HEADLINE NEWS

Orang Kecil dan Sederhana Itu Akrab Disapa Umi

Ia setia mengisi tanah dalam  potongan kemasan aqua gelas. Satu per satu. Dari pagi sampai petang. Setiap hari. Dan, sudah sekian tahun. Salut. Gambar: ilustrasi.

Terasvita - Sepanjang Juli 2015, saya live in di Yayasan Bina Sarana Bakti, Cisarua-Jawa Barat. Adapun tempat tersebut merupakan tempat pengembangan pertanian organik. Produk ungulan di tempat berhawa dingin itu adalah sayur-sayuran. Yayasan itu dibangun oleh seorang misionaris fransiskan Capusin asal Swiss. Agatho demikian nama sang fundator.

Saya tidak sendirian. Ada dua orang lain lagi, yakni Sdr. Joan Udu OFM dan Sdr Iki Santrio OFM. Mereka adalah saudara seperjalanan dalam panggilan ketika nama saya masih ada “embe-embel” o-ef-em di belakangnya.

Ke tempat tersebut tidak sepenuhnya atas inisiatif pribadi. Kalau boleh jujur, kami ke sana terutama karena program formasi menjadi saudara dina. Kami diminta untuk merasakan kegetiran sebagai orang kecil (baca: petani) dan belajar “kedinaan” dari mereka.

Meskipun “sebuah program formasi”-dalam arti tertentu sebuah kewajiban- kami toh dengan sukacita tinggal di tempat tersebut, Sebulan di tempat itu, rasa-rasanya lebih banyak tertawa daripada tangis, lebih banyak syukur daripada mengeluh. Lebih-lebih Sdr. Iki Santrio. Bahkan, di bawah terik matahari dan dengan keringat yang menganak sungai pun, ia masih bernyanyi “Di sini senang, di sana senang”. Hehehe...

Teladan Orang Kecil Bernama Umi

Di yayasan itu kami menjumpai banyak wajah. Muda dan tua. Gelap dan cerah. Bulat dan oval. Kering dan segar. Ramah dan lugu.Juga mejumpai banyak orang dengan beragam latar keyakinan. Islam. Kristen. Budha. Katolik. Singkat kata, kami menjumpai dan dijumpai banyak orang, kebiasaan, tempat, suasana, jenis makanan, dll.

Di antara yang banyak itu, ada seorang yang wajahnya mengundang saya merenung dan memikir ulang cara saya merawat kesetiaan dengan tugas. Saya diundang untuk belajar dari padanya dan untuk itulah saya ke sana. Wajah itu sudah tua. Kriput. Dan tidak untuk jatuh cinta erotis.

Umi, demikian pemilik wajah itu disapa. Ia menggawangi bagian persemaian benih dan pembibitan kebun sayur Yayasan Bina Sarana Bakti, Blok A. Ia setia mengisi tanah dalam  potongan kemasan aqua gelas. Satu per satu. Dari pagi sampai petang. Setiap hari. Dan, sudah sekian tahun. Salut.

Ia sudah berumur 70-an tahun. “Saya senang mah. Setiap hari begini adja,” tuturnya ketika ditanya soal perasaannya melalui hari-hari hidup di situ. Entah. Apakah sesungguhnya seperti itu jalan hidupnya atau karena dia tidak punya akses untuk pilihan yang lain.

Akan tetapi, pun alasannya karena tidak punya pilihan lain, tentang kesetiaannya, saya kagum dan belajar darinya. Terutama ketika akhirnya saya terjun di dunia kerja, walaupun bentuk kerja berbeda, saya berjumpa dengan orang-orang yang puluhan tahun menekuni pekerjaan yang sama. Itu-itu saja dari waktu ke waktu. Ada kebosanan, tetapi mereka bertahan.

Saban waktu, ketika jam istirahat makan siang, kami bercerita dengannya. Tentang keluarga. Tentang pekerjaannya. Tentang masa mudanya. Juga, tentang pilihan hidup yang kami pilih. Ia heran dan bingung. “Kok nggak mau merasakan surganya dunia,” celetuknya di suatu siang. Entah. )***

Rian Safio//terasvita

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *