Tahun Baru dan Tuhan yang Selalu Menyertai

Gambar: ist. 

Terasvita.com - Kita di pengujung tahun 2020. Dalam hitungan jam kita akan sampai pada samudera luas bernama 2021. Kita akan mengucapkan selamat tinggal 2020 dan selamat datang di 2021 dengan segala keniscayaan dan kemungkinan yang akan terjadi.

Kembang api mewarnai setiap momen pergantian tahun. Atau, anak kampung seperti penulis, momen pergantian tahun diwarnai dengan dentuman menggelegar "meriam bambu". Nggak tahu tahun ini pada malam nanti.  Pasalnya, virus corona masih menjadi momok untuk kita ''kumpul-kumpul'' seperti pada tahun yang ''sudah-sudah".

Hari-hari yang biasanya khusuk dengan pekerjaan, belajar, dan aneka kesibukan lain sejenak berhenti dan "mengambil napas" untuk sebentar masuk dalam euforia menyambut tahun yang baru, terlepas apa kegiatan yang kita pilih: Bakar-bakarkah? Minum-minumkah? Atau: doa bersama lalu mengungkapkan resolusi masing-masing untuk tahun yang akan segera kita rengkuh itu?

Di samping euforia, kita "menyepi" sebentar untuk berjumpa dengan diri sendiri dan Tuhan yang kita imani. Soal tempat bisa di mana saja. Mungkin di rumah. Mungkin pula di tempat kerja. Mungking pula di pelataran rumah Tuhan. Mungkin di balik dinding kamar. Mungkin di tempat pembuangan sampah. Di mana saja. Toh Tuhan itu omni present, hadir di mana-mana.

Di sana terjadi dialog, bercakap-cakap, tanya jawab, dan bahkan perdebatan sengit. Tentang banyak hal di tahun yang lalu dan yang kita harapkan terjadi di tahun yang akan datang dalam segala kemewahannya: Apa dan siapa di balik keteguhan kita menerobos belantara kehidupan ini? Siapa yang mendorong kita sehingga kita mampu mengarungi samudera kemungkinan hidup ini? Bagaimana kita dalam kerapuhan dan kelemahan kita, membelah angkasa keniscayaan di 2021?

Kita melihat diri kita di tahun yang akan segera berlalu itu: Kita yang rapuh, mudah putus asa, mudah marah, money oriented, dll; kita yang dicintai dan mencintai; kita yang telajang dan menelanjangi; kita yang terasing dan mengasingkan; kita yang terluka dan melukai; dll. Juga, kita yang berusaha setia, berusahan hidup jujur, berusaha melakukan yang terbaik, namun kerapuhan insani yang terus berangkulan, akhirnya kita jatuh dalam lembah kekelaman: ketidaksetiaan, ketidakjujuran, keputusasaan, dll.

Namun, melampaui itu semua, di palung hati kita, entah sadar atau setengah sadar, kita menemukan Dia yang tak pernah berhenti mencintai, mengasihi, dan rela turun dari singgasana Kerajaan Surga dan masuk dalam sejarah manusia yang rapuh. Dialah Imanuel, Allah beserta kita (Matius 1:23). Kehadiran-Nya telah dan sedang kita rayakan: Natal.

Senada dengan pesan Injil itu, Paulo Coelho, novelis kondang asal Brasil, dalam "The Winner Stand Alone”, menulis: "Jangan lari, Nak! Kau takkan bisa melarikan diri dalam dua hal paling penting dalam kehidupan setiap manusia: Tuhan dan kematian" (2008: hlm. 60).  Tuhan bermukim di hati setiap kita: pendosa atau orang yang hidup suci. Dia menyertai kita dan selalu membisik tentang kebenaran dalam dan melalui nurani kita, dan atau melalui orang-orang yang hadir dan berjalan bersama kita; dan atau dalam dan melalui saudara dalam keterciptaan kita: angin, hujan, kabut, badai, matahari, air, udara, api, maut, dll (bdk. Fransiskus Assisi, Kidung Saudara Matahari).

Momen tahun baru juga adalah kesempatan kita untuk membuat litani harapan, baik untuk hidup pribadi maupun keluarga, tempat kerja, dll. Kita berharap di tahun yang akan dating kita menjadi semakin manusiawi, keluarga sehat dan bahagia, tempat kerja kita berkembang agar upah semakin naik dan kita bernyanyi, "Semua Bunga Ikut Bernyanyi".

Atau, untuk mereka yang belum mendapatkan pasangan hidup mengharapkan agar mereka segera berjumpa dan menjalin kasih dengan orang yang tepat dan dengan kadar cinta yang berlimpah ruah; masa lajang berakhir dan tidak lagi menjadi, meminjam istilah Chairil Anwar, binatang jalang dari kaum terbuang.

Harapan-harapan itu bukanlah sebuah kenaifan, seperti cerita Si Cebol yang merindukan bulan. Akan tetapi, kita menemukan dasar dari harapan-harapan itu, sekali lagi, pada iman kita akan Imanuel, Tuhan berserta kita, yang kita rayakan dalam perayaan Natal sepekan lalu.

Tentang Tuhan yang setia menyertai itu, Pemazmur menyatakan kekagumannya. "Ya Tuhan, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia sehingga engkau memperhitungkannya? Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat (Mzm. 144:3-4).

Hanya saja, cara kerja rahmat Tuhan itu selalu mensyaratkan usaha-usaha manusiawi kita; Tuhan tidak menciptakan kita seperti arloji yang berjalan secara mekanik, tetapi Ia menciptakan kita dengan akal budi dan kehendak, bahkan di hadapan kebebasan kita, Allah (hanya) berharap kita memilih keselamatan bukan kutuk (bdk. Adrianus Sunarko OFM, 2013).

Dengan demikian, agar harapan-harapan kita sungguh menjadi peristiwa dalam kehidupan kita di tahun yang mendatang, kita mesti kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama. Tak cukup hanya dengan khusuk berdoa, lalu lupa kerja. Juga bukan pula memilih ekstrem lain,yaitu  kita terus bekerja bag mesin raksasa lalu lupa berdoa. Kita mesti, seperti kata pepatah tua, berdoa dan bekerja, bukan bekerja atau berdoa? Apalagi kalau dua-duanya tidak dilakukan sama sekali: kita akan menjadi benalu bagi yang lain.

Rian Safio

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel