HEADLINE NEWS

Di Bawah Atap yang Bocor, Siswa/i SDK Pongkal Tegar Mengibar Asa


Salah seorang guru SDK Pongkal sedang mendampingi anak-anak. Anak-anak tampak ceria di bawah gedung yang atapnya bocor dan dinding-dindingnya kusam dan bolong. Foto:Hans Palen/Tiffanews.
Terasvita.com – Sekolah Dasar Katolik (SDK) Pongkal terletak nun jauh di Desa Wontong, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Panti pendidikan ini berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Umat Katolik Manggarai (Yayasan Sukma), yayasan pendidikan milik Keuskupan Dioses Ruteng.
Catatan di laman  dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id,  sekolah ini mulai beroperasi pada setengah abad lebih yang lalu, tepatnya pada 1 Agustus 1954. Sementara itu, Surat Keputusan Pendiriannya berlangsung tiga tahun kemudian, yaitu pada 21 Januari 1957.
Berada jauh dari pusat kekuasaan, baik daerah maupun (apalagi) pusat, membuat sekolah ini seperti ditelantarkan. Tak banyak diperhatikan oleh pemerintah. Hanya mengandalkan tekad kuat dari kepala sekolah, para guru, orang tua murid, dan terutama siswa/i sendiri. 
Yayasan yang memayunginya  pun tak banyak berbuat, untuk tidak mengatakan tidak berkontribusi sama sekali.Yayasan banyak "absennya" dalam upaya "merawat nadi" sekolah tersebut. Entah di sekolah-sekolah dasar Katolik yang lain. Belum ada penelitian yang memadai.
Asa di Bawah Atap yang Bocor
Laporan jurnalis Tiffanews, Hans Palen, Selasa 4 Februari 2020, gedung-gedung di sekolah itu sudah semakin usang. Atapnya bocor. Dindingnya bolong-bolong. Ketika hujan, rinai tanpa ampun masuk melalui celah-celah yang bocor itu, menggenangi ruangan kelas tempat anak-anak belajar dan guru-guru mengajar.
Selain itu, meja dan kursi pun tak cukup. Banyak kurangnya. Yang  ada pun, tidak dalam kondisi yang utuh. Ada meja yang kakinya miring. Demikian pula kursi atau bangku panjang. Ada yang patah dan miring. Anak-anak harus duduk berhimpit-himpitan.
Namun demikian, di tengah keterbatasan fasilitas itu, anak-anak di sekolah tersebut masih semangat menimba ilmu. Masih bisa tersenyum, walaupun mereka sebenarnya mengharapkan, kalau boleh mereka juga menikmati fasilitas yang sama seperti dialami anak-anak seusia mereka di kota-kota di negeri ini (bdk. Sila Keadilan Sosial).
Nelson Mandela, tokoh revolusioner  yang menentang apartheid di Afrika Selatan, mengatakan, "Education is the most powerfull weapon to change the world/Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia." Ya. Jalan pembebasan itu "memang" melalui jalur pendidikan.  
Anak-anak yang merajut masa depan di SDK Pongkal sadar, yang mengubah mereka agar menjadi “orang” di kemudian hari, adalah pendidikan. Barangkali ada jalan lain, tetapi yang terjangkau dan ada di depan “pintu rumah” mereka adalah sekolah.
Itulah yang terbaca jelas dari senyum yang tersungging anggun di bibir anak-anak negeri di SDK Pongkal, nun jauh di Flores sana. Di bawah atap yang bocor, seraya mengharapkan keberpihakan dan sentuhan pemerintah, mereka merawat asa agar kelak menjadi “orang”.
Mendesak “Sentuhan” Pemerintah
Stefanus Palen yang menahkodai "kapal besar" yang bernama SDK Pongkal itu berharap pemerintah, baik daerah maupun pusat, agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan fasilitas di sekolah itu. Tanpa sentuhan serius dari pemerintah, maka di tahun-tahun yang akan datang lembaga itu berjibaku dengan soal yang sama.
“Kita berharap pemerintah baik kabupaten,  provinsi dan pusat jeli melihat keberadaan SDK Pongkal ini yang mana dari sisi sarana dan prasarana baik gedung sekolah maupun sarana penunjang masih jauh dari harapan dan butuh sentuhan lebih dari pemerintah saat ini,” ungkapnya seperti dilansir Tiffanews.
Selain itu, tambah Pak Step, sapaannya, di sekolah yang dinahkodainya itu masih mengalami kekurangan guru. Guru-guru yang ada di situ banyak yang berstatus Guru Komite dengan gaji yang jauh di bawah standar kelayakan. Oleh karena itu, pemerintah, harapnya, mesti mengangkat guru-guru komite itu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). 
Rian Safio, tinggal di JakartaTulisan ini diolah dari reportase jurnalis tiffanews, Hans Palen, dengan judul:"Tak Masuk Kategori Sekolah Terpencil, SDK Pongkal Butuh Perhatian Pemerintah".

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *