HEADLINE NEWS

SMP ST. Markus Pateng: Catatan Rindu dari Kota Pahlawan

Ilustrasi: http://www.jurnalistiwa.co.id 
Terasvita. com - Pateng, tempat penuh kenangan. Pagi itu, embun masih enggan bertebaran di halaman asrama, pastoran, juga gereja. Lonceng gereja sudah dua kali berbunyi pertanda Misa pagi dimulai. Tepat pukul 04.00 aku masih memeluk dingin dengan selimut yang kian kusut.
Suara teriak dari Kaka Pembina terdengar kencang. "Asrama putri too ga rajin koe,  saya hitung satu sampe tiga, toe too tong siram le wae," suaranya memecah keheningan pagi yang dingin. Di saat bersamaaan aksi nggaut (menggerutu) pun keluar: "Enak kalau nanti pembina asrama diganti."
Waktu berjalan  seiring detak jarum jam. Jam sekolah pun dimulai. Kadang-kadang, bersama beberapa  teman,  aku tidak sarapan meskipun di ruang makan telah tersaji makanan yang ala kadarnya: nasi putih dengan lauk ikan tengiri. Bagi kami kala itu, hidangan tersebut paling enak. Mewah.
Karena takut telat masuk kelas, sajian yang istimewa dan "mewah" di ruang itu pun diabaikan. Tak apalah. Kalau dipikir-pikir sekarang,  ternyata itu kesempatan untuk melatih "lambung" ketika kemudian berada di perantauan.
Aku dan  SMP St. Markus Pateng
Pateng itu istimewa  dalam ziarah perjuanganku.  Namanya tercatat abadi dan tak pernah lekang oleh waktu. St. Markus Pateng adalah tempat segala kisah kasih terurai dengan sangat indah dan dikenang sepanjang waktuku.
Aku terbuai dan bahkan jatuh cinta berkali-kali setiap kali aku menyeruput kopi panas sambil menulis ini. Teringat kembali masa-masa itu.  Rasanya ingin kembali ke sana. Namun, itu hanya sebuah asa yang susah untuk menjadi kenyataan  saat ini.
Mengenang Pateng adalah mengenang "orang-orang" yang setia merawat lembaga sekolah itu.  Pa Mons Lagam selaku guru matematika yang cukup disegani oleh banyak murid. Cara mengajar pria berkumis itu tak jarang membuat jantung dan  hati berdetak tidak normal. Hahaha... apalagi kalau dia mengenakan kaca mata, dengan tajam dia melihat siapa paling ndenget ketika ditanya rumus pytagoras. (Pa Mons... jika Bapak baca ini ..seribu maaf pak. Kutahu tulisan ini membuat bapak sedikit geram tapi aku akui Bapak baik hati..Uuppps pa...itu romantis sekali....hahaha saya suka... cara Pa Mons (calon mertua idaman) modus pak kan rumus juga itu kan ya pa haha).
Selain nama sang legenda (Pak Mons-red), ada nama-nama lain, seperti Pak Paul, Pak Gius, Pak Vallen, Pak Linus,  Pak Yon, Ibu Susti, Mama Mery, Ibu Ellin, Pak Quin, Pak Sales, dan Pak Simon. Mereka telah memahat berlaksa-laksa pengetahuan juga nilai-nilai  bagi semua yang pernah belajar di sana: aku dan semua. Sekuntum mawar rindu untukmu semua.
Di batas kota tua ini, di bawah terik panas matahari, persis di trotoar kota yang sudah lepuh oleh waktu, aku menulis ini dengan rindu begitu dalam serta merengkuh kejamnya jarak.
Bersama senja yang mau tenggelam dan di cangkir kopi ini aku pamit dari catatan rindu ini. Masih banyak yang ingin kutulis tentang senja dan sejuknya Pateng. Teruntukmu semua, salam hangat dari Kota Pahlawan,  Surabaya .
Indra Gamur, alumna SMP dan SMA St. Markus Pateng. Dikenal sebagai Perempuan penyeduh kopi.





Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *