HEADLINE NEWS

Catatan Seorang Biarawan untuk yang Sedang di Depan "Gadget"

Foto: dokumen pribadi
Terasvita– Ini hanya sebuah catatan lepas. Tidak dalam kapasitas menggurui atau menceramahi. Tidak juga untuk “gagah-gagahan”.  Betul-betul sebuah catatan lepas. Tidak lebih. Pas. Tentu saja boleh diabaikan, tetapi baik juga juga kalau dipikirkan dengan serius, sambil ngopi atau apalah.
Begini: Kita hidup di zaman “maju” yang ditandai dengan, salah satunya, kemunculan teknologi super canggih di bidang komunikasi dan informasi. Dalam banyak aspek kehidupan, kemajuan itu menuntut kita untuk meninggal sarana dan prasarana juga gaya-cara hidup yang konvesional, jadul, dan primitif. Kita "dipaksakan" untuk hidup selaras zaman atau kalau tidak kita dilindas kemajuan itu.
Pada tataran yang positif, kemajuan itu memudahkan kita dalam banyak hal:  komunikasi, bisnis, dll. Sebagai contoh sederhana, ketika kita ingin makan sasi goreng, kita tidak harus keluar dari kamar. Kita bisa pesan via grabfood, dan aplikasi sejenisnya; ketika kita ingin mengetahui indahnya kota Paris, Perancis, kita tidak harus ke Paris. Dengan duduk di kamar kemudian searching saja di google, di hadapan kita tersaji informasi yang lautan banyaknya tentang kota Paris, audio, visual, dan audio-visual.
Lantas, pertanyaannya yang muncul kemudian adalah: Apakah aneka kemajuan itu sungguh membantu kita menjadi semakin manusiawi? Pertanyaan ini mungkin sederhana, namun tidak begitu mudah untuk dijawab. Setiap orang punya jawaban-jawaban masing-masing. Mudah-mudahan!
Akan tetapi, tidaklah berlebihan kalau kita harus mengakui bahwa aneka kemajuan itu juga mengikis nilai-nilai yang seharusnya mendasari cara berada kita sebagai manusia. Kita tergerus atau bahkan terlindas oleh kemajuan itu; kita menjadi budak darinya.
Kemajuan itu secara pasti membentuk “gaya hidup” baru dalam diri kita, yakni kita menjauh realitas konkret di sekitar. Kita terasing dari ruang dan waktu riil hidup kita. Tidak terlalu sulit untuk membuktikannya: setiap hari hati kita membaca informasi dan menonton berita tentang banyak orang  kelaparan yang diabaikan, yang kehilangan tempat tinggal hidup terlunta-lunta di pinggi jalan tanpa ada sapaan, anak-anak yang asyik dengan dunianya sendiri tanpa ada orangtua yang mengarahkan, dll.
Rasa-rasanya hampir tidak ada hati yang peduli; yang mengulurkan tangan kasih untuk pengemis yang lapar, penghiburan bagi yang dirundung duka, yang memberikan pengharapan yang mengalami kecemasan, tumpangan untuk yang mengungsi, kunjungan untuk yang sakit.
Di hadapan muka kita melalui tangkapan layar gadget yang kita miliki hanyalah kemewahan, keindahan, euforia, tertawa-tawa, dll. Hampir jarang kita menjumpai wajah yang lebam, wajah yang lapar, wajah yang cemas, wajah yang “karam” terlindas karang ketidakadilan, dan lain-lain.
Hemat kami, hal ini kita menemukan akarnya pada kurangnya sentuhan langsung dengan realitas yang ada di sekitar kita. Kehadiran gadjet menggerus ruang perjumpaan konkret kita dengan yang lain (the others). Seperti ketika kita ingin makan nasi goreng, kita tidak harus keluar dari kamar, kita pesan saja  lewat online. Akibatnya, kita kehilangan kesempatan untuk menjumpai bocah yang mengemis demi sesuap nasi untuk malam itu saja, dll.
Pada tataran ini; pertanyaan apakah kemajuan khususnya gadjet ini membuat kita semakin manusiawi, harus ditangguhkan untuk dijawab. Mengapa? Karena kita semakin bertumbuh semakin manusiawi (hanya) melalui perjumpaan dengan yang lain, tanpa perjumpaan yang konkret tidak mungkin ada peduli dan bela rasa dengan yang lain. Dalam dan melalui kepedulian dan bela rasa itulah bukti bahwa kita bertumbuh semakin manusiawi.
Sdr. Abril Dosantos OFM - Biarawan Fransiskan- Fundasi Antonio de Lisboa,  Tim-Tim Timor Lorosae. Sedang menjalani tahun pastoral di Ekopastoral Fransiskan, Pagal-Flores.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *