HEADLINE NEWS

Kita Memang Hanya Sebatas Pernah [Puisi Aris Usboko]



Kita Memang Hanya Sebatas Pernah


Secinta itu, kita pernah.
Sebahagia itu, kita pernah.
Dan seluka itu, kita juga pernah.

Kita pernah.
Sebelum kau memutuskan untuk sudah dan aku mengambil langkah menyerah.
Kita pernah.
Sebelum berjalan berlainan arah dan dikuasai amarah.
Kita memang hanya sebatas pernah hingga tiba waktunya segala rasa benar-benar musnah.
Kita pernah saling menyemai mimpi untuk berteduh dari panas dan hujan pada satu rumah.
Sebelum kita saling dikuasai ego dan segala impian menjadi punah.

Kita memang hanya sebatas pernah.
Hingga tiba takdir yang sering kau katakan di waktu yang entah.
Aku pasrah, mempercayai takdir-takdir hebat dalam degub yang resah.

Perihal kita yang pernah, sesak memenuhi rongga dada dan ruang ingatan.
Senyummu bertukar tawamu, lalu kecewamu berganti posisi dengan amarahmu, sedetik kemudian luka-luka berdesakkan meminta diingat juga.

Luka yang kuberi untukmu dan patah yang kau balas padaku.
Aku menuntut keadilan berkali-kali, padahal inilah adil yang seadil-adilnya.
Aku yang kadang salah, dan kau yang tak pernah mau kalah.
Berujung pada kita yang sebatas pernah.

Semua tak selesai hingga kita benar-benar usai.
Keputusan yang kau buat dan kau setujui sendiri adalah senjata paling ampuh untuk membalas rasa sakit hati.
Satu lagi, menjadikan aku orang paling asing juga merupakan senjata paling tajam untuk membalas luka yang pernah kutikamkan.

Tapi, sudahlah.
Hari ini hujan, barangkali beberapa hari ke depan juga akan hujan.
Kenakan pakaian terhangatmu.
Aku tahu kau tak jauh beda denganku.
Kita sama. Sama-sama mudah jatuh sakit.

Semoga hujan dapat meluruhkan luka kita.
Aku dan kau akan sembuh saat kemarau tiba.
 Semoga....

*ArisUsboko,  mahasiswa jurnalistik Univ. Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *