HEADLINE NEWS

Manusia: Makhluk yang Berpengharapan

Foto: Facebook
Sdr. Mikael Santrio OFM
Terasvita - Pertanyaan manusia tentang dirinya sendiri akan selalu muncul dalam seluruh pergumulan hidup manusia itu sendiri. Pertanyaaan yang dimaksud adalah: Siapakah aku (manusia)? Dari mana aku berasal? Ke mana arah tujuan hidupku? Apa yang bisa aku lakukan di dunia ini? Dll.
Tulisan ini berupaya menjawab pertanyaan tentang siapakah manusia itu? Tentu, ulasan ini bukan satu-satunya jawaban, melainkan hanya salah satu alternatif saja. Penulis mendasarkan ulasan sederhana ini pada refleksi teologis seorang teolog Kristen, Jurgen Moltmann, yang membahas khusus teologi pengharapan.
Di dalam bukunya yang berjudul Theology of Hope, Moltmann berbicara banyak tentang harapan orang-orang Kristen baik harapan selama hidup di dunia ini maupun harapan manusia ketika beranjak dari dunia ini. Ia (Moltmann) mengatakan bahwa harapan orang Kristen itu bukan hanya terletak pada hidup di akhirat ketika manusia menyelesaikan peziarahannya di dunia ini, melainkan juga pengharapan itu sudah dimulai dari sini dan kini (hic et nunc).
Oleh karena itu, manusia dalam keseluruhan dirinya adalah makhluk yang selalu dan senantiasa berharap. Harapan manusia itu arahnya jelas, yaitu terarah kepada Sang Pencipta, Sang Pemberi Kehidupan. Bahasa yang digunakan oleh orang-orang beriman untuk hal ini: pengharapan kita itu terarah kepada Tuhan. Jadi, harapan kita itu bukan ilusi (harapan kosong), melainkan terarah kepada Sang Pencipta, Yang Tertinggi. Dengan demikian, manusia itu adalah makhluk yang selalu berpengharapan.
Dalam situasi saat ini, di mana keganasan pandemi Covid-19 yang semakin hari semakin menyerang secara membabi buta makhluk yang bernama manusia__tanpa melihat apakah dia pejabat atau warga biasa, miskin atau kaya, pria atau perempuan, tenar atau low profile, pas-pasan atau tampan___apakah kita masih berani untuk berharap? Masih adakah sedikit ruang bagi kita untuk berharap? Kalau kita menjawab ya atas pertanyaan ini, lantas pertanyaannya kemudian adalah: Harapan seperti apa yang perlu kita hidupi?
Tentu, harapan yang penulis maksudkan di sini bukan berarti pasif; tidak melakukan apa-apa; dan hanya menunggu saja kapan harapan itu terwujud. Harapan tidak identik dengan pasrah; berharap bukan berarti lari dari dunia ini. Ketekunan dalam berharap justru harus ditunjukkan dengan menjalankan tanggung jawab dalam hidup.
Untuk konteks kita saat ini, di mana pandemi Covid-19 semakin meluas, harapan yang mesti kita bangun ialah, pertama, wabah ini pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Ini adalah harapan kita. Kedua, “bahwasanya di mana bahaya itu ada, di situ tumbuh juga “kuasa” untuk menyelamatkan. Akan tetapi, tanpa adanya harapan dan kepedulian dari pihak kita, kuasa itu mustahil tumbuh.Bahaya melatih kita untuk peduli, yaitu bertanggung jawab dengan tidak berkumpul, untuk berbela rasa tanpa menyentuh, untuk setia kawan tanpa merangkul (lih. F. Budi Hardiman, Kompas,  Jumat 27 Maret 2020).
Ketiga, harapan untuk konteks kita saat ini dapat juga berarti berdisiplin diri, taat terhadap arahan atau anjuran dari yang berwajib demi keselamatan semua orang, dan peduli dengan keadaan orang-orang di sekitar kita. Melalui harapan seperti ini, tragedi kemanusiaan ini segera akan berlalu dari hidup kita.
Jangan Pernah Kehilangan Harapan!
Viktor E. Frankl (1905–1997) adalah seorang neurolog dan psikiater Austria serta korban peristiwa holocaust. Ia pernah mengatakan demikian, “Segala sesuatu boleh saja hilang dalam kehidupan kita, tetapi jangan sekali-kali kehilangan harapan.”
Pernyataan Frank itu menegaskan bahwa harapan itu menjadi pemacu semangat kita untuk dan dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Kita bisa bertahan hidup sampai saat ini, salah satunya karena kita memiliki harapan.
Karena itu, jangan pernah kehilangan harapan! Sebab, bahaya yang tidak kalah besar dibanding derita raga adalah kehilangan harapan. Menjawab pertanyaan siapakah manusia itu di awal tulisan ini, kita bisa mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berpengharapan. Kita semua pun berharap, pandemi covid-19 ini akan berlalu dari kehidupan kita dan kitalah yang menjadi pemenangnya.
*Penulis adalah biarawan Fransiskan,  tinggal di Jakarta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *