HEADLINE NEWS

Uskup Ruteng: Dalam Kasih, Perbedaan Akan Berlabuh pada Bonum Commune

Gambar: OBOR
Terasvita - Omnia in Caritate  adalah moto yang dipilih oleh Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Keuskupan Ruteng, yang akan ditahbiskan pada 19 Maret mendatang. Moto ini memotret pengalaman imannya  akan Allah Tritunggal yang adalah Kasih.
Bahwasanya, Allah yang ia imani dan alami adalah Allah Yang Mahakasih. Dan, sejak ditahbiskan imam pada Oktober 1995, ia menyerahkan seluruh hidup dan kebebasannya dalam pangkuan Bunda Gereja  karena kasih dan dalam kasih.
Hampir seluruh tugas pelayanan yang dijalankannya entah sebagai dosen di STFK Ledalero, formator untuk para calon imam di Seminari Tinggi Ritapiret atau sekretaris eksekutif KWI, selalu berlandaskan pada kasih. ”Kita boleh berbeda dalam cara pandang, tapi dalam kasih perbedaan itu akan berlabuh pada kepentingan yang lebih besar, yakni bonum commune” (hlm.153).
Buku “Lakukan Semua dalam Kasih: Kenangan Tahbisan Mgr. Siprianus Hormat” merangkum, menjembatani, dan mengelaborasi moto itu dalam tiga spektrum besar. Pertama: Penggembalaan Mgr. Sipri dari aspek doktrin Gereja. Seorang uskup adalah seorang gembala dan contoh paling purna dari gembala yang baik adalah Kristus sendiri. Dengan moto ini, Mgr. Sipri berupaya dalam kesatuan dengan Gereja universal, para imam, dan seluruh umat Keuskupan Ruteng berupaya menjadi gembala yang baik bagi semua.
Kedua, penggembalaan Mgr. Sipri dalam perjumpaan dengan budaya lokal dalam hal ini budaya Manggarai. Beliau dan seluruh gembala terbaptis dan tertahbis serta seluruh umat Keuskupan Ruteng diajak untuk menjadi gembala bagi tradisi, tetapi juga guru yang belajar dan mengajarkan serta mendalami keduanya, serta nabi yang mengharmoniskan keduanya sebagai dasar historis, kultural, dan sosial iman, sehingga semuanya akan berada di dalam kasih (Omnia in Caritate) (hlm.30).
Ketiga, penggembalaan Mgr. Sipri dalam  perjumpaan dengan persoalan kemanusiaan di Manggarai, seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, perempuan yang terpinggirkan, merebaknya budaya populer, kehadiran industri yang meminggirkan masyarakat kecil, pendidikan yang masih tertatih-tatih, dll. Persoalan-persoalan kemanusiaan itu menantang sekaligus menagih kecekatan dan keberpihakan beliau, agar dalam kasih, wajah duka dan kecemasan umat dan Gereja Katolik Manggarai diubah menjadi wajah kegembiraan dan harapan.
Gembala Gereja mesti hadir bukan saja memberikan kekuatan spiritual, melainkan mampu memberikan pertobatan sosial, ekonomi dan politik, agar seluruh pembangunan berbasiskan masyarakat lokal, berkeadilan, dan berkelanjutan. Moto ”Omnia in Caritate” dapat menjadi inspirasi bagi Gereja Katolik Manggarai untuk terus mendasarkan karya pelayanan apa pun pada nilai cinta kasih.
Akhirnya, buku ini sangat kaya akan gagasan dalam rangka mewujudkan moto Mgr. Sipri Hormat menjadi peristiwa iman yang membebaskan bagi Gereja Katolik Manggarai. Di dalamnya, dengan beragam perspektif, menguraikan secara holistik dasar dan konsekuensi pilihan moto itu dalam tugas penggembalaan Mgr. Sipri di bumi Nuca Lale. Umat Katolik Manggarai, baik yang di diaspora maupun yang berada di Tanah Congka Sae, sepantasnya membaca buku ini.
Dengan demikian, kita bisa mengenal dengan baik visi dari gembala kita yang baru ini. Pengenalan yang baik itu, niscaya melahirkan kasih yang sejati, yang mewujud di dalam tindakan konkret yang selaras dengan harapan sang Gembala Utama, Yesus Kristus.
Rian Safio // umat diaspora Keuskupan  Ruteng

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *