HEADLINE NEWS

HUT Kedua Iluni SMP Pateng: Tentang "Pateng" yang Mempersatukan

Tampak di gambar ini SMPK St. Markus Pateng kokoh berdiri. Sudah puluhan tahun ia mengarungi sejarah. Lingkungannya bersih. Ia sungguh mempesona. Gambar: Grup FB SMPK St. Markus Pateng. 

Terasvita.com -
 Pateng tak sekadar sebuah tempat di mana sebuah panti pendidikan-SMPK St. Markus-berdiri megah dan telah bertahun-tahun merenangi sejarah; sebuah panti pendidikan (Sekolah dan Asrama) yang telah banyak melahirkan generasi handal untuk bangsa dan juga Gereja.
Akan tetapi, Pateng jauh lebih daripada itu. "Talang Perindu" itu telah menjadi saksi sejarah ribuan anak negeri di seputaran Rego, Nggilat, Kajong, dll dalam meniti  masa depannya: pahit dan manis,  tawa dan tangis,  susah dan senang,  bertahan atau "dicedok".
Kisah kasih di sekolah dan di asrama di "Kota Dingin" itu mengekal dalam nubari mereka yang pernah belajar,  dididik, dan dibina di sana. Kisah berinteraksi dengan sesama siswa (belajar dan cinta monyet), dengan para guru, dengan para pembina asrama,  dengan para pemasak di asrama, dan dengan masyarakat sekitar (Pateng,  Kuih,  Pogol,  Paurundang,  dan Sambor) menoktah di nubari.
Ini bukan "karang-karang". Saban waktu penulis cerita ini berjumpa dengan sesama alumnus SMPK Pateng, pengalaman di Pateng-lah menjadi bahan cerita yang merekatkan perjumpaan itu. Tak terkecuali dengan angkatan yang "doeloe-doeloe", zaman tidak enak di "Kota Abadi" itu.
Pendek kata, Pateng selalu dikenang dan dirindukan: suasana dinginnya, makanannya, "orang-orangnya", ritme harian di Asrama, keluarga-keluarga sekitar,  kebiasaan bolos dari asrama, minggu pulang tiap minggu keempat,  dll.
Kenangan Itu "Mempersatukan"
Pengkhotbah mengatakan, "Segala sesuatu di bawah kolong langit ada waktunya..." (bdk. Pengkhotbah 3:1). Demikian hal dengan yang pernah "belajar" di Pateng. Ada saatnya mereka (kami)  ke sana untuk belajar dan ditempa untuk menjadi "semakin manusiawi" dan ada saatnya  pula "pulang" pergi untuk mencari dan menemukan  yang belum ada di Pateng: pengetahuan, lapangan pekerjaan, dll.
Banyak yang pergi dan tidak pernah kembali lagi ke sana,  karena toh memang pergi tidak selamanya untuk kembali, entah karena alasan pekerjaan, jodoh, dan banyak faktor. Namun demikian, ada juga yang kembali ke sana untuk mengabdi sebagai guru,  seperti teman angkatan penulis cerita ini,  yaitu Ibu Albertina Sesaria (Guru Matematika) . Atau nama dan dari angkatan lain,  sejauh info yang kami dapat, seperti Nurti Puspita (Guru Fisika dan Pembina Asrama Putri).
Sekian jauh  dan lama pergi dari "Pateng Manise" itu tak membuat semua kenangan di sana raib ditelan waktu. Juga, almamater yang sampai saat ini tetap berdiri tegar membuat "Pateng dengan segala kisahnya" tetap dikenang, diceritakan, dan dirindukan.
Itulah alasan pada 9 Desemeber 2017 kami membentuk "Ikatan Alumni SMPK Pateng" dan hari ini adalah hari jadinya yang kedua.  Namun,  di dunia nyata tidak begitu bersahabat  untuk membentuk perkumpulan tersebut, karena tempat tinggal yang terpencar-pencar, seperti Jakarta,  Labuan Bajo,  Bali,  Jayapura, Ruteng,  Makasar,  dll. Tetapi, kemajuan teknologi dengan hadirnya  aplikasi Whatsapp melapangkan jalan untuk menampung kerinduan tersebut,  yaitu dengan membuat Grup WA "Ikatan Alumini SMPK Pateng".
Andre Boy dari angkatan 2005 menuturkan, kehadiran grup ikatan alumni tersebut  merupakan wadah untuk saling peduli satu sama lain dan menunjukkan rasa kekeluargaan.
"Di sini kita sudah membuktikan bahwa kita tetap saling peduli satu sama lain dan sudah menunjukkan rasa kekeluargaan di antara kita," tutur Andre,  sapaannya.
Lebih lanjut "Bro Ganteng" asal Sambor yang kini menetap di Bali, berpesan,  grup ikatan alumni ini agar tetap menjaga ikatan dan suasana persaudaraan sebagai sesama mantan anak didikan Pak Mos Lagam,  dkk itu.
Sementara  itu, Redin Umba dari angkatan  yang sama, mengutarakan, perkumpulan  ini mempersatukan  alumni sekolah di ujung utara Kab. Manggarai Barat itu yang terpencar di mana-mana.
"Dengan dibentuknya perkumpulan  alumni dalam grup ini, kita yang mulanya  berpisah dan berpencar selayaknya ledakan kembang api di malam tahun baru, dapat dipersatukan kembali bak ditarik oleh magnet pada paku yang berserakan," ungkap Redin, kini menetap di Ujung Pandang (Makasar).
"Tentunya kita memahami jejak yang ditempuh di akhir perpisahan itu adalah meniti jenjang pendidikan SMA dan selanjutnya ke jenjang perguruan tinggi di tempat yang berbeda," lanjut pria asal Nggilat itu.
Mimpi untuk Almamater
Akhir tahun 2018 yang lalu,  kami sempat berwacana untuk memberikan sesuatu  untuk almamater  tercinta dari "apa yang kami punya".
Sebenarnya, hal itu merupakan hasil dialog singkat Sdr. Ano Blaang  (angkatan 2005) dengan Rm. Alfian Baga,  Pastor Paroki St. Markus, Pateng. Waktu itu,  kami menyepakati untuk menyumbang  buku untuk perpustakaan di Almamater tersebut.
Karena,  sejauh penuturan Ano,  sapaannya, yang kini menetap  di Labuan Bajo, pihak almamater sangat membutuhkan  buku bacaan  dalam rangka menumbuhkembangkan budaya membaca bagi Civitas Akademika SMPK St. Markus Pateng, baik yang kini ada maupun yang akan datang.
Beberapa  kawan sempat melakukan  lobi sana-sini dan menjumpai beberapa  donatur dan komunitas penggerak literasi. Namun,  sayang wacana dan usaha-usaha kecil itu belum  membuahlkan hasil dan seiring waktu terus menguap begitu saja. Semoga lilin harapannya belum sepenuhnya  padam.
Akan tetapi,  kalau mau "omong" bagaimana  sekolah-sekolah swasta khususnya  Sekolah Katolik di Republik  ini dapat menyintas dan berkembang, kekuatan  alumni mendesak dirangkul dan digarap. Beberapa  sekolah swasta Katolik di Ibukota  yang penulis cerita ini amati dan jumpai, sumbangan dari pihak alumni sangatlah besar dan memberikan  sumbangan  berarti bagi sekolah  tersebut.
Harapannya,  Almamater tercinta juga mulai melirik bagaimana  kekuatan alumninya yang tersebar di berbagai  kota dan profesi bisa berkontribusi bagi kemajuan sekolah tersebut. Tentu saja tidak mudah: Membutuhkan  sosok yang bisa menyatukan dan punya  kepedulian akan "rahim" yang pernah mengandungnya selama tiga tahun. Sekian saja. Pateng selalu manise. )***
Rian Safio, alumnus SMPK St. Marku- Pateng, angkatan tahun 2005.


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *