HEADLINE NEWS

Semakin Mengindonesia di Jalan Politik

 Gambar: ilustrasi 
Terasvita - Politik merupakan dimensi hakiki dari hidup manusia sebagai makhluk yang tidak bisa tidak berada bersama yang lain (zoon politicon). Oleh karena itu, orang tidak bisa lari dari politik. Dia harus terlibat baik dalam politik praktis (kekuasaan) maupun dalam politik kebangsaan.
Buku “Politik Katolik dan Kaderisasi Kebangsaan: Gugat Nyali Membangsa dengan Membumikan Ajaran Sosial Gereja” menggugat identitas itu. Terutama bagi orang-orang yang dengan sadar memilih beriman secara Katolik di Indonesia untuk berani menceburkan diri di kolam keruh politik (bab II).
Mandat injili (bdk. Matius 22:21) yang secara eksplisit dan implisit dalam ajaran-ajaran sosial Gereja, seperti Rerum Novarum, Gaudium et Spes, Pacem in Terris, Populorum Progressio, dll, menegaskan perihal tersebut.  Bahwasanya, orang-orang Katolik harus merasul di kolam politik, bukan untuk gagah-gagahan dan mengumpulkan pundi-pundi uang, melainkan untuk mengupayakan secara konsisten dan konsekuen kesejahteraan bersama (bab III).
Lantas, dalam rangka mewujudkan mandat injili itu, Ansel  Alaman-penulis buku yang diterbitkan  Penerbit OBOR, mengajukan pola untuk kaderisasi awam-awam Katolik untuk menjadi manusia politik yang Katolik sekaligus yang Indonesia di kancah politik (bab IV).
Ignatius Kardinal Suharyo dalam sambutannya di buku setebal 328 halaman itu,  mengaku senang dengan pola garapan penulis.
“Saya senang mengikuti pola garapan buku. Ulasan mulai dengan mendalami beberapa dokumen Konsili vatikan II dan belasan Ajaran Sosial Gereja…Sesudah itu, masalah dikaji dalam perspektif pemikiran politik klasik hingga kontemporer, serta diakhiri dengan usulan modul dan proses kaderisasi, mempersiapkan tugas kerasulan awam baik melalui jabatan publik di legislatif dan eksekutif maupun dunia usaha dan civil society.”
Akhirnya, buku ini layak dibaca oleh semua orang terutama orang-orang Katolik di Indonesia. Dengannya, orang-orang Katolik semakin tercerahkan perihal dimensi politis dari keberadaannya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain itu, buku ini dapat menjadi sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam membangun persaudaraan lintas iman dan menjadi salah satu pegangan bagi para pendamping kerasulan awam.
Rian Safio - versi cetak tulisan ini dipublikasikan di HIDUP 03, Tahun ke-74, 19 Januari 2020.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *