HEADLINE NEWS

Pergi: Sebuah Puisi Karya Fransiskus Adriyanto Pratama

Gambar: istimewa

Pergi

Sore itu dering ponselku tak menyahut
Kopi hitam yang kuseduh tak aku seruput
Perlahan aromanya hilang
Asap rokok terus mengepul dari bibirku

Sejurus kemudian, aku mencoba membuka ponselku
Separagraf pesan masuk, berisi berita kehilanganmu
Dadaku seketika sesak ingin kumati saja, batinku
Mataku sayu, bulir-bulir putih jatuh dari kedua kelopak mataku

Kabar kepergianmu, membuatku marah kepada Tuhan
Saat itu aku tak lagi percaya pada Tuhan
Setega itukah diri-Nya mencabut perempuan sebaik kamu
Apakah memang dia juga mencintaimu sama sepertiku

Jika memang dia sainganku kenapa dengan cara yang tak bisa kulakukan
Aku menutup mata, mengingat semua kisah yang telah kita rajut dalam lembar kenangan
Kapan lagi, aku bertukar cerita denganmu di beranda tempat kita menyeruput kopi yang engkau seduh

Manis rasanya setelah kucicipi racikan tanganmu, kenangku sembari menarik napas panjang
Namun itu semua tinggal kenangan
Ternyata hidup ini singkat, tak kita duga

Kalau memang Tuhan Mahabaik
Kenapa engkau harus pergi tanpa pamit dan permisi padaku
Aku masih ingat, seutas senyum yang kausunggingkan padaku saat menikmati senja di beranda rumahmu
Sembari tanganmu mengapit lenganku
Lalu engkau berkata jangan pergi dariku, katamu pelan
Aku pun membalasnya dengan senyum dan mengangguk bertanda aku mengiakan katamu

Tapi, kenapa?
Kamu yang membuat janji engkau pergi
Meskipun aku mencari di ujung dunia pun
Parasmu yang anggun tak akan kulihat kembali
Rupamu hanya kulihat lewat koleksi foto-foto pada ponselku

Saat kita menikmati senja sore itu
Aku masih ingat engkau bersabda padaku cahaya kemuning itu hanya sesaat saja kemudian pergi
Apakah itu petanda kala itu?

Kepergian mu bukan hanya aku saja yang merasa kehilangan
Kabar dukamu menghiasi media-media online
Memberitakan kebaikanmu semasa hidup

Aku dan ibumu dibanjiri ungkapan duka
Kini engkau abadi dan bahagia di rumahmu
Sementara aku engkau tinggalkan kenangan dan kesedihan
Yang tak akan kutahu sampai kapan mencumbuiku

Setiap saat aku menengadah ke langit
Melihat jejak mu pulang
Tetapi, hanya awan biru yang perlahan mendatangkan gelap

Fransiskus Adriyanto Pratama, Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *