HEADLINE NEWS

Di Sini Kami Lapar, di Sana Kamu Membuang-buang Makanan

Jutaan anak di Benua Afrika menderita kelaparan. Di belahan dunia lain, banyak makanan yang dibuang begitu saja. Gambar: Dok. edunews.id. 
Terasvita - Pengetahuan ekonomi dasar yang dipelajari di bangku sekolah lanjutan pertama mengatakan bahwa menurut tingkat intensitas kegunaannya, kebutuhan manusia terdiri atas kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Yang masuk dalam kategori kebutuhan primer, yakni pangan, papan, dan sandang.
Untuk generasi milenial bisa saja ada pergeseran. Misalnya, soal sandang dan papan bisa jadi kebutuhan sekunder dan handphone, colokan handphone, dan jaringan internet/paket data menjadi kebutuhan primer. Toh zaman memang sudah berubah. Tetapi, kapan pun dan di mana pun, soal pangan tetaplah menjadi kebutuhan primer. 
Emang ada yang bisa hidup tanpa makan? Anak mahasiswa yang jauh dari orangtua dan tinggal indikos mungkin saja bisa tahan sampai empat hari tidak makan, itu pun dengan bantuan air isi ulang. Tetapi, soalnya air juga dibeli. Bukan barang bebas yang kita kenal dari pelajaran ekonomi zaman dulu. Dengan kata lain, kebutuhan akan pangan tidak pernah bisa ditunda. 
Masalahnya, krisis pangan sering melanda umat manusia di banyak tempat. Banyak yang terkapar mati karena kelaparan dan gizi buruk.  Sebagai contoh, Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT menunjukkan, dari Januari-Mei 2015, ada 1918 anak, harapan masa depan NTT menderita gizi buruk. Sebelas di antaranya harus menyerah di hadapan beringasnya penderitaan akibat gizi buruk alias meninggal dunia. Sementara yang dalam taraf kekurangan gizi sebanyak 21.134 anak.
Problem krisis pangan yang berujung pada masalah gizi buruk dan kelaparan tentu saja karena banyak faktor. Apakah  karena alam mulai enggan…bersahabat dengan kita dalam menyediakan kebutuhan perut kita? Hohoho… Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang… Semoga ada jawaban yang kita didapatkan. Kalau tidak ada, mari kita lanjut perjalanan ini…Kita ke negeri Tirai Bambu, China.
Menurut Organisation for Economic  Co-operation and Development (OECD), dikutip dari China Daily-Asia WeeklyFebruary 26- March 3, 2016, makanan yang cepat rusak seperti buah-buahan dan sayur-sayuran banyak terbuang-buang di China. Lima belas persen yang terbuang saat penyimpanan pascapanen, 10 persen  saat distribusi dan konsumsi. Sementara untuk jenis kentang, sekitar 20 persen yang terbuang-buang.
Masih menurut OECD, sekitar 1,3 juta juta ton setiap tahun makanan yang terbuang-buang di China, Jepang, dan Korea Selatan. Jumlah tersebut sekitar 28% dari jumlah makanan yang terbuang-buang secara global. Sektor yang sangat besar berkontribusi dalam persoalan ini, yaitu sektor katering dan restoran.  Masing-masing sektor ini menyumbang 10%.
Selain dua sektor itu, sektor lain yang paling banyak membuang-buang makanan, yaitu sektor rumah tangga. Sekitar 10,2% gandum yang dibuang-buang di provinsi-provinsi bagian Utara-China, 8,8% di bagian Barat, 7.4% di sekitar Sungai Yangtze, dan 5% di Sekitar Sungai Kuning.
Data-data tentang banyaknya makanan yang dibuang-buang mendorong pemerintah China untuk melakukan perbaikan. Sejak tahun 2016 sampai tahun ini (2020-red), Pemerintah China mendorong pengembangan cara baru untuk mengolah bahan pangan yang lebih berkualitas, efisien, adil, dan berkesinambungan. Yang menjadi perhatian meraka adalah pada saat  panen, distribusi, dan konsumsi.
Mengatasi persoalan itu, langkah praktis yang mereka lakukan adalah membuat lemari pendingin dan membangun infrastruktur yang baik. Hal ini untuk mengatasi saat pascapanen dan saat distribusi.Sementara, untuk pada tahap konsumsi, mereka menekan restoran-restoran untuk tidak membuang-buang makanan.
"Perjalanan" kita negeri China menyibak bahwa krisis pangan kerap bukan karena alam enggan mulai bersahabat dengan kita… Alam masih bersahabat dengan kita. Yang jadi soal adalah sikap manusia yang bangga dengan salah dan dosa-dosa: membuang-buang makanan. Itulah bencana kemanusiaan yang dihadapi anak-anak manusia zaman ini.
Paus Fransikus dalam sebuah audiensi mingguan di Lapangan St. Petrus, Rabu 5 Juni 2013 lalu mengecam keras budaya membuang makanan di tengah dunia yang semakin konsumeris zaman ini. Ia menilai sikap membuang makan  itu sama seperti merampas habis nasi di piring-pring orang miskin.
“Kakek-nenek kita biasa menasihati kita agar jangan membuang makanan sisa.  Konsumerisme telah membuat kita terbiasa menyisakan makan setiap hari dan kita gagal melihat nilai sejatinya. Membuang makanan sama dengan mencuri dari meja mereka yang miskin dan lapar,” kecam pemimpin spiritual 1,2 miliar umat Katolik seluruh dunia itu.
Benarlah apa yang dikatakan pemimpin spitirual sekaligus pemimpin Negara Vatikan itu. Pasalnya, menurut data Food and Agriculture Organization of United Nations  (FAO), ada 870 jiwa di dunia yang menderita kelaparan dan 2 miliar yang mengalami gizi buruk. Sementara itu, di sisi yang lain, sekitar 1,3 miliar metrik ton makanan atau setara dengan sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia, dibuang setiap tahunnya.
Akhirnya, doa orang lapar, gizi buruk dari pinggiran rel, kolong jembatan, emperan toko, dll untuk orang kaya dan yang berlagak kaya, yang suka membuang-buang makanan: Dear Tuhan, untuk saudara/i kami orang kaya dan yang berlagak kaya yang kerap merampas makanan dari piring kami, kami memberitahukan di sini kami lapar, di sana kamu membuang-buang makanan. Anda makan dengan sopan, tanpa membuang-buangnya, kami pun segan! ***
Rian Safio. Tulisan ini hanya sebuah kegelisahan penulis ketika menjumpai fakta banyaknya makanan yang dibuang begitu saja dan saat bersamaan ada banyak orang yang menderita kelaparan.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *