HEADLINE NEWS

Segi yang Getir dari Kuliah Sambil Kerja


 Gambar: https://www.radarbangka.co.id 
Terasvita– Waktu untuk refreshing hampir tidak ada. Setelah dari pagi sampai petang lelah bekerja, malamnya harus ke kampus untuk mengikuti kuliah. Capek. Tenaga terkuras habis. Kadang, banyak waktu kuliah dilewatkan begitu saja.
Hal itu dialami Miming Sinartin  (23), mahasiswi akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis Indonesia (STIE Bisnis Indonesia), Jakarta Barat. Pasalnya, selain kuliah, mahasiswi semester 8 itu juga bekerja full time di sebuah pabrik di kawasan Kapuk, Jakarta Barat.
Miming, sapaan manisnya, mengaku, datang merantau ke Jakarta pada 2013 silam selain untuk mencari pekerjaan yang lebih baik juga terutama untuk kuliah. Niatnya bahwa suatu saat akan kembali ke kampung halaman dan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan bekal pengalaman dan ilmu yang didapat di ibu kota.
“Saya niat sekali tinggal di kampung nanti, makanya saya kuliah dan sambil kerja supaya saya nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” tutur alumna SMA Negeri 1 Macang Pacar, Manggarai Barat kepada terasvita.com beberapa waktu lalu.
Hal serupa pernah dialami Redin Umba (28). Pada tahun 2011, Redin, sapaannya, memilih untuk merantau di Ujung Pandang  Makasar. Setelah dua tahun bekerja, pada tahun 2013, ia mendaftarkan diri  di STIE BAJIMINASA MAKASAR, mengambil jurusan ekonomi.
Kondisi ekonomi keluarganya memaksa alumnus SMPK St. Markus Pateng itu untuk kuliah tanpa  melepaskan pekerjaan. Bagi dia (Redin-red), kuliah dan kerja, sama pentingnya. Bahkan, ia tidak bisa kuliah kalau ia melepaskan pekerjaannya.
“Saya harus melalui itu. Tidak ada pilihan untuk kuliah saja sebagaimana dialami oleh kawan-kawan yang lain. Kalau jadwal kuliahnya pagi, maka saya bisa masuk kerja malam hari. Shift-shift-an dengan teman-teman di tempat kerja,” ungkapnya via Whatsapp, Minggu 9 Februari 2020.
Pria asal Nggilat, Manggarai Barat itu bekerja di perhotelan. Pada tahun 2017 silam, ia menyelesaikan kuliahnya. Selama kuliah  itu, ia merasakan getir dan pahitnya kuliah sambil bekerja. 
“Tidak mudah. Saya kadang merasa iri dengan teman-teman yang bisa belajar atau kuliah tanpa harus terganggu dengan kesibukan pekerjaan. Namun, saya berusaha untuk mengatur waktu dengan baik. Mengurangi kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif,” tambahnya.
Cerita getirnya hidup sebagai mahasiswa sambil kerja juga dialami Vitus Rablijun (25). Pada 2013 silam, ia memilih merantau di Samarinda, Kalimantan Timur. Setelah setahun bekerja, ia mendaftar masuk kuliah di Fakultas Pendidikan Ekonomi di IKIP PGRI, Kalimantan Timur.
Sambil kuliah, ia bekerja di gudang sebuah Alfa Midi di Kota Samarinda. Tenaganya terkuras habis. Lelah dan waktu untuk bersantai-santai sangat minim. Jam kerja dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00. Setelah pulang dari tempat kerja, ia bergegas ke kost untuk menyiapkan diri ke kampus.
“Susah sekali mau kumpul untuk senang-senang  sama teman. Biasanya kalau pulang kuliah, teman-teman mengajak nongkrong,  tetapi saya selalu menolak karena mengingat besoknya harus bekerja,” tutur Vitus, sapaannya.
“Ketika masuk semester VII, kampus mewajibkan mengikuti Program Praktik Lapangan (PPL) . Saya PPL  di SMAN 9 Samarinda. Di situ dari pukul 07.15 samapai 14.00. Setelah itu, saya langsung pergi kerja sampai pukul 23.00. Melelahkan dan sunggguh sangat berat,” tambah anak keempat dari enam bersaudara itu.
Keluarga Tidak Lepas Tangan
Pilihan untuk kuliah sambil kerja bukan karena orangtua lepas tangan. Pilihan itu diambil karena mereka sendiri merasakan bahwa orangtua tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan mereka. Orangtua mereka tetap memberikan dukungan moril dan sebagian uang kuliah.
“Dukungan dari keluarga lebih khusus kedua orangtua sangat besar. Kalau mereka ada uang, mereka kirim untuk tambahan uang kuliah. Yang lebih penting orangtua saya selalu memotivasi saya untuk kuliah sampai selesai,” ungkap Yanto Harianto (25), alumnus Sekolah Tinggi Manajemen Informasi dan Komputer (STIMIK), Jakarta Barat.
Susahnya membagi waktu antara kuliah dan kerja pun dialami sarjana sistem informasi itu. Selama kuliah, ia harus sambil bekerja di sebuah perusahan di Jakarta Barat. Namun, ia berkomitmen untuk menyelesaikan kuliahnya. Dukungan orangtua menjadi kekuataannya di tengah getirnya perjuangan di ibu kota "yang lebih keras dari ibu tiri".
“Bagi saya pendidikan sangat penting untuk meningkatkan karier, karena tanpa pendidikan tinggi daya jualnya tidak ada, karena pengalaman saja tidak cukup untuk bersaing di dunia kerja, yang walaupun menurut sebagian orang sukses itu tidak harus melalui pendidikan tinggi. Sehingga, saya pun berjuang hingga pada akhir 2019 saya diwisuda,” tutupnya.
Vitus menuturkan pengalaman serupa. Orangtuanya di Wontong, Flores, meski sekadar petani sederhana, mereka sangat mendukung cita-citanya. Dukungan itu dalam banyak bentuk, seperti doa, motivasi, dan sebagian uang kuliah ketika uang hasil pekerjaan tidak cukup untuk membiayai kuliah.
“Papa dan mama saya sangat mendukung. Memang tidak selalu dalam bentuk uang. Tetapi, saya percaya mereka selalu mendoakan saya, memberi dorongan moril, dan sesekali mereka mengirim uang. Dukungan-dukungan itu yang menguatkan saya hingga pada tahun 2018 saya diwisuda. Dan sekarang saya bersyukur bisa bekerja di perusahan sawit terbesar di Kalimantan Timur,” tuturnya.
Rian Safio, tinggal di Jakarta. Tulisan ini hasil obrolan sederhana di whatsapp tentang pergumulan masing-masing, hingga suatu waktu kami membicarakan soal pengalaman kuliah.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *