HEADLINE NEWS

Pesawat Kesedihan [ Puisi-puisi Aris Usboko]



Pukul 17:00
Pada sebuah bandara
yang dipenuhi sepi dan
perempuan yang kesepian

Seorang lelaki
dengan kameja hitam
tas jinjing penuh buku
dan sebatang cokelat
di saku baju

Sebatang rokok putih
terselip di antara jemari
tangan kanan
dan sebuah kesedihan
mencuat dari sepasang mata
penuh kisah perjalanan

18:01
Pesawat berangkat
seorang lelaki duduk, sendiri
di kursi paling belakang
meninggalkan harum perpisahan
di bandara bernama El Tari

18:05
Ia ingat seorang perempuan
yang tadi pelukannya sangat erat dan mengikat
bibirnya yang pucat
pernah berduaan
di sebuah malam dengan
bulan bundar di jantung kota
yang hingar bingar

18:07
Ia ingat-sadar
kebekuan menyergap sweater hitam
menyelusup sampai gugup
degup jantung dan nadi
ayat-ayat  rindu
diucapkannya dalam hati

18:10
Dengan pesawat kesedihan
ia berangkat kembali menuju kota kenangan
mengangkut semua sisa pelukan
dan nama-nama perempuan
serta buku-buku kesayangan

18:13
Ia seorang diri
kembali menawarkan cinta
pada sisa perjalanan
sebelum mati,
ia menulis puisi
sebelum diketemukannya lagi
seorang perempuan
yang pernah membuatnya
begitu tak ingin pernah mati

RINDU

Sekujur tubuh menggigil, memberi tanda bahwa ia sudah tak lagi mampu. 
Mengendus mencari aroma sunyi yang pernah ditemui. 
Jarak yang tak lagi sedekat harap; menjadikan dingin kian mengusik.

Jalanan gersang kini basah tersebab siram air dari Tuhan. 
Angin bertiup mengikuti arah yang semesta berikan.
Membawa dedaunan terbang tinggi, melayang, kemudian jatuh sembarang.

Berserakan; terpapar di sepanjang kehidupan. 
Terinjak-injak oleh kaki-kaki berselimut kesakitan, 
tersebab dingin kian menggugah rindu yang telah lama diam.

Pandangan kian tertutup oleh kabut putih; 
lalu harap temu menjadi kaku, berjalan tanpa arah. 
Sebab tujuan telah terhalang oleh waktu dan takdir Tuhan.

Mimpi! Tak sedikit pun ditemukan lagi wajah-wajah jalang penuh dengan impian.
Setelah sekian kali semusim gigil kembali menghapus rindu.
Kembali berpasrah atas dasar kesetiaan.

Setia atas takdir Tuhan.
Tanah basah menyisakan gigil.

Aris UsbokoMahasiswa Jurnalistik di Univ. Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *