk. Verbum Domini 77).
Rian Safio, tinggal di Jakarta

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *