HEADLINE NEWS

Eks-pengungsi Terpanggil Menjadi Pembela Pengungsi

Hannen Abdel Khaleg adalah eks pengungsi. Pengalaman menjadi membuatnya merasa terpanggil untuk ikut membela para pengungsi. Foto: google.com

Terasvita - Manusia hidup dalam tiga dimensi waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu adalah wilayah kenangan, masa kini adalah wilayah kenyataan, dan masa depan adalah wilayah harapan. Ketiga dimensi itu dalam satu tarikan garis lurus.

Hannen Abdel Khaleg hidup dalam tarikan ketiga dimensi waktu itu. Perang teluk tahun 1990 mengubah bentangan sejarah hidupnya. Juga sejarah masa depannya. Peristiwa pada 30 tahun silam itu memaksa perempuan berparas cantik itu mengungsi dari tanah kelahirannya, Palestina.

Saat itu, ia masih berusia sepuluh tahun. Tak sepenuhnya ia mengerti sebab musabab situasi genting tersebut. Ia bersama keluarga dan sejumlah warga Palestina berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mula-mula di Suriah, Yordania, Qatar kemudian berujung di negeri Kanguru, Australia.

Hannen, sapaannya, memahami betul getirnya jadi pengungsi. Untuk Haneen, pengungsi-mengungsi-pengungsian merupakan hal-hal eksistensial. Ia tidak mengetahui hal tersebut dari cerita-cerita orang, berita-berita media, tetapi dialaminya sendiri; pernah tergores membekas dalam lembaran sejarah hidupnya. 

Ketika gelombang pengungsi membajiri Eropa beberapa tahun silam, ia ditawari beasiswa untuk mempelajari Migrasi Internasional Hubungan antaretnis di Universitas Malmo, Swedia. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Bak gayung bersambut, ia menerima tawaran tersebut. 

"Pada saat itu banyak orang yang tiba di Swedia dari tempat-tempat, seperti Suriah, Irak, dll. Di situ, saya melihat dampak perang yang membuat orang harus meninggalkan tanah kelahiran dan hidup terlunta-lunta di pengungsian," ungkap Hannen. 

Dia mengutarakan, belajar bersama mahasiswa internasional lainnya dari negara-negara Afrika, Asia, dan Timur Tengah memperkaya pengalamannya sebagai mahasiswa master di Malmö. Di kampus itu, ia mendapat banyak pengalaman dan informasi seputar pengungsi yang membajiri Eropa.

“Kami dapat berbagi pengalaman dan pandangan yang berbeda tentang hal-hal yang sedang para pengungsi. Perbedaan pandangan itu amat berharga bagi saya,” tambahnya lagi. 

Untuk Hannen, masalah pengungsi merupakan masalah pelik. Di Eropa sudah mulai timbul gelombang penolakan. Ada ketakutan masyarakat Eropa terhadap kehadiran para pengungsi dari Timur Tengah itu. 

"Ada banyak masalah yang dihadapi para pengungsi di Libanon terutama  masalah dokumen hukum. Sangat melelahkan melihat situasi yang semakin memburuk dan banyak pengungsi yang tidak bertahan dan ingin kembali ke Suriah," cerita Hannen.

Seabrek kesulitan yang dihadapi tidak menyulutkan semangat perempuan berparas cantik itu. Mencium luka pengungsi di tengah kegetiran hidup di pengungsian sudah biasa dilakoninya. Tak sejengkal pun ia ingin mundur dan ingin hidup dalam kenyamanan. 

Di masa mendatang, Hannen bermimpi bisa membawa perubahan pada kebijakan migrasi internasional. Menurutnya, kebijakan yang prokemanusiaan memudahkan para pengungsi mendapatkan perlindungan. Namun, untuk saat ini, kata dia, masih nyaman di lapangan.  Ia bisa berinteraksi langsung dengan para pengungsi.

"Mungkin sedikit klise, tetapi yang paling penting adalah melakukan perubahan-perubahn kecil. Orang-orang yang mengungsi menjalani periode paling buruk dalam sejarah hidup mereka. Saya ingin mendukung mereka dengan segala cara yang bisa saya lakukan," tutup Hannen.  

Rian Safio - Diolah dari berbagai sumber. Tulisan ini pernah dipublikasikan di jpicofmindonesia.com.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *