HEADLINE NEWS

Jangan Ganggu Dulu! Tanta Bidan Lagi Tidur Siang

Gambar: bali.tribunnews.com
Terasvita.com - "Jangan ganggu dulu!  Tanta Bidan lagi tidur siang." Kalimat ini masih terngiang-ngiang di ingatan Pento. Ia seorang anak desa yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang jauh dari kata maju kala itu, belasan tahun lalu. Orangtuanya hanyalah petani sederhana yang jauh dari kata sejahtera.
Memang, peristiwa itu terjadi hampir dua dekade yang lalu. Tetapi, begitulah. Bukan sepenuhnya kesalahan Pento untuk selalu mengingat-ingat lalu menuangkannya pada "kawah" ini tentang peristiwa di siang bolong itu. Barangkali ia terlalu lemah untuk melupakan kisah itu ataukah kisah itu terlalu kuat menggores kenangan di ingatan Pento. Entah.
Ceritanya begini: Hari itu Pento sakit. Deman menggerogoti tubuh mungilnya. Dekil-dekil debu terpampang awet di kulit kusamnya. Ibu Theresia yang merahimi dan membesarkannnya tak tega membiarkan anaknya itu terus-terusan menderita demam. Ia pun memutuskan  membawa anaknya ke Puskesmas Pembantu  (Pustu).
Sang Bunda tak sempat menghitung dengan cermat berapa "ringgi" yang biasa ia sembunyikan dalam Alkitab. Baginya, yang penting Pento lekas sembuh dan kembali bermain ria dengan teman-temannya, juga adiknya yang belum mengenal baca-tulis kala itu. Entong demikian nama sang adik.
Jarak antara rumah Pento dan Pustu lumayan jauh, sekitar belasan kilometer. Itu pun melewati jalan yang terjal, tanpa alas kaki. Kasih ibu memang begitu: sepanjang jalan (baca: pribahasa "Kasih anak sepanjang galah,  kasih ibu sepanjang jalan").
Mereka tiba di Pustu sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Tak banyak orang yang ada di situ. Pasien lain pun tidak ada. Maklum... jam-jam seperti itu, orang-orang sedang di kebun berjibaku mencari nafkah yang kadang tidak menentu ada atau tidak. Di bale-bale dapur Pustu hanya ada Merry, seorang gadis yang bekerja sebagai  Pembantu Rumah Tangga (PRT)  di Pustu tersebut.
Ketika hendak berobat, kepada Pento dan ibunya, Merry mengatakan, "Jangan ganggu dulu. Tanta Bidan lagi tidur siang." Merry memang seperti itu. Selain pekerja rumah tangga, ia sekaligus juru bicara dari Tanta Bidan. Yang ia katakan bukanlah "karang-karangnya sendiri", melainkan begitulah pesan dari Tanta Bidan.
Pento dan Ibu Theresia hanya mengangguk.Tak ada protes. Selain hanya menanti sampai Tanta Bidan bangun dari tidurnya. Karena begitulah kebiasaan di "itu Pustu": Selagi Tanta Bidan tidur siang tidak boleh ada yang ganggu. Bahkan, sudah terpolakan cara pandang dan berpikir masayarakat: Masyarakat adalah rakyat jelata dan "para pegawai pemerintahan" adalah elite. Jarak antara lapisan itu jauh.
Sementara itu, Pento terus merintih. Badannya menggigil.Sang ibu terus mengelus kepalanya. Sesekali menghiburnya dengan akan membelinya "sebombon sugus" di kios Om Nel, satu-satunya kios dekat Pustu itu.
Dua jam mereka menunggu. Akhirnya, Tanta Bidan, satu-satunya tenaga kesehatan   di desa itu, bangun. Dia menyapa Ibu Theresia dan Pento seadanya. Lalu, ia menyuntik Pento. Kepada Ibu Theresia ia memberi obat untuk Pento minum di rumah. Tak tampak bahwa ia melayani dengan senang hati. Mukanya asam. Kecut. Pento merekamnya dengan baik. Dan, kisahnya sampai di situ.
Barangkali Soal Mental
Tentu saja seratus persen cerita ini tentu tidak mengenakkan. Karena, tampaknya mengeneralisasi peristiwa terbatas itu untuk sebuah kesimpulan seolah-olah untuk mereka yang berprofesi bidan. Terutama bagi mereka, para bidan di sudut-sudut negeri yang membaktikan  diri secara total bagi masyarakat; mereka yang berpeluh-peluh dan tanpa mengeluh soal uang,  fasilitas,  dll.
Narasi ini tidak untuk  mereka itu. Untuk mereka yang sungguh-sungguh berbakti bagi negeri, boleh angkat topi dan melambungkan pujian setinggi-tingginya. "Mereka-mereka" itu pantas dikenang sebagai pahlawan. Mereka mengabdi di jalan sunyi yang jauh dari ingar bingar pemberitaan.
Narasi sederhana ini hanyalah sekelumit "kegerahan" terhadap cara bidan di sebuah pelosok negeri yang jauh dari keramaian kota kala itu. Selain sederhana,  narasi ini juga amat terbatas untuk dijadikan barometer untuk menilai kinerja para "tabib" di seantero  Nusantara. Tetapi, toh harus diceritakan. Sebab, ada resonansi yang sama di banyak tempat di Nusantara walau tidak semua.
Lalu,  di mana letak soal? Mari dan lihatlah: Tiga puluh dua tahun (1966-1998) Soeharto memimpin negeri ini adalah sebuah periode panjang yang melelahkan juga menyengsarakan rakyat akar rumput. Negara mengalami "kebangkrutan" di segala sendi baik kekayaan alam maupun mental elite yang mengurusi administrasi keadilan  sosial di negeri ini. Feodalisme semakin kuat dan "mewabah" hampir di seluruh instansi pemerintah dari pusat hingga  daerah (bdk. D. Bismoko Mahamboro, "Keterlibatan Sosial dan Pengembangan Ekonomi, hlm. 54-89" dalam: Leo Samosir (ed), Gereja yang Adalah Ragi, 2019, hlm. 63).
Mental feodalisme ini sebenarnya warisan kolonial Belanda yang membentuk patronase politik untuk mengamankan agenda mereka (EM Sese Tolo, Basis No.11-12, Tahun ke-68: 31). Elite-elite kampung mendapat perlakuan istimewa dan akses pendidikan lebih terbuka dibandingkan dengan rakyat kebanyakan. Akibatnya, yang menduduki kursi pegawai negeri sipil yang mensyaratkan berijazah pascakemerdekaan adalah kaum pribumi, antek-antek kolonial yang sudah terbiasa dilayani dan disembah (Tolo, Ibid).
Para abdi negara alias pegawai negeri sipil perlahan-lahan bertabiat sebagai "bos". Tak terkecuali pegawai-pegawai di desa-desa. Mereka berlagak bos yang harus disembah oleh rakyat. Praktik nepotisme marak terjadi. Kalau punya hubungan kekerabatan selalu dilayani lebih dahulu. Budaya antre dibuang jauh.
Selain itu, spirit melayani hampir jarang ditemukan. Bagaikan mencari jarum yang patah. Masyarakat harus menyodorkan  uang di bawah meja baru dilayani. Kalau tidak, jangan harap dilayani. Kalaupun dilayani, baru setelah lama menunggu. Ribet dan ruwet.
Birokrasi yang Melayani dan Memberi Lebih
Peristiwa belasan tahun lalu itu memahatkan mimpi di relung hati Pento. Feodalisme atau bosisme lokal (Baca: Boni Hargens "Bosisme Lokal dan Pergeseran Sumber Kekuasaan di Manggarai" dalam  Boni Hargens. ed., Kebuntuan Demokrasi Lokal di Indonesia: 2009) yang mewabah dan meracuni birokrasi harus segera diakhiri.
Jabatan  apa pun dalam masyarakat dan struktur  birokrasi bukanlah takhta agar dilayani, melainkan medan atau panggung  untuk melayani. "Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani" (Matius 20:28). Spirit pelayanan harus menjadi "roh" dari bentangan karya para pegawai baik tingkat desa sampai tingkat pusat di seluruh Tanah Air.
Wacana reformasi birokrasi yang digaungkan rezim Jokowi di negeri ini mestinya bukan hanya soal perampingan jumlah dan struktur, tetapi juga harus menyentuh spirit dari cara kerja mereka: Bahwasanya mereka adalah pelayan masyarakat. Karena mereka hidup dari pajak rakyat. Rakyat adalah tuan.
Di zaman teknologi canggih seperti sekarang, spirit melayani itu mesti disentuh dengan kemajuan teknologi. Dengan demikian, pelayanan terhadap masyarakat semakin optimal. Sejatinya, tak ada lagi cerita "Tanta Bidan" yang mengabaikan pasien hanya karena ingin tidur siang. Orang sakit butuh pelayanan segera dan penuh keramahan. )***
Catatan: 1. Kisah Pento ini adalah kisah nyata dan dinarasikan oleh Rian Safio. Hanya saja nama-nama yang disebut bukanlah nama sebenarnya. 2. Soal sapaan "Bidan", kala itu di kampung halaman Pento hanya dikenal dua sebutan ini: mantri (petugas kesehatan laki-laki) dan bidan (petugas kesehatan perempuan). Tak banyak diketahui  perbedaan antara bidan dan perawat. 3. Ringgi artinya uang dalam kosakata bahasa Manggarai, selain juga biasa dikenal "seng" atau "uwang".

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *