HEADLINE NEWS

Pengungsi dan Paradigma yang Dipilih

Seorang bocah perempuan memegang poster dari kardus bekas dalam sebuah aksi protes untuk membuka kembali perbatasan di sebuah kamp sementara di perbatasan Yunani - Makedonia pada 23 Maret 2016. Gambar: © 2016 ANDREJ ISAKOVIC/AFP/Getty Images
Terasvita - “Bagaimana Anda mengetahui kapan malam telah berakhir dan kapan hari baru dimulai?" tanya seorang guru spiritual kepada murid-muridnya. 
“Ketika Anda melihat seekor binatang dari kejauhan dan dapat membedakannya apakah itu seekor sapi atau kuda,” jawab seorang murid menimpali pertanyaan sang guru.
“Salah,” sahut sang guru. “Ketika Anda menatap wajah setiap laki-laki dan mengenalinya sebagai saudaramu; ketika Anda menatap wajah setiap perempuan dan mengenalinya sebagai saudarimu. Kalau Anda tidak melakukan hal ini, entah hari menunjukkan pukul berapa menurut perhitungan matahari, hari masih tetaplah malam,” jelas sang guru.
Cerita sederhana, namun menyiratkan pesan yang mendalam ini ada dalam tulisan Anthony de Melo, “Taking flight: A Book of Story Meditations”, sebagaimana dikutip  Thomas Hidya Tjaya dalam “Enigma Wajah Orang Lain (2012: 157-158).
Pertanyaannya: Apa relevansi cerita tersebut? Hemat penulis, dalam beberapa tahun belakangan ini, dunia "direpotkan" dengan membeludaknya para pengungsi dari Suriah ke Eropa. Situasi genting ini menggugah sekaligus menggugat rasa simpati, empati, dan solidaritas dari banyak orang. Sebagai contoh sekaligus simbol, Paus Fransiskus membawa  12 orang pengungsi ke Vatikan.
Sebelumnya, pemimpin Gereja Katolik sedunia ini  telah menunjukkan sikap keterbukaan untuk menerima para pengungsi seperti mengimbau gereja-gereja Katolik untuk menjadi kamp pengungsi, menyerukan dan mendesak negara yang relatif damai untuk menyelamatkan jutaan nyawa pengungsi. 
Tindakan keberpihakan kepada para pengungsi juga ditunjukkan  Kanselir Jerman Angela Merkel. Tidak ada yang menyangka, kanselir negeri panser yang terkenal dengan julukan pemimpin tangan besi  itu, begitu melunak terhadap para pengungsi. Kebijakannya menerima para pengungsi menuai kritik dari kelompok sayap kanan Jerman dan mengancam kursi kekuasaannya. Namun, rupanya kritikan-kritikan yang datang bergelombang kepadanya diabaikan karena hatinya “terusik” dengan suara mendesah menahan sakit dan penderitaan dari para pengungsi.
Benang Merah Tindakan Paus Fransiskus dan Merkel
Paus Fransiskus dan Angela Merkel adalah dua dari ribuan orang yang telah berempati dengan para pengungsi. Banyak cara, tenaga, dana, bahkan nyawa dipertaruhan untuk menyelematkan para pangungsi. Di mata mereka kaum pengungsi adalah mutiara yang mesti diselamatkan.
Namun, tidak sedikit pula yang menutup hati. Pintu-pintu masuk para pengungsi dibentengi dengan kawat duri dan dikawal ketat oleh mereka yang lengkap dengan laras panjang. Padahal, dengan mata telanjang mereka menyaksikan jutaan orang, tua-muda, pria dan wanita diterjang gelombang di samudra lepas karena dibuntuti senjata oleh saudara senegeri di tanah sendiri.
Apa yang dicari oleh mereka yang peduli pengungsi: Popularitas? Pencitraan? Kebanggaan? Bukan! Hal-hal macam itu tidak sempat terpikirkan di hadapan jutaan wajah manusia dan kemanusiaan yang terluka. Di sana, wajah-wajah itu, meminjam istilah Emanuel Levinas, adalah undangan untuk peduli. Kita merengkuh mereka dan mencium luka-luka mereka.
Thomah Hidya Tjaya Sj  mengatakan, kemusnahan atau kematian yang lain karena arogansi manusia lain mesti mengusik kita untuk mencegah; kematian memang sebuah keniscayaan tetapi tidak untuk kematian karena kebrutalan dan kekerasan (2012: 161).
Paradigma yang Dipilih
Di hadapan yang lain terutama pengungsi dan semua wajah yang terluka, cara berpikir atau paradigma yang dipilih adalah (semestinya) paradigma “saudara”. Fransiskus Assisi, tokoh spiritual Gereja Katolik pada Abad Pertengahan, menghidupi cara berpikir itu. Ia menyapa yang lain sebagai saudara. Yang paling radikal adalah ia mencium dan memeluk orang kusta, kalangan yang dimarginalkan pada masa itu.
Dalam paradigma “saudara”, yang mungkin terjadi adalah kepedulian dan penerimaan akan diri yang lain tanpa syarat. Bahkan, lebih dari itu, merayakan kehadiran yang lain sebagai anugerah. Kehadirannya disyukuri.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si (2016) menyebut bumi sebagai rumah kita bersama. Konsekuensinya setiap orang berhak tinggal di dalamnya, selain tentu saja ada kewajiban untuk merawatnya. Kalau demikian, seharusnya yang lain diterima sebagai saudara.
Mengikuti pertanyaan guru spiritual yang ada dalam kisah de Mello, seperti diceritakan di awal, pertanyaan hampir serupa juga ditanyakan kepada saya, Anda, kita, dan mereka (sekarang): Kapan kita mengetahui kita manusia (beragama pula)?
Ketika kita mengenal si Budi sebagai orang Jawa? Ketika kita mengenal  si Ani sebagai orang Flores? Ketika kita mengenal si Malala sebagai orang Pakistan? Bukan! Ketika saya dan Anda, tanpa ragu dan penuh kesadaran: menerima, merangkul, dan memeluk yang lain apa adanya sebagai saudara dan saudari: menerima para pengungsi di rumahmu sebagai keluarga barumu, saudara/i barumu. Ketika  kita merawat dan mencium luka-luka mereka yang terluka oleh ketidakadilan, keserakahan, arogansi, perang, dan kepongahan penguasa, pengusaha, oknum-oknum kriminal, dll.
Jika tidak demikian yang terjadi, saya, Anda, dia, kita, dan mereka masih perlu belajar menjadi manusia. Yang Kristen belajar menjadi manusia pada Yesus, yang Muslim belajar menjadi manusia pada Nabi Muhammad SAW, yang Budha belajar menjadi manusia pada Sidharta Gautama, dll.***
Rian Safio - tulisan ini pernah diterbitkan di majalah Gita Sang Surya dan jpicofmindonesia.com.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *