HEADLINE NEWS

Senja dan Rindu untuk Talang Perindu

Gambar: https://suarapapua.com
Terasvita.com - Angin senja berhembus pelan. Sentuhannya mengalun sendu di antara bunga yang bermekaran di taman kota ini. Ia sengaja menyapaku dan menerpa sepi yang kuseduh di cangkir kopi buatan ibu pemilik kosku.
Tentang "kecanduanku" pada kopi mungkin tak ada duanya lagi. Kopi bagaikan sahabat setia yang menawarkan sepiku. Begitulah aku.  Caraku merayakan sepi, di banyak kesempatan, hanya dengan kopi. Apalagi, kalau mencicipinya di ujung senja: serasa tak ada yang lain, selain aku dan... (apa saja).
Demikian pun rindu. Ia terus menemani kesendirian yang sedang kupeluk erat. Burung kenari bersiul lembut di atas kepala. Sementara itu, aroma kopi serta sentuhan  angin sore berhasil membawaku pada rindu yang terdalam.
Aku merindukan kampung halamanku, talang perindu. Pada senja yang kesekiaan di bawah langit kota ini, segudang kisah di  talang perindu itu memanggil pulang.
Aku sendiri di sini dan kini: mengais kepingan rindu yang bersemayam di langit-langit senja. Jiwaku melayang jauh di sudut-sudut waktu kala masih sebagai bocah di talang perindu. Kepingan kisah kasih di sana mengekal dalam kenangan.
Sekarang, aku di kota ini. Jauh dari talang perindu itu. Aku sadar,  kota ini tak butuh jiwa yang lemah dan raga yang rapuh mematung dalam rindu akan yang lalu dan mungkin tak pernah terulang kembali. Tetapi, aku tak bisa mengingkari, yang lalu selalu mengundang rindu. Tak bisa diabaikan begitu saja, selain harus merengkuhnya dalam hati yang nanar.
Aku memilih menulisnya. Karena, kutahu bahwa rindu yang menderu hanya bisa dijinakkan dengan tangan yang menari membentuk gugusan kata-kata dalam rangkaian kalimat-kalimat. Tentu saja ada cara lain. Tetapi,  aku memilih menulis.
Begini. Di talang perindu itu kujumpai keramahan orang-orang desa nan sederhana. Kurasakan kehangatan dekapan kasih dari orang-orang terkasih. Kala senja tiba dan rinai mengguyur, aku dan mereka bersimpuh di sekitar sapo (tungku api) menikmati jagung bakar,  ubi bakar, kopi,  dll.
Kutemukan keindahan dan kedamaian di sekitar sapo yang kumal itu. Sekarang aku berpikir, apalagi yang dicari kalau sudah menjumpai keindahan dan kedamaian itu? Mengapa harus lari dari kenyataan indah dan damai itu dan malah "tersesat" di kota ini?
Aku tak mau menjawab pertanyaan  itu. Hanya, di atas kota tua ini, aku (harus)  menjahit kembali batin yang robek.  Dalam Sunyi. Dalam Sepi. Aku tak peduli. Keindahan senja di kota ini tak seindah senja di kampung halamanku. Di sana, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Di sana, ari-ariku dikuburkan. Di sana lebih indah.
Andai saja jarum sejarah bisa diputar kembali ke masa-masa itu, aku ingin menikmatinya sesempurna mungkin. Karena, aku tahu,  suasana itu tak pernah terjadi kembali di kota ini.
Hanya saja perjalananku masih panjang dan perjuangan pun belum usai. Dan, aku masih terus berkelana di kota ini, mencari dan menemukan aneka  mutiara untuk hari esok agar keindahan  talang perindu disempurnakan oleh mutiara-mutiara indah dari perjuanganku di kota ini, Kota Pahlawan.
Kuakhiri senjaku yang menawan. Padamu, kopiku, yang selalu setia menemani setiap sepiku, kutitipkan  rindu ini pada dia dan mereka yang pantas dirindukan. Di pundak petangmu, kutitip rindu pada setapak kasih dan kisah di kampung halaman,  talang perindu.
Salam hangat dariku, perempuan penyeduh kopi: Indra Gamur. 



Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *