HEADLINE NEWS

Kita Tetaplah “Tuan” atas Pandemi Covid-19

Rian Safio. Foto: dokumen pribadi.
Terasvita – Dari hari ke hari kasus Covid-19 semakin meningkat. Data mutakhir per 29 Maret, sebagaimana dilansir www.covid19.go.id,  secara nasional jumlah kasus mencapai angka 1285. Dari total angka ini, 1107 orang sedang dirawat, 64 orang sembuh, dan 114 orang meninggal dunia.
Sementara itu, secara global, terpantau di worldometers.info (Senin, 30 Maret 2020), Covid-19 menyebar di 202 negara. Ada 718.291 orang yang terinfeksi, 33.897 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 150.918 orang dinyatakan sembuh.
Deretan angka-angka tersebut tentu saja membuat sebagian orang merasa takut, gelisah, resah, dan panik. Perasaan-perasaan macam itu pada tataran tertentu amatlah wajar mengingat efek yang ditimbulkan dari Covid-19 itu amat masif, baik efek klinis maupun sosial dan ekonomi.
Joan Udu, mahasiswa pascasarjana di STF Driyarkara, dalam tulisannya berjudul “Diktator Itu Bernama Covid-19”, mengibaratkan covid-19 sebagai diktator yang tanpa ampun melibas dan melindas siapa saja: perempuan dan laki-laki, tua dan muda, yang berada atau rakyat jelata, dst.
Joan, sapaannya, menulis demikian: “Satu hal yang pasti bahwa Covid-19 tampak begitu kuat dan agresif dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Ia menjelma menjadi diktator yang paling ditakuti di seluruh dunia saat ini, bahkan oleh negara digdaya seperti Amerika Serikat. Tidak ada negara yang merasa hebat tatkala berhadapan dengan virus ini…” (lih. lontarpos.com).
Dari sudut pandang akibat yang ditimbulkan oleh Covid-19, barangkali tidak terlalu sulit untuk mengakui bahwa Covid-19 layaknya diktator. Ia diktator yang menyeramkan dan tak pernah peduli dengan upaya dan niat baik masing-masing orang untuk melanjutkan perjuangan hidupnya.
Akan tetapi, dari sudut pandang lain, yaitu manusia yang dianugerahi kecakapan akal dan secara spiritual selalu terhubungan dengan Sang Mahakuasa, Covid-19 tidak akan pernah menjadi diktator yang membabi buta atas hidup dan kehidupan kita. Hemat kami, kita tetaplah “tuan” atas Covid-19.
Sebagai tuan yang dianugerahi kecakapan akal, ada dua sikap kita terhadap Covid-19. Pertama, tidak membiarkannya masuk dalam rumah (baca: tubuh) kita masing-masing. Kita yang berhak dan punya kuasa untuk siapa yang boleh dan tidak boleh masuk dalam rumah kita. Hal itu bisa kita lakukan dengan tetap menjaga daya tahan tubuh, selalu mencuci tangan, dan anjuran-anjuran medis lainnnya.
Kedua, sebagai tuan atas pandemi tersebut, kita juga berhak dan punya kuasa untuk membatasi pergerakannya. Sebagai tuan yang baik, kita tidak mau tetanggga kita ikut dirusak oleh “pembantu” yang barangkali sudah hidup dalam tubuh kita. Kebijakan lockdown atau kerja dan belajar dari dan atau di rumah, barangkali kita menemukan dasarnya bahwa kita adalah tuan yang baik; tuang yang tidak mau “tetangga” kita turut dirusak oleh pandemi tersebut.
Sementara itu, sebagai tuan yang selalu dalam horizon dengan Sang Mahakuasa, kita punya jaminan dan dasar untuk berharap bahwa pandemi tersebut akan segera berlalu dan kita berdiri sebagai pemenang atasnya. Doa-doa dan upaya-upaya manusiawi yang tulus dari lautan manusia di  seantero dunia dan terutama kerahiman dan kemahamurahan Allah sendiri yang menjadi dasar dari harapan-harapan itu.

Dari pihak kita, mengutip khotbah Paus Fransiskus dalam misa Urbi et Orbi pada Jumat, 27 Maret  2020: "Merangkul salib-Nya berarti menemukan keberanian untuk merangkul semua kesulitan saat ini, meninggalkan sejenak keinginan kita untuk mendapatkan kekuasaan dan harta demi memberikan ruang bagi kreativitas yang diinspirasikan oleh Roh Kudus…”
Kita tetaplah tuan atas Covid-19. Namun demikian, kita hanyalah debu di alas kaki Pencipta. Doa dan upaya-upaya manusiawi kita mutlak dilakukan, seiring sejalan.)***
Rian Safio, debu di alas kaki Sang Pencipta, tinggal di Jakarta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *